Ziarah dan Manusia yang “Retak”

>> Saturday, August 30, 2008




Di Jawa, orang mungkin tak akan—atau tak bisa?—melupakan ziarah. Hari ini, meski kita telah menyaksikan orang berjalan-jalan di bulan, atau teknologi yang mampu melakukan rekayasa tertentu terhadap penciptaan makhluk hidup, tetap saja ada manusia yang bertahan dalam pola pikir zaman dulu. Terutama di Jawa, menjelang waktu-waktu tertentu, serombongan manusia akan mengunjungi tempat-tempat yang dianggap keramat atau bertuah, untuk memanjatkan doa demi hidup yang lebih baik.

Ziarah tentu saja tak selalu identik dengan tempat keramat. Dalam tradisi Islam, misalnya, ziarah adalah kunjungan ke makam keluarga atau orang yang dikenal untuk mendoakan mereka yang telah meninggal. Sebaliknya, dalam tradisi kejawen, orang datang ke kubur atau tempat keramat lain bukan untuk mendoakan, tapi justru untuk berdoa bagi dirinya sendiri. Ziarah dalam tradisi Jawa adalah semacam laku memohon karunia yang lebih untuk hidup. Makam atau tempat keramat dianggap sebagai perantara yang tepat agar permohonan yang diajukan bisa tercapai.

Kalau kita memakai kategori kebudayaan yang dikemukakan C.A. van Peursen, ziarah adalah sebentuk perilaku yang masuk menjadi bagian dalam sesuatu yang oleh van Peursen disebut sebagai “tahap mistis” dalam kebudayaan. Tahapan ini ditandai oleh situasi di mana manusia merasa dirinya terkepung oleh kekuatan-kekuatan gaib di sekitarnya, yang terutama tampak dalam mitologi. Pada proses kebudayaan yang berada dalam “tahap mistis”, manusia merasa terkesima dan mengagumi ketakterdugaan alam semesta, sekaligus merasai diri sebagai sekadar bagian kecil dari semesta yang maha luas itu.

Istilah “tahap” dalam kategori kebudayaan van Peursen mengisyaratkan urutan waktu. Bagi pemikir kelahiran Rotterdam itu, kebudayaan manusia memang akan berjalan dari satu tahapan ke tahapan lainnya. Diawali dari “tahap mistis”, kebudayaan akan menuju “tahap ontologis”, lalu akan sampai pada “tahap fungsional”.

Saya sendiri tak terlampau yakin adakah van Peursen berpendapat bahwa “perjalanan kebudayaan” manusia adalah sesuatu yang linier dan tak akan saling bertabrakan satu sama lain. Adakah ia seperti Auguste Comte yang membagi perjalanan manusia menjadi “zaman mistis”, “zaman metafisik”, dan “zaman positivis”, dan yakin bahwa manusia akan melewati zaman itu secara berurutan sebagai sesuatu yang tak bisa ditolak.

Tapi yang saya tahu: Comte sudah banyak ditolak. Positivisme dalam ilmu sosial yang diperkenalkan Comte adalah sebuah reduksi yang keterlaluan. Paham yang diperkenalkannya itu kini menjadi sesuatu yang paling banyak dijauhi oleh para pemikir ilmu sosial dan humaniora. Penolakan itu mungkin berarti bahwa pembagian zaman-nya juga sudah tak lagi memadai. Tapi penolakan itu juga bisa berarti lebih luas: bahwa seluruh pembagian linier atas perkembangan manusia yang menyatakan dirinya sebagai pembagian zaman yang telah lengkap dan total, adalah sesuatu yang tak lagi memadai.

Bagaimanapun, manusia adalah entitas yang tak terduga dan akan sangat reduktif kalau kita membuat sebuah pembagian yang linier dalam perkembangan makhluk itu. Setelah Hegel dan Marx yang terbukti gagal, tampaknya para pemikir dan filsuf menjadi lebih berhati-hati untuk mengemukakan pembagian macam itu lagi. Apalagi, ketika serombongan pemikir yang berlindung dalam payung posmodernisme datang dan berkoar-koar. “Keteraturan besar”—atau “narasi besar”, untuk memakai kata-kata Lyotard—makin dijauhi dan diejek sebagai penyederhanaan persoalan.

Sampai di sini, saya ingin menafsirkan van Peursen tidak secara linier. Bagaimanapun, secara dominan mungkin saja terjadi perkembangan kebudayaan dari mistis-ontologis-fungsional. Tapi dalam praktik sehari-hari, tiga konsepsi itu bisa saja datang secara bersama-sama dan saling membentuk interaksi yang dinamis. Keberadaan prosesi ziarah di zaman ini adalah secuil bukti betapa mitos tak pernah bisa hilang dari lubuk sanubari manusia sekalipun mereka berada di dalam “alam posmodern”.

Ya, bahkan ketika teknologi telah mengukuhkan kekuasaan manusia atas alam, masih ada sekumpulan orang yang nekad menempuh perjalanan panjang tanpa bekal yang memadai demi mengunjungi tempat-tempat keramat, berdoa di sana, melakukan tirakat, dan mungkin masih merasai dirinya sebagai bagian amat kecil dari semesta yang luas tak berhingga. Tatkala membaca suplemen “Layar” Majalah Tempo Edisi 23 November 2003, saya tahu bahwa laku ziarah masih bertahan setelah ratusan tahun dan kesungguhan para peziarah kini mungkin tak terlampau beda dengan yang dulu.

Di Tempo edisi itu, ada kisah tentang Umar yang berasal dari Pekalongan. Ditemui di makam Sunan Bonang di Dusun Kauman, Tuban, Jawa Timur, Umar mengaku ia akan berkeliling ke sejumlah makam walisongo lainnya, semisal makam Sunan Drajad di Lamongan, Sunan Giri dan Maulana Malik Ibrahim di Gresik, dan Sunan Ampel di Surabaya. Ketika ditanya tentang bekal yang dibawanya, ia menjawab, “Bekalnya hanya tekad.” Saya cukup terkejut membaca jawaban Umar. Ada sesuatu yang terasa amat penting baginya tapi kini mungkin tak dianggap lagi sebagai bagian dari hidup rasional: hanya tekad. Orang mungkin akan bertanya: adakah tekad saja cukup?

Saya tak tahu. Tapi Umar mungkin tahu jawaban atas pertanyaan itu. Yang jelas, Umar bukan satu-satunya manusia yang mengandalkan tekad ketika melakukan ziarah. Ada banyak Umar lain yang mengunjungi sejumlah makam dengan bekal uang yang mungkin pas-pasan atau malah amat kurang. Tapi begitulah: selalu ada yang mengejutkan dari manusia. Selalu ada yang retak dari prediksi tentang manusia.

Maka dari itu, saya hanya ingin membaca van Peursen secara tak linier. “Tahapan mistis” yang disebutnya, bagi saya, bisa saja ada bersamaan dengan “tahapan fungsional”. Tapi mungkin saja soalnya bukan itu. Lebih tepat untuk meragukan bahwa ada sebuah “tahapan” yang bersifat total dan melingkupi keseluruhan hidup manusia. Di sini, kategorisasi van Peursen adalah sesuatu yang tak mutlak melingkupi semua manusia. Ia mungkin berlaku bagi sejumlah manusia—atau sebagian besar manusia—tapi untuk mengatakan kategori itu berlaku bagi “seluruh manusia”, kita harus berpikir beberapa kali lagi. Bagaimanapun, manusia adalah sesuatu yang selalu “retak”. Dan keberadaan ziarah di zaman ini adalah salah satu bukti tentang “keretakan” itu.

Sukoharjo, 30 Agustus 2008
Haris Firdaus

4 comments:

Anonymous September 1, 2008 at 12:48:00 PM GMT+8  

Jadi, yang "retak" itu rumusan Peurseun tentang manusia seperti yang sampeyan coba tunjukkan di seluruh badan tulisan atau yang "retak" adalah manusia seperti yang sampeyan katakan (hanya) di akhir tulisan?

*Dua-duanya, tentu saja -- saya mencoba mencegat jawabannya. hehehe*

Zen

Haris Firdaus September 2, 2008 at 4:12:00 PM GMT+8  

ha ha ha. terima kasih dah bertanya sekaligus menjawab, bung. senang "melihatmu".

Ngatini September 3, 2008 at 11:52:00 AM GMT+8  

ngatini sih lemot..jadi gak mudeng ini apaan..hehehe..maapkan saiyah!

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP