Manusia, Ajal, Catatan

>> Monday, September 22, 2008



Saya membayangkan Natasha Anya pada sebuah malam menjelang ajalnya tiba. Pada malam yang senyap itu, saya bayangkan ia membolak-balik halaman buku kumpulan puisi Subagio Sastrowardoyo. Sampai pada sebuah halaman, ia berhenti dan takjub. Sebuah puisi tentang kematian dari Subagio membuat ia terpana. Sebagian karena puisi itu memang bagus, sebagian karena ia merasa begitu akrab dengan kata-kata yang menghiasi puisi itu.

Dan kematian makin akrab, seakan kawan berkelakar/ yang mengajak/ tertawa—itu bahasa/ semesta yang dimengerti—/ Berhadapan muka/ seperti lewat kaca/ bening/ Masih dikenal raut muka/ bahkan kelihatan bekas luka/ dekat kening/...


Dalam bayangan saya, seandainya Sha—panggilan akrab Natasha Anya—pernah membaca puisi “Dan Kematian Makin Akrab”-nya Subagio yang pasasenya saya kutip di atas, pasti ia akan jatuh hati. Mungkin karena puisi itu bicara tentang kematian—sesuatu yang juga diakrabi Sha. Tapi tak semata-mata karena itu. “Dan Kematian Makin Akrab” adalah sebuah narasi yang afirmatif terhadap kematian. Dalam puisi itu, maut bukan sebentuk horor. Sebaliknya, kematian adalah sesuatu yang akrab, “seakan kawan berkelakar”, kata Subagio.

Saya tak tahu dari mana Subagio mendapatkan perumpamaan “seakan kawan berkelakar” untuk maut. Bagi saya, menyandingkan—apalagi memperbandingkan—maut dengan kawan berkelakar adalah sesuatu yang “terlampau berani”, bahkan untuk seorang penyair sekalipun. Bagaimanapun, bagi manusia biasa seperti kita-kita ini, amat sulit menganggap maut seakan kawan berkelakar. Sebab, selalu ada sesuatu yang menakutkan dari ajal, selalu ada rasa jirih yang timbul kala ia mendekat. Betapapun kita adalah manusia yang soleh, betapapun kita adalah insan yang telah paripurna amalnya, kita toh manusia biasa yang dipenuhi gentar dan keringat dingin.

“Kematian yang riang”, seperti tertuang dalam “Dan Kematian Makin Akrab”, mungkin adalah sesuatu yang dirindukan Sha. Tapi kerinduan itu agaknya tak sepenuhnya terpenuhi. Bagi Sha, kematian tetap sebuah horor yang mengentakkan. Dalam postingan terakhir di blog yang ia kelola sebelum ajal menjemput dirinya pada 16 Agustus 2005 lalu, Sha menuliskan bagaimana maut menerornya melalui sebuah mimpi.

Dalam catatan berjudul “Mimpi Buruk” itu, ia mengisahkan dirinya bermimpi ada di sebuah rumah sakit untuk menunggu giliran dioperasi. Setelah menunggu selama beberapa jam, Sha pun mendapat giliran dioperasi. Kepalanya digunduli. Tapi, setelah itu, tubuhnya tak dipakaikan pakaian operasi. Yang dibungkuskan pada badannya justru kain kafan. Setelah itu, ia justru dibawa ke kamar mayat. “Pak nunut mbungkus,” kata sang perawat di mimpi itu pada penjaga kamar mayat. Setelah kejadian menyeramkan itu, ia sempat dikejar-kejar hantu dalam mimpinya.

“Mimpi Buruk” diposting ke Blog “The Melodies of Life”—sekarang tak bisa lagi diakses—pada 16 Agustus 2005 pukul 11.01. Beberapa saat setelah posting itu dipublikasikan, beredar kabar Natasha Anya meninggal dunia. Ia diberitakan tiada pukul 1 siang. Detik.com mencatat, mulai pukul 21.25 hari itu juga, ucapan belasungkawa atas kematian Sha mengalir ke blog tersebut. Berita kematian Sha disebarkan oleh kawannya, sesama blogger, dan setelah itu beredar luas di kalangan blogger. Situs warta online Detik.com bahkan meliput kematian itu dalam sejumlah beritanya.

Apa yang kemudian membuat kematian Sha menjadi berita adalah karena kejadian itu hampir berbarengan dengan catatan terakhirnya yang juga bicara tentang kematian meski hanya hadir dalam sebuah mimpi. Kejadian macam ini jelas sesuatu yang langka, sehingga layak untuk dikonsumsi lebih lanjut. Tapi, kisah Sha juga menjadi kontroversi berkepanjangan karena identitas perempuan yang diwartakan meninggal pada usia 23 tahun itu masih terus dipertanyakan keasliannya. Ada sejumlah pihak yang yakin bahwa Sha hanya sebuah tokoh rekaan, meski banyak pula yang percaya perempuan keturunan Tionghoa itu adalah manusia nyata.

Parahnya, mereka yang pernah berkorespondensi dengan Sha via dunia maya atau telepon ternyata tak pernah bertemu secara fisik dengan sosok itu. Alamat rumahnya tak ada yang tahu. Beberapa blogger dan netter hanya mengaku pernah berkomunikasi via telepon, chatting, atau korespondensi melalui blog atau forum diskusi online. Foto-foto dirinya yang sempat beredar juga tak bisa dijamin keasliannya.

Kontroversi Sha beredar luas di kalangan blogger tahun 2005. Di sejumlah blog dan situs berita online, berita soal Sha menjadi primadona. Fiksi dan fakta tentang dirinya membuat banyak orang penasaran sehingga berbagai debat pun digelar. Sejumlah orang melakukan investigasi. Detik.com menurunkan wartawannya ke Solo—kota di mana Sha tinggal—untuk meliput sejumlah tempat yang berkaitan dengan perempuan itu. Tapi, semua kontroversi itu agaknya tak menemui jawaban yang benar-benar akurat.
***

Saya tak ingin melanjutkan polemik soal keaslian Sha. Saya hanya ingin menunjukkan, dalam kondisi tertentu, ada relasi yang unik antara manusia, ajal, dan catatan. Kita pernah mengenal Chairil Anwar yang mati muda dan meninggalkan sedikit puisi dan prosa. Tapi sedikit puisi dan prosa itu, ditambah banyak faktor lain—termasuk kisah hidup dan kematian Chairil—akhirnya membuat ia dikenang dan begitu dihormati. Hari kematiannya diperingati di mana-mana dan banyak penyair Indonesia hari ini masih membebek pada dia—sesuatu yang saya kira justru berlawanan dengan semangat Chairil sendiri.

Soe Hok Gie juga begitu. Ahmad Wahib demikian pula. Juga, Natasha Anya. Tapi membandingkan Sha dengan sosok mereka tentu saja tak berimbang: Sha belum tentu sosok real; lagi pula catatan yang ia tinggalkan sama sekali tak istimewa—jauh jika dibandingkan dengan tokoh-tokoh itu. Tapi, sama dengan mereka, Sha meninggalkan catatan.

Sebagai anak muda zaman modern yang penuh teknologi, ia tak lagi menulis di buku tulis lusuh, tapi di blog: media baru yang mencerminkan sebuah era baru dalam publikasi tulisan. Betapapun catatan-catatan Sha sebenarnya hanya mirip catatan harian yang mungkin tak banyak bermanfaat bagi mereka yang tak kenal diri pribadinya secara langsung, kenyatannya catatan-catatan itu memberi arti tersendiri bagi hidupnya yang singkat—jika ia memang benar-benar ada.

Bagi mereka yang dijemput ajal, catatan-catatan yang pernah dibuat pasti memberi arti tersendiri. Termasuk ke dalam catatan-catatan itu adalah yang disimpan dan dipublikasikan di blog. Sampai di sini, saya ingat sebuah komentar Eka Kurniawan di blog milik Totot Indarto. Kata Eka, sembari menyitir Goenawan Mohamad, ngeblog adalah aktivitas untuk “mencatat yang kelak retak”. Saya tersenyum membaca kalimat itu, seolah mendapat suntikan tenaga baru. Di alam kubur—sekali lagi jika ia benar-benar ada—Sha mungkin juga akan tersenyum jika membaca komentar Eka.

Sukoharjo, 21 September 2008
Haris Firdaus

gambar diambil dari sini

4 comments:

suarahimsa September 23, 2008 at 11:14:00 PM GMT+8  

saya tertarik dengan kematian. Karena itu hal paling absolut diantara segala kenisbian yang ada di bumi ini.
Konon semakin banyak orang lebih takut mati daripada takut akan Tuhan lagi. Ketika hidup semakin enak, orang tak ingin hidupnya diambil sebelum jam yang disepakati itu. Sejak dulu ketakutan purba itu tampil dalam drama-drama klasik, seperti muncul dalam Everyman’s Death. Orang cemas melihat pasir gelas pengukur waktu umurnya kian menipis, dan terus menipis. Perasaan diteror pun ikut merecoki rasa cemas akan mati itu.

haris September 25, 2008 at 4:00:00 PM GMT+8  

To: Suarahimsa

"Konon semakin banyak orang lebih takut mati daripada takut akan Tuhan lagi."

kayake sih gitu. kematian memang sesuatu yg absolut, menakutkan kadang, dan selalu menggetarkan!

Dony Alfan October 5, 2008 at 4:40:00 AM GMT+8  

Walaupun hidup seribu tahun,kalo tak sembahyang apa gunanya?

haris October 6, 2008 at 3:12:00 PM GMT+8  

kayake gak ada gunanya, mas. ha2

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP