Sebuah Hujan yang Puisi

>> Friday, August 1, 2008

(Tentang Antologi Puisi “Aku Ingin Mengirim Hujan”)


Puisi Indonesia modern adalah sosok yang akrab dengan hujan. Saya bayangkan, keduanya adalah karib yang telah lama saling kenal, sudah terlampau sering bertemu untuk bercakap, dan kadang pergi berduaan ke tempat yang jauh. Ketika melihat sosok keduanya yang karib, mungkin saja kita senang, tapi bisa jadi kita akan lebih sering bosan.

Kehadiran hujan sebagai objek puitis dalam puisi Indonesia modern memang telah lama terjadi. Hujan adalah garapan yang sudah jadi klasik, beberapa orang bahkan menyebut hujan sebagai “objek kuno” dalam puisi. Kita mungkin tak bisa menemukan jawab yang pasti kenapa hujan selalu menjadi kawan yang menemani perpuisian kita, dari masa ke masa.

Tapi salah satu sebab yang mungkin bisa dikemukakan adalah adanya relasi yang intens antara penyair dengan alam—terutama di zaman lampau. Terlebih di zaman dahulu, alam adalah sesuatu yang terus-terusan memukau dan menggetarkan manusia. Keterpukauan dan ketergetaran itulah yang kemudian—oleh sebagian orang yang bermental penyair—kadang digubah jadi puisi.

Maka kita saksikan kemudian sejumlah hal yang berkait dengan alam sampai hari ini menjadi objek favorit dalam perpuisian kita: malam, bulan, bintang, matahari, hujan, dan kawan-kawannya. Pelan tapi pasti, kebiasaan menggubah objek-objek itu menjelma jadi “tradisi”—yang dijalankan secara sadar atau tidak.

Tatkala membaca Antologi Puisi “Aku Ingin Mengirim Hujan” yang berisi sajak-sajak 19 “penyair muda” Semarang itu, saya seperti mendapat kesan yang menegaskan bahwa puisi dan hujan adalah duo sekawan yang bisa datang kapan saja ke hadapan kita. Yang membawa mereka ke haribaan kita juga bisa siapa saja: seorang penyair terkenal macam Sapardi Djoko Damono, atau pemuda kurus gondrong berkaus kumal yang mendaku dirinya sebagai “penyair”.

Kumpulan puisi yang diterbitkan sebuah komunitas sastra bernama “Komunitasku” dan Dewan Kesenian Semarang pada Juni 2008 itu, memang tak mematok tema “hujan” sebagai acuan utama. Puisi yang bercerita soal hujan dalam antologi itu, secara kuantitatif, juga tidak dominan. Tapi dibandingkan dengan sejumlah tema lain, hujan bisa dianggap cukup menonjol karena sejumlah sajak secara terus terang bercerita soal hujan—juga, beberapa sajak lainnya menggunakan kata “hujan” meski tak menjadikannya tema utama. Selain itu, pemilihan judul antologi itu juga menyiratkan bahwa hujan adalah sesuatu yang cukup layak dibicarakan dalam antologi ini.

Berangkat dari sinilah percakapan tentang “Aku Ingin Mengirimu Hujan” hendak saya mulai. Sejumlah “sajak hujan” saya jadikan pilihan utama. Cuma, sayangnya, percakapan ini mungkin akan kurang sempurna karena buku antologi yang saya terima ternyata cacat: ada sekira 20 halaman yang hilang sehingga sajak-sajak yang tercecer itu otomatis tak akan masuk dalam percakapan ini.
***

Sejumlah sajak dalam antologi ini menampilkan hujan dalam relasinya dengan persoalan cinta dan hubungan manusia. Hujan yang demikian adalah suasana haru, semacam kondisi yang membuat hati kita bergetar. Barangkali, dalam sajak-sajak yang demikian, tak akan kita temukan jurus-jurus puisi mutakhir ala Joko Pinurbo atau Afrizal Malna, tapi mungkin saja ia tetap bisa membuat kita terharu, juga kadangkala bergetar.

Puisi “aku ingin mengirim hujan” adalah puisi yang dengan baik menghadirkan hujan dalam relasinya dengan cinta. Tidak ada trik puisi istimewa dalam karya Gema Yudha ini. Ia hadir dengan bersahaja, tidak macam-macam, dan hampir-hampir sepenuhnya “taat” dengan konvensi lirik:

aku ingin mengirimu hujan/ tapi kemarau terlampau galau/ membiarkan rerumput tumbuh di pori-pori tubuh./ dan mantramantra orang tua terlanjur dirapalkan/ maka biarkanlah kulit kita mengadu kerling/ di udara yang lindap/juga jangan hentikan jika nanti kuceritakan/ cerita tentang kata-kata/ yang gantung diri di kamar tidur;/ sebab di luar cuaca menanam kebencian yang senyap // aku cuma akan menjaga/ ingin mengirimu hujan/ yang meski.//

Saya menganggap puisi sederhana ini sebagai puisi yang bagus. Di sana, ada semacam cerita tutur yang biasa saja, tapi dikisahkan dengan baik. Percakapan yang digelar, seperti mendedahkan suasana-suasana yang menarik kita larut, meski makna dan konsep adalah sesuatu yang selalu bisa diperdebatkan. Saya amat suka “mendengar” bunyi frasa per frasa dalam puisi itu di dada saya tatkala saya membacanya. Ada sesuatu yang terdengar istimewa: seperti frasa “hujan yang meski” atau “kulit kita mengadu kerling”. Kalau “hujan yang meski” adalah penutup yang terbuka sekaligus semacam “hujan yang puisi”, “kulit yang mengadu kerling” adalah cerita tentang keintiman yang dinarasikan dengan bagus.

Puisi Gema lainnya yang berkisah soal hujan adalah “babad hujan”. Puisi ini juga sebuah sajak lirik yang penuh penghayatan personal. Hujan hadir dalam relasinya dengan kenangan—sesuatu yang juga jamak terjadi dalam perpuisian Indonesia. Puisi ini tetap lumayan, tapi tak sekuat “aku ingin mengirim hujan”:

akhirnya kita menemukan sehelai benang tipis/ untuk mengikat bau hujan;/ wangi kenangan yang hilang saat jatuh/ menyentuh ingatan// ...// hujan pun kini semakin renta/ tak cuma lupa membawa kenangan;/ ceritacerita orang tua/ bahkan untuk jauh dan merenda//

Puisi “hujan, daun dan jalan” karya Agustinus Reinaldi adalah narasi tentang hujan yang panjang, tapi tak terlampau baik, terlalu berhamburan kata—padahal hujan mungkin jauh lebih khidmat dihayati dalam suasana yang “sepi kata”. Kisah yang berputar pada hujan, daun, jalan, dan rindu, yang dikait-kaitkan dengan sejumlah baris “Aku Ingin”-nya Sapardi Djoko Damono, justru menghasilkan “kisah yang tak murni”. Kisah yang hadir justru kisah yang berkhotbah:

...Hujan tak pernah diberitahu,/ di mana ia harus turun pada akhirnya,/ tak pernah diajar merencanakan tempat selanjutnya;/ ia tak pernah diam di satu tempat,/ ia harus ada di semua tempat dan menjadi temanmu....

“Malam itu” karya Adieets Kaliksanan mengisahkan hujan bersama seorang gadis berambut sebahu yang membaca puisi. Ini sebuah pola penulisan puisi yang bukan baru: membuat hujan menjadi sosok manusia, lalu mengaitkannya dengan gadis dan puisi. Sayang, cara penulisan puisi ini terlampau biasa, sebagai sebuah sajak lirik yang baik—yang seharusnya menyentuh keintiman kita—ia juga kurang berhasil. Cerita yang berputar pada deskripsi hujan, perempaun berambut sebahu, dan puisi, pula akhirnya hanya berujung pada “kenangan”: sesuatu yang sudah terlampau sering kita dengar dalam puisi. Simak penggal sajak itu:

Hujan dan gadis berambut sebahu/ Membaca puisi di antara kita/ Tentang manusia/ Yang lupa/ Tapi kita/ Hanya/ Tertawa// Gadis itu lantas/ Menari bersama hujan/ Tak pernah berhenti/...

Sajak “perempuan kena hujan” yang ditulis Lestari Nugraheni juga mengaitkan perempuan dengan hujan. Bedanya, dalam sajak ini, hujan lebih berfungsi sebagai “tempelan”. Dan, uniknya, dalam sajak ini lagi-lagi saya menemukan bahwa hujan selalu dikaitkan dengan hubungan kemanusiaan—dalam sajak ini, hubungan itu maujud dalam sebuah kisah penantian:

...kau masih berdiri dengan almanak cacat di/ tangan/ menunggu perempuan kena hujan membawakan/ rumput teki/ dan guguran akasia menguningkan jalan/ jalan// ada yang menumpahkan jejak hujan dari pepohonan/ di atasmu// :itukah kau,/ menyamar sebagai angin lagi, sayang?//

“Requiem”-nya Yuswinardi memandang hujan secara lain. Ia mengaitkannya dengan televisi, sehingga hujan dalam puisinya bisa dimaknai lepas dari sekadar fenomena alam di mana air jatuh dari langit:

aku ingin hilang saja dalam televisi/ atau menyelinap dalam keriuhan hujan disuatu pagi/ remote yang selalu menguap dan terbata-bata antara/ berita,/ iklan dan semacam drama yang tak henti-hentinya/ mengalirkan air mata dan bualan senja/ bosan tapi waktu tak henti-hentinya menipu/....

“Keriuhan hujan di suatu pagi” yang membuat aku-lirik ingin menyelinap, sangat mungkin lebih berkonotasi pada fenomena berjatuhannya informasi dan tayangan dari kotak kecil bernama televisi: sesuatu yang konon hari ini makin menjadi entitas yang kehilangan maknanya. “Requiem” adalah catatan tentang kisah tragis manusia yang tertelan atau malah secara naif menyerahkan diri untuk ditelan ke dalam “keriuhan hujan” informasi yang penuh banalitas dan kenaifan.

“Kepada Merah”-nya Setyo Andi Saputro tak becerita soal hujan memang. Tapi dalam puisi yang berupa percakapan rumit dan panjang itu, hujan disebut satu kali. Ia memang hanya menjadi latar, tapi yang menarik, hujan hadir bersama dengan sesuatu yang juga jarang disebut: “air mata tuhan”.

‘Masih terlalu pagi untuk bicara tentang malam...’, selalu itu yang kau ulang-ulang tiap kali kita bertemu dalam percakapan; Entah kita bercengkerama di gereja kecil yang kau dirikan tepat di bawah rimbun kamboja yang kutanam sejak aku masih muda; entah ketika kita masih tersengal dan berkeringat usai bercinta dalam barisan ayat-ayat doa; juga ketika sepasang kaki kita berlarian mencetak tapak-tapak mungil di sela-sela kerikil yang terseret bersama bening hujan yang tertumpah bersama air mata tuhan;... tapi bagaimana caraku untuk membunuh keraguan diantara deerap sepatu lars bertali hitam milik para santri yang beteriak dengan makian-makian haram? Sejujurnya kuyakini aku tak pernah bisa paham, Bagaimana seseorang bisa disalahkan ketika tak ada sedikitpun niat untuk menoreh darah, melainkan hanya sekadar bicara tentang indahnya merah

Membaca puisi panjang yang berisi renungan soal “tuhan”, “kebenaran”, dan “para santri yang berteriak dengan makian-makian haram” itu, saya tahu sedang diajak menelusuri percakapan yang dibuat rumit dan panjang, juga lama, tentang bagaimana sebuah keyakinan bisa demikian diktator dan menindas mereka yang liyan. Lalu di manakah hujan? Hujan, sebagai fenomena alam, ternyata disebut-sebut “tertumpah bersama air mata tuhan”. Dalam puisi itu, dengan kata lain, hujan adalah sesuatu yang hadir bersama dengan duka Tuhan: sebuah Zat yang atas Nama-Nya sebuah sengketa manusia sering terjadi. Oleh karenanya, hujan dalam puisi itu—selain sebagai latar—juga sebuah metafor tentang ruap kesedihan yang sampai ke dunia dan secara tragis menjadi semacam ejekan bagi “para santri yang berteriak dengan makian-makian haram”.

Sajak “jazz”-nya Andri Indradi mencantumkan atribusi di bawah judulnya yang berbunyi: “untuk sajaknya: sapardi”. Membaca sajak itu, saya menduga Andri hendak menjadikan sajaknya sebagai “interteks” dari sajaknya Sapardi Djoko Damono. Sajak manakah itu kira-kira? Baca dulu penggalan sajak “jazz”:

di sela daun/ ada jazz juni/ yang meluncur terjun/ ke atas punggung jangkrik yang hancur// aku menunggu/ udara berbisik dan/ dongeng hujanmu/ menentramkan mayat jangkrik di tangan kananku// di sela daun, ada/ yang menungguku./ jazz juni mati/ dilumat waktu.// kau menungguku,/ udara di tangan kirimu/ jadi mayat dan/ dongeng hujanku tak lagi berkalimat.//

Membaca puisi itu, saya menduga-duga bahwa sajak Sapardi yang dimaksud Andri adalah “Hujan Bulan Juni”—frasa “jazz juni” yang membuat dugaan itu muncul. Tapi saya tak yakin dengan dugaan itu karena tatkala saya mencoba membandingkan “jazz”-nya Andri dan “Hujan Bulan Juni”-nya Sapardi, saya tak menemukan “kaitan” yang membuat saya bisa lebih lezat membaca dua sajak itu. Mungkin saja dugaan saya salah.
***

Sebuah hujan yang cukup berarti dalam puisi adalah “sebuah hujan yang puisi”: bukan sebiji hujan yang kita temui tiap musim kemarau lewat. Sebuah hujan yang puisi adalah sebentuk sosok yang mengajak kita masuk lebih dalam, merasakan derai-derai air yang berjatuhan, tapi juga menyentakkan kita dengan imajinasi-imajinasi cerdas yang baru.

Dalam antologi “Aku Ingin Mengirim Hujan” ini, tidak tiap hujan yang Anda temui adalah “hujan yang puisi”. Sejumlah hujan adalah hujan biasa saja yang jika Anda bertemu dengannya, saya sarankan, Anda sebaiknya memakai “payung”.

Sukoharjo, 31 Juli 2008
Haris Firdaus

7 comments:

gus August 3, 2008 at 2:58:00 AM GMT+8  

horeee....jadi komentator yg pertama.....
btw, patungan nulis novel yuk Kang. dah dipesen sama penerbit tapi gak kelar2 neh....

haris August 3, 2008 at 11:58:00 AM GMT+8  

tengkyu, mas. wah, patungan nulis novel? gimana tuh?

gus, bukan teman biasa August 4, 2008 at 11:10:00 PM GMT+8  

ada draft novel di tgn saya. Mas ahris kan jagoan mengimajinasikan peristiwa. nah naskah tersebut kita slesein bareng2 gitu....gmn? feenya blm bisa banyak seh mas...

Anonymous August 5, 2008 at 3:13:00 PM GMT+8  

yah betul bgt Ris, hujan dan puisi memang terlau sering berdua, banyak disukai penyair. yah , waktu itu tgl 9 juni, bbrp waktu yg lalu, dikotaku tiba2 hujan di sore itu, lalu ada sms mauk" ada hujan di bulan Juni". betul spt ending tulisanmu ,sore itu aku hrs berteduh di kantor (kebetheng) karena hujan beneran, bukan puisi. he he (puitri)

Anonymous August 5, 2008 at 3:14:00 PM GMT+8  

aku kog belim punya antologi itu ya..? (puitri

haris August 5, 2008 at 9:14:00 PM GMT+8  

to: gus. wah, itu menarik, mas. tapi butuh pembicaraan lbh detail. he2

haris August 5, 2008 at 9:16:00 PM GMT+8  

to: puitri.

antologi itu gak dijual. cm diedarin terbatas. aku dikasih gema. kamu minta ma dia aja.

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP