Sebab Waktu (Boleh Jadi) Adalah Puisi

>> Saturday, August 23, 2008


Ketika standarisasi waktu dibuat pada 1884, waktu telah berubah menjadi semacam ilmu pasti. Pada momen itu, tatkala terjadi penetapan meridian nol di Greenwich yang membagi dunia menjadi 24 zona waktu yang merata, seperti disebut Ferdiansyah Thajib, seluruh dunia akan mengalami waktu yang sama: tiap kepala di bumi ini akan menemui satu hari, misalnya, sebagai 24 jam dan bukan kurang atau lebih.

Lalu kita mengenal jam dan kalender. Kita memahaminya sebagai “alat pengukur waktu” tapi diam-diam sebenarnya keduanya telah berubah. Dari sekadar “alat” menjadi “hakikat”. Jam dan kalender kini adalah wujud waktu itu sendiri. Kita hampir tak bisa mengenali sesuatu yang dipanggil sebagai “waktu” secara konkret kecuali melalui perwakilan jam atau kalender.

Maka waktu kemudian sama dengan perputaran jam, pergantian hari, perpindahan bulan, atau perayaan tahun baru. Angka-angka itu kemudian menjadi pengantar buat kita guna mengerti dan menghayati apa itu waktu. Pada akhirnya, sebentuk konsep yang abstrak memang membutuhkan “perwakilan” ketika berhadapan dengan manusia. Selalu harus ada representasi untuk mereka yang abstrak atau tak terlihat.

Tapi representasi selalu mrucut: selalu ada yang tak bisa direpresentasikan seperti The Symbolic tak pernah bisa mencakup keseluruhan dari The Real—untuk memakai kategori dalam psikoanalisa Lacanian di sini. Oleh karena itu manusia bisa terkurung dalam waktu tapi waktu yang mengurungnya itu tak pernah benar-benar mencakupi seluruh kesadarannya. Selalu ada yang tertinggal, selalu ada yang tersisa. Saya kira, karena itu pula manusia bisa merenungi waktu sembari tetap berada di dalamnya.

Kapitalisme modern boleh-boleh saja membagi waktu dalam standar-standar berdasarkan jam kerja atau tidak. Melalui relasinya dengan modal dan uang, waktu kemudian dikelompokkan ke dalam kategori-kategori tertentu seperti waktu kerja dan waktu luang. Satu kategori dibedakan dengan yang lainnya berdasarkan “nilai tukarnya”: waktu kerja dianggap laik ditukar dengan uang sedangkan waktu luang tidak.

Sejarah memang membuktikan: manusia tak bisa lepas dari perangkap kategori macam ini. Tapi sejarah juga sebenarnya tak murung-murung amat. Sebab, selalu ada celah untuk keluar dari jerat macam itu, hampir selalu tersedia ruang bagi kita untuk tak menghayati waktu berdasarkan kategori macam itu. Dalam sejumlah kisah hidup seniman bohemian, atau kisah tentang “generasi bunga” atawa kaum hippies, kita melihat betapa kategori macam itu dijungkirbalikkan, bahkan dirusak sama sekali. Waktu kerja, juga ibu kandungnya yang bernama kapitalisme modern, dilawan bukan dengan sebuah revolusi proletar, tapi dengan semacam “perlawanan eksistensial”—pertempuran yang lebih banyak dilakukan dalam medan hidup individu, bukan medan sosial.

Itulah kenapa seorang eksistensialis bernama Nicholas Alexandrovitch Berdyaev (1874-1948) menyebut manusia bisa menghayati waktu dalam dimensi yang tidak tunggal. Ada memang dimesi waktu kosmis yang bertalian dengan jam atau kalender, tapi juga ada dimensi kesejarahan yang merelasikan dengan masa lampau dan imajinasi ke depan. Tapi yang terpenting, ada pula dimensi subyektivitas di mana manusia menghayati waktu berdasarkan keadaan individunya. Dimensi ketiga ini memang sekonyong menemui musuhnya tatkala terjadi gejala “homogenisasi waktu”. Tapi, saya tak yakin bahwa hegemoni standarisasi waktu itu akan meruntuhkan kemampuan manusia menghayati waktu dalam subyektivitasnya yang unik dan berbeda dari liyan.

Saya tahu, subyektivitas atau “daya subyektif” manusia sebagai subyek memang suatu debat yang pelik dalam sejarah filsafat dan melibatkan serombongan besar pemikir dengan pendapat-pendapat yang canggih. Tapi sekelumit bukti singkat tentang bagaimana sejumlah orang mampu secara sadar keluar dari standar waktu ala kapitalisme, misalnya, bisa menjadi sebuah terang cahaya yang mengingatkan saya bahwa di hadapan waktu, manusia bukan sosok yang kehilangan daya sama sekali.

Yang bisa dikatakan hanyalah: kita mungkin terperangkap di dalam waktu yang telah distandarisasi, tapi diri kita—setidaknya itu berupa pikiran atau daya refleksi—bisa menjangkau ke luar dari standarisasi itu. Meski mungkin saja hanya sejenak, kita bisa terbebas dari kategori dan standarisasi macam itu. Saya kira, itulah kenapa Albert Einstein dengan baik kemudian menyebut bahwa “ruang” dan “waktu” adalah sesuatu yang relatif.

“Duduk selama 30 menit di atas bara api, akan terasa lebih lama daripada duduk selama dua jam bersama orang yang Anda sukai.”
Saya menemui kutipan yang kurang lebih berbunyi begitu dalam sebuah buku yang membicarakan biografi singkat Einstein. Kalimat itu—yang secara kurang lebih hampir sama pernah dikutip dalam sebuah film—adalah penjelasan paling gampang sekaligus populer tentang teori relativitas Einstein.

Secara singkat, dari kalimat itu bisa disimpulkan bahwa penghayatan kita atas waktu tak selamanya hanya dipengaruhi oleh standarisasi yang dibuat manusia atasnya tapi juga bergantung pada kondisi individual kita. Dalam kategori waktu yang mapan, 30 menit akan selalu “dianggap” lebih sebentar dibandingkan dua jam. Secara logis, tak ada sesuatu yang salah pada tarik-simpul macam itu . Tapi ketika kategori waktu semacam “30 menit” atau “dua jam” diimbuhi dengan “kondisi” tertentu yang bisa memengaruhi “psikologi” manusia—semacam bara api atau orang yang kita cintai—hasilnya bisa jadi lain. Di sinilah apa yang oleh Berdyaev disebut sebagai “waktu dari alam subyektivitas” menemu bentuknya. Pada titik itu, bukan lagi kategori matematis yang berlaku tapi penghayatan subyektif.

Oleh karena itu, di hadapan manusia, waktu tak melulu harus sama dengan ilmu pasti—yang punya kategori dengan presisi yang eksak dan amat ketat. Ia justru bisa menjelma menjadi sesuatu yang “relatif” seperti dikatakan Einstein, atau “subyektif” dalam keyakinan Berdyaev. Dengan kata lain, waktu bisa jadi adalah sebuah “puisi”: ia mungkin saja dihayati secara berbeda oleh satu manusia dengan lainnya. Sebagai “puisi”, waktu barangkali akan ditafsir dengan hasil yang masing-masing kita tak sama. Tentu saja, selalu ada yang menyertai dalam tafsir itu: semacam struktur yang mengikat atau memberati interpretasi kita agar selalu ada dalam jalur tertentu. Tapi, sekali lagi, struktur itu tak selamanya mencakup keseluruhan kita. Tetap akan ada yang mrucut. Dengan kata lain: masih ada kemungkinan ia menjelma jadi “puisi”.

Sukoharjo, 21 Agustus 2008
Haris Firdaus

4 comments:

Just For Music August 24, 2008 at 2:19:00 AM GMT+8  

mbak/mas hehehe... blognya pasangi iklan biar dapat duit aku liat di search engine blog saudara lumayan teratas , ni link program bisnis www.kumpulblogger.com yang menyediakan iklan dan kita dapat bayaran

.::yenihayatku::. August 28, 2008 at 10:54:00 PM GMT+8  

selalu ada hal inspiratif dari tulisan sampean mas...
koq gak pernah bosen sampeane ya?

salam dan balas, Demis
Nb: nih alamat baruku mas..
mohon diadd di link sampean.. :)

haris September 2, 2008 at 3:57:00 PM GMT+8  

to: wahyu reza
waktu gak bs dihentikan tapi bs diperlambat. he2

to: yehihayatku
terima kasih, mas. yah udah mutusin utk nulis terus sih. jadi bosen ga bosen

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP