Jilbab, Cadar, dan Dewi Persik

>> Monday, September 15, 2008




Seandainya Anthony Synnott melihat tayangan infotainmen tentang Dewi Persik yang memakai jilbab dan cadar, mungkin ia akan berkata: “Apa gue bilang! Tubuh memang sesuatu yang plastis!”

Dalam sebuah bukunya yang berjudul Tubuh Sosial: Simbolisme, Diri, dan Masyarakat, Synnott mengungkap pandangannya tentang perubahan cara pandang manusia kontemporer terhadap tubuh. Pada masa modern, katanya, tubuh manusia adalah sesuatu yang plastis: ia tak lagi dilihat sebagai sesuatu yang “terberi” dan oleh karenanya tak bisa lagi diganggu gugat.

Memakai cara pandang yang sepenuhnya baru itu, tubuh akan dianggap sebagai sesuatu yang bisa dirubah demi kepentingan tertentu. Dan, kepentingan tertentu itu bisa berarti banyak hal. Ia bisa bermakna pemenuhan mitos penampilan yang baik—sesuatu yang hendak “diakomodasi” oleh benda-benda semacam krim penghilang jerawat atau obat pencegah penuaan—, pembentukan identitas kultural tertentu, upaya mencapai tahap kesehatan tertentu, atau demi tuntutan-tuntutan lainnya.

Cara pandang terhadap tubuh yang telah berbeda itu, misalnya saja, bisa kita lihat dalam kasus seseorang yang mengganti kelaminnya lewat jalur operasi. Tapi, cara pandang yang berubah itu sebenarnya bukan hanya terkait dengan tubuh sebagai sebuah organisme yang fisikal belaka. Perubahan itu juga terkait dengan tubuh sebagai “sistem tanda”. Kasus pemakaian jilbab dan cadar oleh Dewi Persik—yang tak mungkin dilewatkan infotainmen—adalah salah satu contoh yang baik tentang bagaimana ke-plastis-an tubuh kontemporer sebagai sistem tanda.
***

Mereka yang ada di Indonesia dan menonton televisi pasti mengenal Dewi Persik. Ia seorang penyanyi yang telah mengakhiri hubungan pernikahannya dengan penyanyi lain bernama Saipul Jamil; dan juga seorang “pegoyang sejati” yang “fundamentalis”. Aksi goyangan yang ia tampilkan di panggung telah menuai protes keras dan berbuah kecaman serta pencekalan di sejumlah kota, seperti Bandung dan Tangerang.

Ketika pencekalan terhadap Dewi terjadi, “diskusi publik” marak di mana-mana. Menteri Pemuda dan Olahraga Adhiyaksa Daud berdebat dengan Riri Riza di televisi; kalau saya tak salah ingat, di sejumlah tempat di kampus saya beredar pamflet-pamflet yang secara tak langsung mengecam Dewi. Isi pamflet yang diedarkan beberapa aktivis mahasiswa muslimah itu antara lain menampilkan kliping berita yang menyebut telah terjadi “onani massal” saat sebuah pertunjukan dangdut yang penuh erotisme digelar. Pada masa-masa itu, banyak media yang tiba-tiba dipenuhi debat tentang pro kontra kreativitas dan moralitas—sebuah debat buruk yang membosankan.

Aulia Muhammad (Suara Merdeka, 28 April 2008) dengan baik merekam bagaimana Dewi Persik ada dalam lalu-lalang pendapat tentang goyangannya. Tidak seperti Inul Daratista, kata Aulia, yang mampu menarik simpati publik ketika dirinya menerima kecaman akibat goyang ngebor-nya, Dewi Persik tak bisa menarik simpati banyak pihak. Beda dengan pro kontra Inul yang sampai membuat Gus Dur mendukung sang pedangdut dan membuat “publik terbelah”, debat tentang kasus Dewi sama sekali tak menghasilkan sebuah “publik yang terbelah”. Hampir seluruh masyarakat berada dalam posisi yang berlawanan dengan Dewi.

Kondisi itu—di mana hampir semua pihak berlawanan dengan Dewi—barangkali terjadi karena Dewi tak pandai memancing simpati. Tapi, lebih dari itu, Dewi Persik memang lebih sering—atau malah hanya?—dianggap sebagai seorang yang suka mengumbar sensualitas tubuhnya ketimbang sebagai seniman yang penuh kreativitas. Berbeda dengan goyangan Inul yang sering dibela dengan dalih kreativitas, goyangan Dewi Persik dianggap murni bersifat erotis. Sebuah paragraf dari tulisan Aulia Muhammad tentang Dewi saya kira bisa menampilkan bagaimana artis itu dipersepsi:

"Goyang Dewi Persik memang sensual. Bahkan dalam beberapa penampilan, seperti yang acap ditunjukkan ragam infotainmen, sangat erotis. Dewi tak cukup hanya menggoyangkan pinggul seperti Nita Thalia, atau memutar pantat seperti Inul, tapi menggelepar-gelepar di panggung, kadang bergaya seolah bersanggama. Eskpresinya pun bukan seperti orang yang tengah bernyanyi, melainkan raut yang sedang bercinta. Bagi Dewi, panggung adalah arena dia untuk berolahasmara, dan dia selalu memperoleh orgasme karenanya. Yang ditampilkan Dewi pada intinya bukanlah pertunjukan suara tapi olah kamasutra. Karena itulah, tak terdengar suara yang mendukung Dewi ketika terjadi pelarangan dan pencekalan di Bandung dan Tangerang, atau pembakaran oleh Forum Umat Islam. Warga, umat, masyarakat, seperti berada di seberang dirinya. Dalam hal inilah, Dewi berbeda dari Inul."


Kutipan panjang itu secara tegas menyebut Dewi Persik adalah penyanyi yang secara blak-blakan memanfaatkan sensualitas dan erotisme tubuhnya. Dewi bahkan dianggap “lebih hot” daripada Inul dan Nita Thalia—dua penyanyi yang sudah cukup “hot” di Indonesia. Yang kemudian bisa kita simpulkan dari paragraf itu adalah bahwa Dewi Persik merupakan penyanyi yang secara sengaja mengobral daya tarik seksual yang ia miliki guna mendapatkan banyak perhatian. Erotisme dan sensualitas adalah dua kata kunci yang dilekatkan pada tubuh Dewi Persik.

Tapi dua kata kunci itu tiba-tiba saja seperti “dicampakkan” ketika sejumlah kamera infotainmen, pada Bulan Ramadhan ini, menangkap tubuh Dewi yang tertutup pakaian hitam panjang yang dilengkapi jilbab dan cadar. Dalam penampilan seperti itu, hanya mata Dewi yang masih bisa kita pandang. Pada momen tersebut, seolah terjadi pembalikan. Erotisme dan sensualitas tubuh Dewi seperti hendak dihilangkan dan kini sebagian kita mungkin dibuat bingung dengan penampilan itu. Sebagian kaum infotainmen langsung menuduh penampilan itu sebagai sebuah “ajang cari sensasi” belaka. Yang lain menyebut langkah itu diambil Dewi supaya dia bisa mendapatkan job pada saat Bulan Ramadhan sekaligus usaha mengambil simpati kaum agamawan-moralis.

Spekulasi-spekulasi tersebut tentu saja wajar dan bisa jadi memang benar. Cuma, dalam kerangka “studi tubuh”, perubahan drastis Dewi Persik itu lebih baik dimaknai sebagai contoh yang pas tentang bagaimana ke-plastis-an tubuh—sekali lagi sebagai sistem tanda—secara radikal tengah berlangsung. Tubuh Dewi yang semula selalu ditampilkan secara terbuka, sensual, dan erotis, tiba-tiba kini dirubah menjadi sebuah tubuh yang ditutup rapat. Dua cara menampilkan tubuh yang berbeda itu seharusnya mengonstruksi dua identitas yang berbeda. Sebab, seperti pernah disebut Dani Cavallaro (Teori Kritis dan Teori Budaya; 2004), cara memperlakukan tubuh dalam suatu masyarakat bukan hanya merupakan perkara fisikal saja. Tubuh juga perkara kultural yang penting. Cavallaro bahkan menyebut tubuh sebagai sarana presentasi kategori kultural tertentu sekaligus sebagai alat pelestari kategori tersebut—inilah yang saya maksud sebagai “sistem tanda”.

Cuma, pendapat Cavallaro itu tak “mempan” jika dikenakan pada Dewi Persik—dan juga pada banyak tubuh kontemporer lain. Tentu saja, kita cukup waras untuk tak mengatakan bahwa pemakaian jilbab dan cadar oleh Dewi Persik merupakan sebuah usaha untuk mempresentasikan kategori kultural tertentu yang oleh tradisi dianggap memiliki “hubungan erat” dengan model pakaian itu. Apapun motifnya, sampai hari ini kita tetap sulit percaya jika ada yang bilang bahwa Dewi Persik telah “mengubah halauan” kategori kulturalnya secara sungguh-sungguh, murni, dan bukan demi sensasi.

Tuduhan sejumlah infotainmen tentang motif Dewi yang tak tulus dalam memakai jilbab dan cadar, membuktikan bahwa tubuh Dewi tetap dipandang dan dinilai sebagai tubuh yang “erotis” dan “sensual”; penutupan tubuh itu hanya dianggap sebagai kerja sesaat demi sensasi atau kepentingan lain sehingga tak mengubah penilaian “publik” sama sekali. Oleh karena itulah, penutupan tubuh itu tak serta merta menghasilkan kategori kultural baru. Lebih dari itu, Dewi Persik pun saya kira memang tak sedang berusaha mempresentasikan kategori kultural yang sama sekali baru secara sungguh-sungguh melalui cara berpakaiannya itu. Barangkali, ia cuma mengejar sensasi dan berita.

Cara pandang Cavallaro mengandaikan adanya “hubungan yang erat” antara cara memperlakukan tubuh dengan kategori kultural tertentu. Hubungan ini mungkin mirip dengan relasi penanda-petanda dalam semiotika Saussurian yang dideskripsikan sebagai hubungan yang relatif mapan dan stabil. Masalahnya, “hubungan yang erat” dan relatif stabil serta mapan itu mungkin saja kini telah bergeser—dalam dunia ilmu tanda, stabilitas relasi penanda-petanda ala Saussure sudah digugat sejak lama oleh banyak pemikir, terutama mereka yang seringkali disebut sebagai penganut paham post-strukturalis.

Cara memperlakukan tubuh, bagi sebagian orang, tidak lagi merupakan cara mempresentasikan kategori kultural tertentu—apalagi sebagai wujud pelestarian kategori kultural tersebut. Tubuh kontemporer harus dilihat sebagai tubuh yang plastis secara radikal: ia bukan hanya telah lepas dari kodrat-kodratnya yang alami tapi juga mungkin saja telah mengelak dari tuntutan kategori kultural yang dulu amat membebaninya.

Demikianlah, hari ini kita bisa menyaksikan seorang Dewi Persik yang gemar “berolahasmara di atas panggung” sampai “orgasme”, bisa memakai pakaian tertutup yang selama ini hanya “dimiliki” kaum muslimah yang amat puritan dan teguh dalam mengemban keyakinan mereka. Pemakaian jilbab dan cadar itu, sebagaimana banyak contoh lain, menggambarkan hubungan antara cara memperlakukan tubuh dengan kategori kultural tertentu yang mulai renggang. Jilbab dan cadar, hari ini, bukan hanya mempresentasikan kategori kultural seorang wanita muslimah yang amat tegas dan teguh memegang ajaran agama yang dipeluknya, tapi juga milik seorang Dewi Persik yang jelas-jelas dipersepsi oleh sebagian besar masyarakat kita sebagai pemilik kategori kultural yang berbeda.

Tentu saja, dalam kasus yang “normal”, cara memperlakukan tubuh masih memiliki “hubungan yang erat serta stabil” dengan kategori kultural tertentu. Masih banyak jilbab dan cadar yang dipakai wanita-wanita muslimah yang teguh—sebuah contoh di mana ke-plastis-an tubuh, juga gejala pelepasan penanda dari petanda, sebenarnya tidak pernah berlaku secara universal. Namun, gejala ke-plastis-an itu juga muncul di mana-mana. Bukan hanya pada jilbab dan cadar Dewi Persik tapi juga pada tubuh yang kita temukan di sekitar kita; atau jangan-jangan, gejala macam itu juga telah terjadi pada tubuh kita sendiri.

Sukoharjo, 14 September 2008
Haris Firdaus

(foto saya ambil dari sini)

20 comments:

Tukang Nggunem September 15, 2008 at 5:30:00 PM GMT+8  

Opo bener to si Mbake aneh kuwi saiki pake jilbab dan cadar? tenane??? opo ra sumuk yo, wong mbaknya pethakilan gitu kok polahe...hahahaha...paling yo cuma dalam rangka ramadhan iki wae bro, coba ditunggu bulan depan masih gak...

Tedy September 16, 2008 at 11:38:00 PM GMT+8  

Setuju, paling2 cuma bln ramadhan ini aja...

haris September 17, 2008 at 10:37:00 AM GMT+8  

To: tukang gunem dan tedy
justru cuma dipake pas ramadhan itu loh mas, berarti asumsi saya tambah bener!he.

Fajar Indra September 17, 2008 at 12:55:00 PM GMT+8  

hmmm dewi persik? wah, saya sudah terlenjur mensejajarkan dia dengan mbak Sora Aoi dan Maria Ozawa je, jadi saya ndak bisa komentar, nanti subyektif...

huehuehueheuhue (namanya juga komentar, ya subyektfip :p)

salam kenal,

Cebong Ipiet September 18, 2008 at 1:37:00 PM GMT+8  

wes susah mas merubah stigma tentang dewi di sel otak saya heuheuheuehu

haris September 18, 2008 at 5:42:00 PM GMT+8  

to: fajarindra
soro aoi, maria ozawa? sapa tuh (he2. pura2 lugu)

to: cebongipiet
iya, saya juga susah merubah stigama ttg si dewi . kadung.he2

ROZI KEMBARA September 18, 2008 at 11:51:00 PM GMT+8  

TUBUH SELAIN MENJADI ARENA BAGI EKSPLORASI SENI, SPIRITUAL, FILSAFAT, IA JUGA MENAJADI LAHAN UNTUK BERDIRINYA KAPITALIS-KAPITALIS IBLIS...!
YA, TUBUH JADI SEBUAH INDUSTRI BARU YANG MENGGIURKAN....
DAN TENTANG YANG ANDA TULIS KAWAN, BUKTI TUBUH YANG TERJERAT KAPITALIS. TUBUH YANG TERJAJAH.

Bagus Pras September 19, 2008 at 12:19:00 PM GMT+8  

Bung Fajarindra.., punya koleksinya Sora Aoi dan Maria Ozawa ga? .., he h he he

Buat pemilik blog:
Baju adalah media penyesatan, baju seolah mencitrakan diri sang pemakai apapun modelnya.

Setuju atau tidak, saya suka melihat wanita cantik dengan baju model apapun. Sopan atau tidak sopan adalah selera mata.

Kabuuuuuuuuuuuur

dind.dhan September 21, 2008 at 10:39:00 AM GMT+8  

wah wah wah....mas haris diam2 suka mengamati dewi persik..hayo!!!!

ivanmuhtar September 22, 2008 at 9:19:00 AM GMT+8  

Kasihan Dewi, dia menjadi pengemis dengan melakukan sesuatu yang tidak membuatnya lebih mulia. Ia justru terhina oleh dirinya.
Payah juga dunia sekarang ini............

Haris Firdaus September 22, 2008 at 12:00:00 PM GMT+8  

to: rozi kembara
tubuh yang terjajah kapitalis? mngkn benar...

to: bagus pras
baju juga tak selalu menyesatkan kok

to: dind.dhan
kowe punya nic name baru ya ndut? he. lah sy suka mengamati siapa saja, termasuk dewi persik. ha2

to: ivanmuhatr
menjadi pengemis ya? he2.

suarahimsa September 23, 2008 at 11:07:00 PM GMT+8  

Patut disayangkan memang kesadaran kritis perempuan terhadap kapitalisasi sensualitas tubuh perempuan tidak berkembang dengan baik. Padahal wacana kesetaraan gender dan feminisme telah bercokol dalam kesadaran perempuan. Di sisi lain, paham tubuh postmodern yang mementingkan citra tampaknya bersaing ketat dengan feminisme. Ini semakin problematik mengingatkan sekelompok kecil perempuan merasa apa yang dilakukannya bukan semacam eksploitasi tubuh. Perempuan malah merasa mendapatkan keuntungan materi yang melimpah. Terjadilah simbiosis mutualisme antara pemilik modal dengan sensualitas tubuh perempuan.

Yah, mungkin ibu kita Kartini hanya bisa bersedih didalam kuburnya melihat realitas perempuan Indonesia sekarang

haris September 26, 2008 at 2:46:00 PM GMT+8  

to:suarahimsa

feminisme di indonesia belum bisa menyentuh seluruh perempuan dlm segala lini. selalu saja ada yg luput...dan patriarki, eksploitasi, dll, masih saja ada

.::yenihayatku::. October 3, 2008 at 8:09:00 AM GMT+8  

mas tulisannya bagus...
met lebaran yach...
saya memang tak mahatahu, meski bisa berprasangka, mending saya angkat tangan aja deh berkomentar...
terkhir liat dewi persik ya saat maen tali pocong perawan itu..
gak nyambung banget...

fatamorgana October 27, 2008 at 1:09:00 PM GMT+8  

artikel yg menarik. Saya juga termasuk yang tidak suka dengan cara Dewi Persik bergoyang. Selain itu, cara dia menghadapi celaan masyarakat juga tidak simpatik. Ada gula ada semut. Ada goyang erotis yaaa...ada yang 'piktor'.

Rivai October 27, 2008 at 8:36:00 PM GMT+8  

Artikel yang bagus! Menambah wawasan saya sebagai pembaca...!

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP