Misalkan Kita di Palestina

>> Thursday, January 8, 2009




Di Palestina hari ini, adakah dinding-dinding yang tertebas peluru juga akan menjawab “tidak” atas pertanyaan: “Adakah celah masuk ke Palestina?”

Sembari menonton sejumlah berita televisi tentang gempuran Israel ke Jalur Gaza, saya terus teringat sebiji puisi yang pernah digubah Goenawan Mohamad perihal kota yang dikoyak kekerasan. Puisi bertajuk “Misalkan Kita di Sarajevo” itu dimulai dengan bait-bait yang lusuh dan muram:

Misalkan kita di Sarajevo, mereka akan mengetuk/ dengan kanon sepucuk,/ dan bertanya, benarkah ke Sarajevo/ ada secelah pintu masuk.// Misalkan kita di Sarajevo: tembok itu,/ dengan luka-luka peluru/ akan bilang “tidak”,/ selepas galau.

Saya gemetar membaca dua bait awal ini: seolah sebuah tempat yang dikoyak kekerasan itu adalah sepetak ruang tertutup yang akan selamanya asing dan sendirian. “Secelah pintu masuk” yang diharapkan bisa membawa orang lain ke gelanggang itu, ternyata sama sekali tidak ada. Adakah memang demikian takdir dari kota yang dikoyak kekerasan—laiknya kota-kota di Jalur Gaza?

Dari media massa kita tahu, di Palestina rata-rata 50 orang meninggal tiap hari. Seperlima dari total manusia yang menemu ajal itu, adalah anak-anak. Ribuan orang terluka, dirawat di rumah sakit yang penuh sesak dengan dokter dan perawat yang kewalahan. Kita semua di Indonesia dan belahan lain bumi, bisa dengan mudah tahu bagaimana kondisi Palestina: berapa korban tiap hari, bagaimana persediaan obat, adakah upaya perundingan damai telah dimulai.

Dengan mudah pula, kita bisa menyaksikan potret-potret para korban dengan darah, bagian tubuh yang remuk, lengkap dengan isak tangis keluarga mereka. Beberapa waktu lalu, misalnya, saya menyaksikan seonggok tubuh bocah tak bernyawa—ia punya wajah tampan, dengan hidung mancung, kulit bersih, dan senyum polos yang tersisa dari kematian—sedang dibopong bapaknya yang tak berhenti menangis. Bapak anak itu meratap dalam Bahasa Arab yang tak saya mengerti. Tapi, saya tahu dengan pasti: kesedihan adalah bahasa paling universal yang tak disekat diksi, bunyi, atau tetek benget linguistik. Tanpa memahami bahasa mereka, kita tahu dan sanggup merasakan trenyuh: aura kesedihan adalah hawa yang akan segera menyebar kepada mereka yang masih dikaruniai perasaan kemanusiaan yang wajar.

Dunia selalu terasa dekat tatkala bencana terjadi. Bahkan sejak ratusan tahun lampau, hal ini tidak berubah. Ketika Gunung Krakatau “meledakkan dunia” pada 1883, misalnya, dunia tiba-tiba menyempit: peralatan telekomunikasi awal berupa telegraf mengangkut informasi ledakan itu ke mana-mana. Kantor Berita Reuters yang tengah merintis jalan perkembangannya juga menyebarkan berita itu ke pelosok-pelosok yang jauh. Beberapa waktu setelah ledakan itu terjadi, para pebisnis di Wallstreet dan Boston telah paham apa itu Krakatau, di mana tempatnya, dan apa saja kerugian yang timbul akibat ledakannya. Mereka yang ribuan kilometer dari Nusantara juga bisa tahu apa itu Jawa dan Sumatera..

Dalam klaim Simon Winchester, ledakan Krakatau adalah simptom pertama dari fenomena penyempitan dunia: pada kondisi itu, bumi menjadi—seperti yang dikatakan Marshal Mc Luhan—sebuah “global village”. ”Dunia yang seakan berjauhan sebelum Krakatau meledak kemudian menjadi sangat sempit setelahnya,” begitu kata Winchester.

Sejak Winchester mengeluarkan pernyataan itu, kita akan mafhum: dunia tak selalu menjadi sempit tapi akan segera terlihat dekat tatkala kesedihan terjadi. Dari tsunami di Aceh dan ribuan bencana lain, kita bisa memahami proposisi itu. Dan kini, ketika literan darah dan air mata tertumpah di Gaza, adakah hal yang sama terjadi? Barangkali iya, tapi bisa jadi pula tidak.

Pada satu sisi, kesedihan rakyat Palestina membuat nurani kita berontak, hati kita tergerak. Tak terhitung kecaman, makian, dan demonstrasi yang disertai pembakaran bendera telah dilangsungkan untuk mengecam Israel: agresor yang pada mulanya dulu berlindung di balik identitas sebagai korban Nazi, tapi sekarang melangsungkan kekerasan yang tak kalah biadab dengan apa yang dulu diperbuat pria berkumis kecil bernama Hitler. Bantuan berupa ragam juga telah menumpuk di beberapa titik. Sejumlah diplomat dan pemimpin negara siap-siap menuju meja runding untuk menghasilkan gencatan senjata.

Semua gerak itu—kecaman dan protes, bantuan dan diplomasi—adalah gerak yang mendekatkan kita dengan rakyat Palestina. Identitas mereka—dalam kategori negara, ras, atau agama—menjadi tidak lagi penting. Barangkali, “kemanusiaan” adalah satu-satunya penanda yang mengaitkan kita dengan mereka. Kita sedang menuju mereka, sebab “mereka adalah kita, kita adalah mereka”—untuk meminjam kata-kata Rachel Corrie, almarhumah pejuang kemanusiaan asal AS yang mati dilabrak buldoser Israel di Rafah, Palestina, 2003 lalu.

Namun, berbarengan dengan gerak menuju Palestina yang sedang bergemuruh dengan kuat itu, gerakan menutup Palestina dari akses dunia juga terus terjadi. Israel tak pernah membuka perbatasannya untuk mengizinkan bantuan maksimal hadir di Palestina. Sejumlah petugas PBB di Palestina bahkan tewas dalam huru-hara itu dan menyulitkan masuknya sejumlah petugas medis kita. Dan, sikap paling brengsek dari semua ini tetap dimiliki negara yang selalu merasa sebagai “adidaya”: Amerika Serikat, dan terutama presidennya yang baru saja dilempar sepatu itu: George Walker Bush. Di saat semua mata sedang menangis untuk Palestina, Bush justru meminta Hamas menghentikan serangan roketnya ke Israel—sebuah pernyataan yang membuat Bush pantas dilempar sepatu berkali-kali tepat di wajahnya.

Dengan dua gerak yang berlawanan itu, Palestina akan selalu terasa sebagai dekat sekaligus sulit direngkuh dengan erat. Kita mungkin merindukannya namun tak pernah benar-benar bisa mencapainya. Kesedihan yang kita lihat dari tabung televisi memang membuat kita seolah merasa dekat dengan anak-anak di Palestina, tapi itu cuma “seolah-olah” sebab selalu ada yang menghalangi mereka dan kita. Pada akhirnya, kita mungkin hanya bisa memprotes dengan keras, menumpuk bantuan, menyalurkan doa, tanpa hadir bersama-sama mereka. Tapi, semoga saja apa yang kemudian kita lakukan di sini dan sekarang, menjadi sesuatu yang membuat mereka tak merasa sendirian dan ditinggalkan.

Dengan semua itu kita bisa berharap, suatu saat nanti misalkan kita di Palestina, kita akan mendengar dinding-dinding di Palestina akan menjawab “iya” atas pertanyaan: “Adakah celah masuk ke Palestina?”

Sukoharjo, 7 Januari 2009
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

14 comments:

cerita senja January 8, 2009 at 12:34:00 PM GMT+8  

sedih sekali,
masih saja terjadi konflik antara 2 negara ini.
tapi aku tak begitu setuju bila orang indonesia mengirim pasukan kesana, kok kayaknya mau memperpanjang perang saja. mending salurkan bantuan dan berdoa, seperti katamu.

ah, selalu ada sesuatu di balik sesuatu.

tak bisa terbayangkan nasib anakanak palestina dan israel. masa kecil yang diliputi kecamuk dan perasaan ketakutan. kasihan sekali mereka..hiks

wendra wijaya January 8, 2009 at 1:49:00 PM GMT+8  

Ah, aku jadi teringat sebuah puisi;

Palestina negeri terindah berpagar luka

Entah milik siapa?

tukang Nggunem January 8, 2009 at 7:39:00 PM GMT+8  

Mari bersama-sama kita buktikan kekuatan doa...tunggu aja selanjutnya bakal kayak apa...

Dony Alfan January 9, 2009 at 6:34:00 AM GMT+8  

Postingmu kali ini sepertinya kau sangat emosional, Ris.
Kalau batu yang kita lempar itu tak bisa menjangkau tentara Israel, maka mari kawan kita panjatkan doa bersama. Semoga doa itu bisa lebih jauh jangkauannya ketimbang batu yang kita lempar...
Allahu akbar!!!!

haris January 9, 2009 at 10:44:00 AM GMT+8  

to: senja
ya, palestina adalah kesedihan utk umat manusia...semoga segera ada perdamaian di sana!

to: wendra wijaya
puisi yang bagus, milik siapa?

to: tukang gunem
mari, bro.

to: Dony Alfan
kelihatan ya kalo sy emosional? emang waktu nulisnya emosi bgt, don.........

abang January 9, 2009 at 5:03:00 PM GMT+8  

Abang setuju denga Donny Alfan Ris, banyak jalan untuk berjuang, kalo bisa ya kita perang jika ada disana, kalo gak bisa cari jalan lain, ternyata gak bisa juga ya kita berdoa aja ...

Nice post ..!!

m aan mansyur January 9, 2009 at 11:49:00 PM GMT+8  

tulisan yang apik dan menyentuh!

di sekitar kita juga banyak sekali hal yang mengharuskan kita memeranginya. tapi karena tv gak memilihnya, kita jadi tak melihatnya.

soal kutipan sajak GM itu. kira-kira akankah GM menulis sajak seperti judul tulisanmu di atas setelah dia mendapat Dan David Prize 2006 dari pemerintah Israel?

Haris Firdaus January 11, 2009 at 11:03:00 AM GMT+8  

to: abang
sepakat! ada banyak jalan menuju Palestina!

to: m aan mansyur
akankah GM menulis sajak ttg Palestina setelah penghargaan itu? duh, sulit menjawabnya. sangat sulit:(

Tiyo Avianto January 12, 2009 at 8:53:00 PM GMT+8  

no comment kalau yang ini...sudah habis kata2

zen January 12, 2009 at 11:30:00 PM GMT+8  

repot memang. tp israel bukan sendirian menebarkan darah, seperempat (mungkin sepertiganya) HAMAS punya andil. ini tentu bkn perkara statistik, tp ihwal kehendak utk menahan diri: bahwa dalam politik, "memperoleh/mendapatkan" itu sama dg "melepas".

Jika Hamas masih keukeuh menuntut Israel menyerahkan daerah-daerah yang dikuasai sesudah Perang Enam Hari, atau dengan kata lain mengembalikan wilayah Israel menurut Persetujuan Gencatan Senjata 1949, itu tdk realistis, konflik bakal susah kelar. Begitu juga jika Israel keukeuh mempraktikan politik warganegara yg rasis dan menomerduakan orang-orang Arab di wilayahnya, sama gentingnya dg bebalnya Israel memlokade gaza dan memisahkannya dari tepi barat melalui pencacahan geografis yg membelah wilayah palestina.

Gaza memang kecil dan sayangnya itulah satu2nya area yg dikuasai HAMAS. Tepi Barat dipegang FATAH dan sudah cukup aman krn FATAH relatif bs mempraktikkan apa yg disebut "mendapat dan melepas". Karena Gaza kecil, sementara HAMAS cm punya itu sbg basis pertahanan, maka serbuan apa pun yg dikirim Israel pasti bakal kena penduduk sipil, bahkan walau pun setiap misil sudah presisi karena dikunci oleh GPS sekali pun. HAMAS tahu betul perkara ini, sangat amat tahu bahkan. Sementara HAMAS juga mengirim rudal sekenanya dan memperlakukan wilayah Israel sbg wilayah perang, tanpa berhitung mana area militer dan mana area sipil. Lha, pancen HAMAS juga gak duwe GPS yg bs memastikan rudalnya akurat menyerang hanya area militer thok.

Buat saya, kuncinya bkn puisi (hehehehe), tapi HAMAS mau menahan diri, dan Israel juga kudu melepaskan klaim bahwa Israel hanya utk org Yahudi. Di sini Israel layak dituntut lebih karena mereka pny teknologi yg lbh baik, pny opsi lbh banyak dan dukungan negara2 kunci.

Masalahnya, kalo membuka Israel sbg negara demokratis yg memperlakukan semua warganya secara setara tanpa pandang ras dan agama, besar kemungkinan Israel akan segera dibanjiri orang-orang Arab dan mrk akan kembali menjadi minoritas di negaranya sendirinya --sesuatu yang justru menjadi awal kenapa Herzl berkampanye utk mendirikan negara Israel.

Anonymous January 13, 2009 at 11:45:00 AM GMT+8  

misalkan kita di sarajevo. satu kalimat dari Goenawan Mohammad ini memang paling nggegirisi. kalimat Goenawan ini saya kira adalah kalimat yang paling berhasil memaksa pembaca untuk tak sekedar berempati, tak benar-benar merasa di sana. bila kita berada di sarajevo, (atau gaza, atau bagdad, atau renokenongo) tak usah kita diajari lagi penderitaan mereka kita sudah merasakan sendiri.

menunggu pulang. dari rieke diah pitaloka untuk menggambarkan derita warga porong siodarjo yang hidupnya di gerus lumpur lapindo (SCTV terhitung konsisten menyebut 'lumpur lapindo' sedang ANTV menyebut 'lumpur sidoarjo'. tapi SCTV kadang hiperbolik ketika menyebut 'pengadilan sesat' untuk kasus Kemat, David cs). menunggu pulang. menunggu kembali ke rumah. tak kurang dari rasul bersabda: rumahku surgaku. semua bermula dari rumah. kedamaian harus ada di rumah. agar rumah mendidik anak-anak kita menjadi generasi yang berjiwa.

salam,
masmpep.wordpress.com

Richo January 13, 2009 at 6:25:00 PM GMT+8  

kita berdoa saja,, semoga yang bathil akan hancur

Ari January 18, 2009 at 12:39:00 AM GMT+8  
This comment has been removed by the author.

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP