Kaos yang Kehilangan Petanda

>> Wednesday, August 6, 2008



Kerinduan membuatku seperti tanaman yang menenggelamkan dirinya kembali ke dasar bumi. Aku mengenakan kaos yang tidak terlalu panas waktu itu, untuk memelukmu. Seperti waktu yang menyatakan dirinya lewat mata kanak-kanak. Dan kau pilih baju sutra berwarna merah, di sebuah kota, yang belum juga kau jahit hingga kini. (Sajak “Membuat Baju Untukmu”, Afrizal Malna).

Dari Afrizal Malna, kita juga bisa belajar tentang kaos. Penggal sajak Afrizal yang saya kutip di atas dengan baik menggambarkan kaos sebagai sebentuk “pembebasan tubuh”. Kaos yang tidak terlalu panas, adalah kaos yang memberi kelonggaran: ia meledakkan potensi tubuh manusia untuk bebas bergerak, untuk bebas memeluk. Metafora ini bisa dipanjangkan sampai jauh, tapi saya kira cukup disebut bahwa riwayat kaos dalam sajak “Membuat Baju Untukmu” di atas adalah kisah tentang tubuh manusia yang kerapkali mengalami ketegangan.

Pada kenyataannya, sejarah kaos—yang dimulai antara akhir abad 19 sampai awal abad 20—memang mengandung semacam kisah ketegangan tubuh manusia. Kalau kita percaya—seperti yang pernah dikemukakan Michel Foucault—bahwa tubuh manusia selalu ada dalam “tegangan” dan “tarik-menarik” antara kekuatan eksternal di sekeliling manusia dengan kekuatan internal yang bersumber dari tubuh manusia itu sendiri, maka kita juga bisa percaya bahwa kaos, melalui sejarah kemunculannya, adalah sesuatu yang mengandung “rekam jajak” tentang ketegangan itu.

Seperti pernah ditulis Antariksa, kaos—atau yang kadang dipanggil dengan sebutan kaos oblong—yang hari-hari ini hampir-hampir dipakai tiap orang di manapun—di pasar atau mall, di kampus atau kos-kosan, di masjid atau gereja—sebagai “pakaian luar”, pada awal mulanya adalah sesuatu yang dinisbatkan sebagai “pakaian dalam”. Fungsi kaos sebagai pakaian luar baru bisa tersebar ke seluruh dunia tatkala John Wayne, Marlon Brando, dan James Dean—melalui film-film yang mereka bintangi—mengenakan kaos sebagai pakaian luar.

Itu terjadi pada tahun 1950-an. Tapi bukan berarti setelah ketiganya mengenakan kaos sebagai pakaian luar, dunia segera merubah pikirannya. Pada tahun-tahun itu, konvensi mode dunia masih beranggapan bahwa kaos tetap merupakan “pakaian dalam”. Titik. Oleh karenanya, mengenakan kaos, ditilik dari konvensi mode dunia kala itu, adalah sesuatu yang “unfashion”.

Namun, justru konvensi macam inilah yang melambungkan kaos. “Kelompok-kelompok anak muda pemberontak” segera saja mengadopsi kaos sebagai bagian dari identitas diri mereka. Sebagai anak-anak nakal yang mengangankan diri mereka menjadi orang yang keluar dari norma sosial yang ada, sejumlah kelompok seperti punk kemudian ramai-ramai mengenakan kaos—yang disobek lengannya—sebagai sebentuk penolakan sekaligus resistensi terhadap konvensi mode dunia.

Di sinilah “rekam jajak” soal ketegangan itu terlihat. Ketika sejumlah anak muda yang menolak konvensi mode dunia ramai-ramai memakai kaos, mereka pada dasarnya sedang melakukan “pembebasan”, merayakan “otonomi” mereka atas tubuh dan gaya pakaian mereka sendiri. Kaos, oleh karena itu, adalah sebentuk lambang yang merepresentasikan “kebebasan”.

Tapi itu dulu. Sekarang ini, kaos bukan medium yang hanya menyampaikan pesan tunggal—semacam semangat perlawanan di zama dulu. Hari ini, kaos adalah medan dengan pesan komunikasi yang agak membingungkan karena ia mengandung amat banyak pesan beragam, juga kadang-kadang memiliki paradoks. Apalagi, kaos bukan hanya meruapkan pesan karena bentuknya saja—sesuatu yang lazim terjadi pada jenis pakaian apapun—tapi juga karena jenis baju ini memang seringkali memuat pesan dalam artinya yang denotatif.

Ya, kaos-kaos yang bergambar atau bertuliskan pesan tertentu memang amat mudah kita jumpai di mana-mana. Teks-teks yang mengkomunikasikan pesan tertentu—mulai ajakan jihad melawan Amerika sampai tantangan bercinta—adalah sebentuk kelaziman. Justru kaos oblong yang polos, tanpa tulisan atau gambar apapun, kini makin jarang kita jumpai kecuali di penjual-penjual kaos. Agakanya, kita telah sepakat bahwa kaos bukan hanya sebentuk pakaian, tapi juga alat menyampaikan pesan terbuka.

Tapi, perkembangan tren kaos terbaru justru kian membingungkan. Sebab, pesan-pesan yang dikandungnya makin tak mudah dipahami. Kini—seperti disampaikan Antariksa—misalnya, kita bisa menemukan seorang ibu muda memakai kaos bertuliskan “Bitch” sambil menggandeng anaknya. Atau, kita juga sering melihat anak-anak muda yang di kaos yang mereka pakai tertulis pesan-pesan seram seperti “Panitia Hari Kiamat”, “Penghuni Neraka Nomor 1”, atau “Buronan Mertua”.

Dalam logika identitas, segala hal yang kita pakai adalah sesuatu yang ingin kita komunikasikan. Dan, sesuatu yang ingin kita komunikasikan berarti merupakan sesuatu yang hendak kita ambil sebagai “penanda” kita. Kita ingin orang lain melihat, memahami, dan menilai diri kita melalui penanda tersebut. Kalau segala hal di dunia ini mesti melewati representasi, maka tiap orang memang hanya bisa dilihat melalui penanda yang ia komunikasikan. Artinya, orang lain akan selalu melihat diri kita dari penanda yang kita kenakan. Mereka tak akan pernah mampu secara simultan menilai “kesejatian diri” kita tanpa melewati tahap pemaknaan terhadap penanda kita.

Kaos ada dalam fungsi sebagai penanda itu. Ia merupakan pakaian yang mengandung teks terbuka dan gamblang. Orang akan mudah membaca pesan pada kaos yang kita kenakan. Mereka akan menilai kita dari pesan itu dan kita pun lazimnya menginginkan hal yang demikian.

Namun, dalam contoh kasus ibu muda yang menggunakan kaos bertuliskan “Bitch”, benarkah logika penanda-petanda yang konvensional masih berlaku? Benarkah sang ibu yang sedang menggandeng anaknya itu ingin diidentikkan atau dipandang dan dinilai sesuai dengan petanda yang ada di balik kata “bitch”? Atau jangan-jangan, sang ibu tak memahami arti kata “Bitch” dalam Bahasa Inggris?

Saya kira persoalannya bukan ada dalam pemahaman bahasa. Kata “Bitch” sudah terlampau akrab di telinga kita dan lagi, dalam contoh yang selanjutnya, di mana seorang pemuda memakai kaos bertuliskan “Penghuni Neraka Nomor 1”, kendala bahasa tak lagi berlaku. Dalam misal yang kedua itu, sang pemuda tentu memahami apa itu “neraka” dan apa artinya menjadi “penghuni neraka nomor 1”. Lalu, benarkah ia—melalui kaos yang dikenakannya—hendak menyampaikan bahwa dirinya adalah orang yang akan menjadi penghuni neraka pertama kali?

Menurut saya tidak. Si ibu yang memakai kaos bertuliskan “Bitch” ataupun sang pemuda yang mengenakan kaos dengan tulisan “Penguni Neraka Nomor 1” tak benar-benar ingin dilihat sesuai dengan pesan tertulis yang ada dalam kaos mereka. Dalam kasus macam ini, saya kira, kita mesti melihat adanya fenomena “terlepasnya petanda dari penanda”. Ya, pada misal tersebut, kita mungkin tak lagi bisa melihat kaos sebagai penanda yang memiliki petanda. Kaos yang bertuliskan “Bitch” atau “Penghuni Neraka Nomor 1” bukan lagi sebuah simbol dengan makna yang pasti di sebaliknya.

Alih-alih menganggapnya sebagai penanda yang masih terus memegang petandanya, kita harus melihat kaos-kaos macam itu sebagai penanda yang tanpa petanda. Itu mungkin saja berarti ia merupakan sebuah simbol tanpa makna. Sebab, mereka yang memakai kaos macam itu memang tak lagi mengkomunikasikan petanda yang sesuai dengan pesan dalam kaos mereka.

Saya menduga, tujuan utama pemakaian kaos model begitu bukan lagi untuk menyampaikan pesan denotatif sesuai dengan tulisan yang ada, tapi sekadar supaya mereka “terlihat berbeda”. Jadi, ketika seorang ibu muda memakai kaos bertuliskan “Bitch” misalnya, ia tak sedang ingin benar-benar dianggap sebagai “bitch”. Juga, ketika ada remaja tanggung yang mengenakan kaos oblong dengan tulisan “Penghuni Neraka Nomor 1”, sebenarnya ia pun tak ingin dinilai dan dipandang sebagai seorang yang benar-benar menghuni neraka. Motif keduanya, saya kira, hanyalah agar diri mereka terlihat berbeda di hadapan orang lain.

Sampai di sini, saya harus mengambil logika diferensiasi yang pernah diperkenalkan Jean Baudrillard tatkala menganalisa proses mengonsumsi dalam masyarakat konsumer. Baudrillard menyebut, di dalam masyarakat konsumer, konsumsi digerakkan semata-mata menuruti logika diferensiasi: artinya, konsumsi dilakukan guna menegaskan perbedaan-perbedaan tertentu. Proses mengonsumsi bukan lagi menjadi proses pemenuhan kebutuhan, tapi proses penegasan perbedaan.

Sebuah barang dikonsumsi bukan karena ia bisa memenuhi kebutuhan real sang konsumer. Tapi, sebuah benda dibeli karena ia bisa memberikan semacam “perbedaan” pada si empunya sehingga sang konsumer menjadi terlihat “berbeda” dengan orang lainnya. Di sinilah prestise, gaya hidup, atau kelas sosial, kemudian ditegaskan.

Bagi saya, logika diferensiasi dalam konsumsi itulah yang juga sedang menjangkiti sebagian kita tatkala memakai atau mengonsumsi kaos. Apalagi, laku memakai kaos sebenarnya juga merupakan bagian dari proses konsumsi. Tujuan yang menggerakkan sebagian manusia tatkala mengonsumsi kaos bukanlah motif menegaskan identitas tertentu yang secara denotatif tergambarkan melalui teks yang ada dalam kaos yang ia kenakan—seperti penegasan identitas sebagai muslim yang militan ketika memakai kaos bergambar Osama bin Laden. Yang menggerakkan proses mengonsumsi itu, bisa jadi, hanyalah sebuah hasrat untuk berbeda.

Di sinilah “rekam jajak” tentang ketegangan tubuh manusia kembali terlihat. Ketika kaos telah beralih dari medium “penyampai pesan” menjadi alat “pembuat perbedaan”, sebenarnya pemaknaan atas tubuh pun menjadi berlainan. Tubuh manusia, bukan lagi sekadar sarana dengan mana sebuah identitas yang “relatif stabil” ditegaskan, tapi sebuah medium tempat perbedaan disemai. Dan, kalau dulu perbedaan itu berkait dengan soal identitas tertentu, kini perbedaan itu mungkin saja tak ada kaitannya sama sekali dengan soal “identitas”, terutama dalam pengertiannya yang lumrah.

Dengan kata lain, perbedaan itu adalah sesuatu yang sama sekali tak stabil: ia akan segera beralih rupa tatkala ada kehadiran liyan yang mengancam perbedaan yang ia “kenakan”. Konkretnya, perbedaan yang ingin diperlihatkan itu tidak lagi dilakukan demi sesuatu yang lebih besar. Perbedaan disemai semata-mata hanya karena seorang manusia ingin terlihat “berbeda”. Di sini, satu-satunya identitas yang akhirnya muncul adalah perbedaan itu sendiri.

Sukoharjo, 6 Agustus 2008
Haris Firdaus

5 comments:

Tukang Nggunem August 7, 2008 at 2:56:00 PM GMT+8  

Kalo saya yang penggemar kaos ini semata karena kaos adalah pakaian tersimpel. Kalo urusan "tarik menarik" dan "tegang menegang" jarang saya alami di badan bagian atas saya...tapi lebih sering ke badan bagian bawah,hahahaha...mungkin sebaiknya sampeyan baca tips merawat kaos dari saya, biar koleksi kaos sampeyan gak cepet rusak,hehehe...numpang promosi blog bro...

Wahyu Reza Prahara August 7, 2008 at 7:37:00 PM GMT+8  

hehe...
pandangan yang luas dan kritis tentang kaos...
salam kenal

haris August 9, 2008 at 5:50:00 PM GMT+8  

TO: tukang gunem
sy dah bc tips2 mu, mas. sy juga pakai kaos. soal tegangan, no comment back.

TO: wahyu reza
thanks. slm kenal jg

gus August 12, 2008 at 4:01:00 PM GMT+8  

bagi Njenengan. Kaos itu semacam puisi ya. beginilah kalau satrawan muda memaknai kaos. hehehe

haris August 13, 2008 at 9:44:00 AM GMT+8  

To; gus

semua barang bs kita lihat lewat puisi, mas. he.

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP