Helene Le Touzey

>> Sunday, December 21, 2008

kenapa hari ibu jadi penting



“Untuk sesaat, saya ingin sekali mengembalikan dia ke dalam rahim saya.”

16 November 2000, di dalam Ruang Sidang Pengadilan Negeri Denpasar, Helene Le Touzey benar-benar merasa ingin memasukkan kembali anak bungsunya, Michael Loic Blanc, ke dalam rahimnya. Hari itu, pengadilan memvonis Michael—seorang warga negara Prancis—dengan hukuman seumur hidup karena kepemilikan 3,8 kilogram hasis.

Hampir setahun sebelumnya, 26 Desember 1999, Michael mendarat di Bandara Ngurah Rai, Bali, membawa sejumlah bawaan. Di antara deret barang yang ia bawa dari India ke Bali adalah sebuah tas berwarna hitam kombinasi hijau dengan merek Sea Hornet. Di dalam tas itu, ada dua buah tabung selam. Dua tabung itulah yang menjadi pangkal masalah.

Sejak tas itu melewati mesin X-ray, petugas bandara telah menaruh curiga. Tatkala mereka kemudian membongkar tas milik Michael dan mengebor dua tabung selam itu, ditemukan 189 lintingan dan 178 lempengan hasis dengan berat total 3,8 kilogram. Michel jelas langsung diciduk meski menurut pengakuannya, hasis itu bukan miliknya. Seorang kawannya, bernama Philip, menitipkan tabung itu ketika mereka berdua berjumpa di Bali beberapa waktu sebelumnya. Tabung itu bahkan pernah dibawa Michael ke India sebelum akhirnya ia masuk ke Bali. Philip raib dan Michael yang harus menjalani proses hukum.

Dua hari setelah Michael ditangkap, Helene mendapat telepon pada pagi buta. Yang berbicara adalah Konsul Kehormatan Prancis di Bali kala itu, Michel Roure. Roure mengabarkan, Michael telah ditangkap polisi. Pada kesempatan itu pula, Helene sempat berbicara secara amat singkat dengan anaknya. “Mama, mereka akan menuntut saya dengan hukuman mati,” begitu kira-kira yang diucapkan Michael saat ia terhubung dengan ibunya.

Begitu mendengar kabar menyedihkan itu, Helene segera menghubungi sejumlah kerabatnya, termasuk mantan suaminya, Jean-Claude Blanc. Beberapa bulan kemudian, pada suatu hari dalam Bulan Agustus 2000, ia memutuskan terbang ke Bali, menyusul anaknya. Pada mulanya, ia merencanakan tinggal selama beberapa pekan saja. Namun, rencana itu berubah secara drastis.

Setelah tiba di Bali, Helene justru membuat sebuah keputusan yang amat menggetarkan: ia memilih meninggalkan kehidupan nyamannya di Bonneville, Prancis, untuk mengawani anaknya sampai sang anak bebas—padahal Michael divonis seumur hidup. Helene memutuskan “menetap” di Bali sembari terus mengusahakan keringanan hukuman untuk Michael.

Hampir setiap pagi, ia menyusuri jalanan dari kontrakannnya menuju penjara untuk menjenguk Michael. Dalam kunjungan rutinnya itu, ia selalu membawakan sejumlah kebutuhan harian Michael: buah-buahan, vitamin, surat kabar, dan surat-surat. Ia juga terus memompa semangat hidup anaknya yang stress karena divonis hukuman seumur hidup.

“Seorang narapidana seumur hidup tidak memerlukan kalender, tidak memerlukan rencana, karena hidupnya sudah dipatok buntu di penjara,” ujar Michael. Kalimat itu jelas menyiratkan semacam putus asa. Mereka yang divonis harus menghabiskan umurnya di penjara, seperti kata Michael, mungkin tak memerlukan kalender karena toh mereka tak mengerti lagi “makna waktu”. Bagi mereka, rencana adalah sesuatu yang absurd.

Itulah kenapa Michael amat menginginkan keringanan hukuman—dari seumur hidup menjadi hukuman maksimal. Tatkala masa hukumannya sudah dibatasi waktu tertentu, Michael merasa akan lebih punya harapan, ia bisa membuat rencana. Namun yang sebenarnya bisa membuatnya bertahan adalah keberadaan ibunya sendiri. Helene, wanita luar biasa itu, adalah seorang ibu yang amat mencintai anaknya: ia bukan hanya seorang yang bisa mencukupi kebutuhan material tapi juga seorang yang bisa memompakan semangat secara amat besar.

“Tanpa ibu, saya mungkin sudah selesai,” begitulah yang diucapkan Michael—sebuah kalimat yang menandakan betapa besar kontribusi Helene baginya.
***

Kisah Helene dan anaknya telah menjadi buah bibir bertahun-tahun lalu di Prancis dan sejumlah negara lain. Beberapa media sudah menulis kisah panjang yang mengharukan ini. Sebuah stasiun televisi di Prancis bahkan memiliki acara rutin tiap Sabtu yang khusus membahas kasus Michael. Sejumlah kerabat dan kawan Michael serta orang-orang lain yang bersimpati padanya membentuk Asosiasi Pendukung Michael Blanc—di antara mereka ada yang membuat situs www.michael-blanc.com yang mengorganisir petisi online bagi pembebasan Michael.

Dukungan mengalir dari mana-mana. Kebutuhan finansial Helene selama bertahun-tahun tinggal di Bali, dicukupi dari sumbangan banyak pihak. Sejumlah artis level dunia, seperti Celine Dion, juga ikut menyokong. Lembaga-lembaga sosial dan kemsyarakatan ikut memberi bantuan. Bahkan, pada 13 Agustus 2001, Sekretaris Jenderal Gerakan Pramuka Sedunia, Jacques Moreillon, menulis surat pada Presiden Megawati meminta agar Michael—yang merupakan “seorang Pramuka”—bisa dipindahkan ke Prancis dan menjalani hukuman di kampung halamannya.

Helene tentu berharap, anaknya mendapat keringan hukuman. Bersama tim pengacara, ia sedang mengusahakan hal tersebut. Sembari menunggu “keajaiban” itu, Helene terus bersemangat mengawani anaknya. Pada akhirnya, ia bukan lagi milik Michael semata. Sejumlah narapidana di Penjara Kerobokan, Bali,—tempat anaknya menjalani hukuman—sudah seperti anaknya sendiri. Itulah kenapa, ia juga sering disebut sebagai “ibu para napi”.

Tiap hari, Helene memang tak hanya mengurusi Michael. Di dalam kamar kontrakannya, terdapat nama-nama narapidana di Penjara Kerobokan, beserta informasi masing-masing napi—seperti kasus, masa tahanan, nama keluarga, bantuan yang kira-kira ia butuhkan. Helene tahu betul kondisi para tahanan yang berasal dari banyak negara itu—seperti Inggris, Meksiko, Filipina, Australia, Nepal, Indonesia, dan lain sebagainya.

Para napi di Kerobokan juga akrab dengan Helene—begitu pula para sipir, penjual makanan, atau para pemilik tikar sewaan; Helene adalah orang populer di Kerobokan. Tatkala ia berkunjung ke penjara, misalnya, sejumlah napi biasa menyapa sang ibu dengan hangat, kadang disertai pelukan, ciuman, atau elusan pipi.

Helene telah menghabiskan beberapa tahun di Bali untuk menemani anaknya dari jarak dekat. Dibandingkan kehidupan nyamannya di Prancis, ia lebih memilih tinggal di negeri asing, menjalani rutinitas yang terasa janggal bagi kebanyakan manusia. Tentu saja, hanya cinta yang bisa melambari laku hidup semacam itu. Sebuah cinta yang tiap harinya tidak susut, melainkan bertambah dengan cara—seperti yang dikatakan Helene—“yang hanya dapat dimengerti oleh setiap ibu yang pernah menatang anak di dalam rahimnya.”

Sukoharjo, 21 Desember 2008
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

11 comments:

alhayat December 21, 2008 at 4:02:00 PM GMT+8  

sunguh mengarukan:
"kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa...." (bukan iklan bari ibu spt kampanye no 31)

Doa di Putik Kamboja December 22, 2008 at 12:50:00 AM GMT+8  

no coment. karena tak ada yang mampu menjelaskan kebesaran kasih sayang ibu. yang jelas postingan mas haris bikin saya benar2 hampir bergidik. "ada yang tiba2 teringat". terima kasih mas haris,..

to my friends December 22, 2008 at 1:53:00 AM GMT+8  

artikelnya keren.. mom is always be the best salam kenal..

afie December 22, 2008 at 10:38:00 AM GMT+8  

karena itu jangan pernah durhaka dg ibu kita...

haris December 22, 2008 at 3:32:00 PM GMT+8  

to: alhayat
benar, kasih sayang ibu memang selalu ada di sepanjang jalan kita, mas. termasukutkmu yang jadi pengelana. ha2.

to: Doa di Putik Kamboja
mengingatkan akan apa? senangnya kalo tulisan kita bisa bikin bergidik:)he2.

to: to my friends
terima kasih telah berjunjung! salam kenal pula!

to: afie
betul! sepakat banget!

Doa di Putik Kamboja December 23, 2008 at 5:59:00 AM GMT+8  

keinget sama ibu mas. bukan berarti saya selama ini saya melupakan beliau. tapi kada ada beberapa hal mungkin kita anggap kecil yang ibu perbuat tapi itu justru hal besar yang di damba seorang ibu,..

Dony Alfan December 23, 2008 at 6:36:00 PM GMT+8  

Saya baru tau cerita ini dari sampeyan. Benar2 kisah yang menggetarkan hati...
Kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah...

Wong Magelang December 24, 2008 at 8:51:00 AM GMT+8  

ibu... kasihnya takkan habis dimakan waktu
" ibu maafin sy y, sering nakal :(
"

bias December 28, 2008 at 3:20:00 AM GMT+8  

kira kira umurnya ketika dipenjara berapa ya kang?
selama itulah dia dipenjara, apakah benul?

but, nice story....

Haris Firdaus January 2, 2009 at 10:47:00 PM GMT+8  

to: Doa di Putik Kamboja
ya, mas. kadang kita emang ga bs mengerti dg baik apa yang dimaui oleh orang lain--termasuk ibu kita.

to:Dony
betul, mas. kalo ada orang yang mau menanggung derita begitu berat utk kita, ya itu hanya ibu kita.

to: wong magelang
awas kalo nakal, entar dijewer! he2.

to: bias
kira2 sekitar 30-an. ya bener lah. klik aja situs-nya

Marshmallow January 3, 2009 at 7:39:00 AM GMT+8  

ah, betapa kasih seorang ibu bisa menggetarkan dunia begitu ya, ris?

tanpa memandang latar belakang masalah, cerita ini sungguh inspiratif. benarlah bila kasih ibu sepanjang jalan.

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP