Nietzsche dan Horison yang Terbatas

>> Wednesday, September 3, 2008


Seandainya Friedrich Wilhelm Nietzsche berdiri di suatu jembatan yang menghubungkan rumahnya dengan sebuah lautan yang ganas, apa yang akan ia lakukan? Kita mungkin membayangkan, ia akan memilih lautan yang ganas. Dalam imajinasi yang kita bangun, pelan-pelan ia akan berjalan ke arah laut itu tanpa menengok rumahnya sedikit pun. Sesampai di ujung jembatan, ia akan berusaha mengambrukkan jembatan itu, lalu tanpa rasa sentimentil, ia akan melupakan rumahnya demi laut yang ganas.

“Kita telah meninggalkan daratan dan sudah menuju kapal! Kita sudah membakar jembatan di belakang kita—dan lagi, kita juga sudah menghanguskan daratan di belakang kita! Dan kini, hati-hatilah kau kapal mungil! Samudera raya mengelilingimu: memang benar, dia tidak senantiasa mengaum, dan kadang-kadang dia tampak lembut bagaikan sutera, emas, dan mimpi yang indah. Namun akan tiba waktunya, bila kau ingin tahu, bahwa dia tidak terbatas.”


Kalimat-kalimat itu bersumber dari aforisma Nietzsche yang berjudul “Dalam Horison Ketidakterbatasan”. Membaca fragmen kecil dari aforismanya itu, saya membayangkan Nietzsche adalah orang yang amat menyukai petualangan dan membenci sebuah “horison yang terbatas”. Horison yang terbatas itu terutama berarti makna absolut dari doktrin tertentu yang menjamin kehidupan manusia tidak dilimbungkan oleh serangkaian pertanyaan tanpa ujung.

Tapi, bisakah kita juga menafsirkan “horison yang terbatas”-nya sang “pembunuh Tuhan” itu sebagai sesuatu yang konkret? Sebab, bukankah, seperti dinyatakan Sindhunata, Nietzsche adalah “filsuf” yang tak hanya berfilsafat dengan kemampuan pikirnya, tapi juga dengan segenap tubuh, kehidupan, dan—terutama sekali—dengan segala penderitaannya?

Seandainya kita menafsirkan “horison yang terbatas” sebagai sebuah geografi yang konkret, bisakah kita menyamakannya dengan—taruhlah semacam—“rumah”? Barangkali, iya. Sebab, rumah memang selalu berarti sebuah “horison yang terbatas”. Ia memang melindungi kita, menjaga kita dari panas dan dingin, tapi sekaligus secara bersamaan ia membatasi kita. Di dalam rumah, kita tak perlu takut akan kena hujan atau panas, tapi juga mesti tahu diri: terperangkap di dalamnya berarti menghilangkan kesempatan kita bermain layang-layang atau sekadar mengagumi gemintang secara leluasa.

Barangkali, sebuah penjagaan memang selalu dibarengi dengan pembatasan—kita bisa melihat bukti pernyataan ini dari tata aturan protokoler pejabat, atau gaya makan ala “table manner”. Pada titik ini, manusia adalah makhluk yang berada dalam paradoks. Di sebuah sisi, ia ditakdirkan sebagai sosok yang senantiasa hendak menuju sebuah titik nyaman tertentu dengan harapan tak usah memberi pengorbanan. Di sisi lainnya, ia tak mungkin mencapai titik itu tanpa melakukan pengorbanan apapun. Kenyamanan dan pengorbanan, agaknya dua muka beda yang disatukan oleh ikhtiar manusia.

Sebagai manusia biasa, Nietzsche juga ada dalam paradoks itu. Ketika Franz Overbeck, seorang karibnya, menemui dirinya di Turino, Nietzsche tak kuasa meluapkan kerinduannya. Begitu melihat Overbeck di depannya, Nietzsche langsung berlari memeluk sahabatnya itu. “Ia lari menabrak saya, memeluk saya keras-keras, sambil meyakinkan diri, bahwa ia mengenali saya, dan ia pun tak tahan lagi, dan mengucur deraslah air matanya,” demikian kesaksian Overbeck mengenai tingkah sahabatnya yang telah menderita itu.

Ketika ditemui Overbeck pada 7 Januari 1889 itu, sang “filsuf” telah ambruk. Kondisi jiwanya telah mengalami gangguan, dan ia mulai tak bisa membedakan banyak hal, termasuk kebenaran dan kegilaan. Seperti kemudian bisa dibaca dalam riwayatnya, di penghujung hidupnya yang malang, Nietzsche memang menderita gangguan kejiwaan. Saya tak tahu apakah penyakit itu berkaitan dengan kegiatan pikirnya yang menerabas banyak hal guna menemui “horison yang tak terbatas” atau tidak.

Yang saya tahu: Nietzsche tetap membutuhkan sebuah “horison yang terbatas” ketika dengan spontan ia memeluk Overbeck. Ia tetap ada dalam sebuah “persahabatan”, sesuatu yang membikin nyaman manusia tapi sekaligus “membatasi”. Sebagai manusia biasa, saya kira ia juga tak menyukai kesepian dan tak bisa menerima kesendirian. Karena itu pula, ia juga sempat jatuh cinta pada seorang perempuan bernama Lou Salomé, seorang novelis cantik yang pernah disebut sebagai perempuan yang paling menyenangkan serta paling cerdas yang pernah ditemui Nietzsche.

Di akhir hayatnya, ia bahkan kembali ada di “rumah”. Overbeck membawanya kembali ke Basel, Swiss, pada 10 Januari 1889 dan memasukkannya ke klinik psikiater Universitas Basel—sebuah universitas di mana Nietzsche pernah menjadi profesor. Seminggu setelahnya, ibu sang “penggugat” itu datang dan memasukkannya ke rumah sakit jiwa di Universitas Jena. Meski telah dirawat di klinik, seluruh usaha menyembuhkan Nietzsche sia-sia.

Setahun setelah itu, ia dibawa pulang ke rumah ibunya di Naumburg. Nietzsche dirawat dengan penuh kasih sayang sampai pada 1897 sang ibu meninggal dunia. Pada 25 Agustus 1900, ia menyusul ibunya menuju alam baka tanpa tahu bahwa ia telah menjadi anak piatu sekaligus pemikir yang mulai melambung namanya.
***

Bisakah kita membayangkan seorang penggugat dunia, yang bahkan telah memaklumkan “kematian Tuhan”, akhirnya kembali ke pangkuan ibunya yang merupakan penganut taat doktrin Kristen? Kalaupun bisa, mungkin itu hanya terjadi setelah kita mengenal Nietzsche.

Kisah hidup Nietzsche adalah sebuah riwayat panjang yang menggambarkan paradoks manusia di hadapan sebuah “horison” dan “pencarian”. Nietzsche boleh saja yakin bahwa ia akan mengarungi “laut yang ganas” setelah membumihanguskan “daratan” tempat dulu ia berpijak. Ia boleh saja meninggalkan kepastian doktrin agama beserta seluruh bangunan kepastian lainnya lalu melakoni sebuah petualangan yang menggairahkan dalam nihilisme.

Ia bisa saja menganggap agama, ilmu, bahkan juga filsafat, menjadi penghambat dalam perkembangan “wajar” manusia. Tapi, bisakah ia menghindar dari “pembatasan” lainnya yang bernama “persahabatan”, “kasih sayang”, dan “rumah”? Kalau ia menghindar dari “horison yang terbatas” yang berupa agama, misalnya, bisakah ia menghindar dari “horison yang terbatas” yang berupa “rumah”?

Kalau ia menginginkan hilangnya seluruh pembatasan yang selama ini membuat manusia nyaman, bisakah ia menghilangkan seluruh keinginannya untuk bersahabat? Bukankah, sama dengan agama, persahabatan juga membikin kenyamanan dan menjamin diri dan makna—sekaligus membatasi—manusia?

Akhir riwayat Nietzsche memang diisi dengan kesendirian dan kesepian. Ia hidup berpindah-pindah tempat di sejumlah kota di Italia dan Swiss. Tapi, kesendirian itu tak pernah menyurutkan keinginannya untuk menjalin hubungan dengan manusia lain—sesuatu yang menandakan ia tak rela kehilangan ikatan persahabatan. Nietzsche masih menulis surat pada sejumlah sahabatnya, termasuk Overbeck. Kepada mereka, ia mengadu dan mengeluhkan semua penderitaan yang ia alami. Dalam sebuah surat pada Overbeck, ia pernah terlihat amat ringkih dan bahkan berkata: “...bagiku, sepucuk pistollah yang kini kurang lebih dapat menjadi sumber ketenteramanku.”
***

Sampai di sini saya ingin kembali bertanya: seandainya Friedrich Wilhelm Nietzsche berdiri di suatu jembatan yang menghubungkan rumahnya dengan sebuah lautan yang ganas, apa yang akan ia lakukan? Akankah ia memilih menuju laut yang ganas sembari menghancurkan jembatan, sekaligus rumahnya?

Ataukah, ia harus mengakui, bahwa “horison yang terbatas” tak selalu bisa dijauhi?

Sukoharjo, 3 September 2008
Haris Firdaus

5 comments:

.::yenihayatku::. September 5, 2008 at 1:29:00 AM GMT+8  

om, mungkin Mbah Nietze gak seberuntung Fahri...
aku sekarang susah menghubungi dia.. coz dah jadi orang besar tuh...:d
kemarin aja adik2nya, mahasiswa yang ikut casting Ketika Cinta Bertasbih banyak banget... huh.. Wisma Nusantara sementara jadi lokasi casting deh....

mungkin sampean yang lebih bisa ketemu Fahri. saya sendiri sulit sekarang untuk sekedar ngajak makan lesehan bareng di kedai kecil di Mutsallats, H 10, Nasr City

sukoharjo, kaifal hal?

salam, Demis

haris September 6, 2008 at 12:02:00 PM GMT+8  

ya jelas lah nietzsche kalah beruntung ma fahri. ha2. lha wong fahri itu bs poligami. he2. wah sy jg ga punya kmngkn besar ketemu dy. jg gak nafsu2 amat. sukoharjo biasa, tetetp membosankan, mas demis

omahputih September 8, 2008 at 8:39:00 PM GMT+8  

Ris, kukira nietzsche tidak menampik rumah, persahabatan, dan juga cinta. yang dia tampik adalah kestagnanan. jadi, sepanjang "horison yang terbatas" itu tidak mengukung dan menstagnankan diri, nietzche pasti tak mengogahi. apalagi, nietzche tidak menolak nilai tapi menilai ulang nilai.

dalam pembacaan yang cepat, memang akan terlihat ada hal-hal yang paradoks. tapi jika mengikuti Gaya Filsafat Nietzsche --ini juga judul buku, yang sangat bagus mengupas kesalahan pemahaman atas filsafat Nietzche, termasuk penyederhanaan St Sunardi-- akan terlihat paradoksal itu muncul karena ketaknyangkutan pembaca filsafatnya pada inti dari filsafatnya, pada "gaya" yang dia lakukan.

Haris Firdaus September 9, 2008 at 2:11:00 PM GMT+8  

to: omahputih

terims, mas. cuma saya masih ragu: adakah horison yang terbatas benar2 bs membuat orang tak stagnan? dlm logika sy, horison yg terbatas selalu akan membatasi manusia, dlm titik tertentu itu berarti "stagnasi".

Anonymous August 5, 2011 at 12:53:00 PM GMT+8  

bisa saja semua diterjang, namun kita akan banyak kehilangan

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP