Subversi

>> Saturday, July 26, 2008



Dalam hidup yang sudah terlampau banyak cincong ini, sebuah puisi seharusnya hadir sebagai sebentuk subversi—dalam artinya yang dinamis. Puisi—atau fiksi yang lain—sudah sepantasnya datang sebagai semacam alternatif—sekali lagi, dalam maknanya yang dinamis—guna membikin “yang berbeda” hadir pada hidup kita yang sudah dimakan iklan dan dibuat bosan oleh politik.

Pada soal ini, saya hampir sepenuhnya sepaham dengan Sapardi Djoko Damono: “tugas” fiksi adalah membuat jeda sejenak dari rutin yang mengelilingi kita. Kehadirannya membuat kita bisa melakukan perjalanan “ulang-alik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Perjalanan itu, hampir terus-menerus menjadi sesuatu yang selalu kita butuhkan selama kita masih ingin bertahan jadi “orang waras”: ia menjadi semacam ritual yang menjaga kita tetap ada dalam sejenis “keseimbangan”.

Saya kira itulah kenapa Sapardi mewanti-wanti mereka yang menulis sastra di koran untuk tak mau kalah dengan berita. Ya, hari ini, kita adalah manusia-manusia yang tak lagi mudah terkejut atau gampang menyebut sesuatu sebagai sensasional. Teknologi yang terus dipercepat itu telah memungkinkan kita melihat banyak hal ganjil, langka, sekaligus menggetarkan, dalam frekuensi yang amat sering.

Televisi telah membuat kita bisa tahu segalanya tapi sekaligus membuat derajat perhatian kita pada hal-hal itu menjadi amat minim. Kita bisa jadi masih menonton berita pembunuhan, tapi masihkah kita akan tergetar menonton peristiwa macam itu? Kita masih saja melihat kemiskinan di televisi atau koran, tapi masihkah ia menjadi sesuatu yang membuat kita merasa memiliki empati? Saya tak tahu: adakah media massa telah sampai pada ambang batas kemampuannya. Mungkinkah kini, straight news yang memenuhi koran dan televisi telah sekadar menjadi sebuah data tanpa dampak, sebuah berita kesedihan tanpa duka cita dan tangisan?

Tanpa adanya blow up—yang kadang harus “melibatkan” banyak media massa—misalnya, sebuah kejadian akan mudah kita lupakan, juga membuat bosan. Media massa, sesuai kodratnya, memang hanya bisa memberi sesuatu yang mungkin saja secara kuantitatif amat banyak tapi secara kualitatif menjadi amat jauh dari “kebutuhan” pribadi kita. Oleh karenanya, ia bisa sangat membosankan, bahkan sebelum ia benar-benar sampai di depan mata kita.

Pada titik itulah puisi seharusnya hadir. Dengan tubuh tergopoh yang kokoh atau malah sudah siap roboh, ia mungkin akan datang pada kita secara kebetulan. Kita mungkin awalnya merasa sama sekali tak terkesan padanya dan telah siap mengusirnya pergi dari hadapan kita. Tapi percakapan sebentar dengannya bisa jadi akan membuat kita terpesona, lalu kita akan menyilakan ia tinggal lebih lama. Dan, kita akan mendengarkan ia banyak bicara dalam waktu yang jauh lebih lama.

Setelah semua itu, mungkin saja kita mendapati diri sendiri sebagai seorang yang telah kuyup metafora atau telah menjelma menjadi manusia yang teliti pada diksi atau rima. Tiba-tiba, ia telah ada di hati dan kita membawanya ke mana saja kita pergi. Kita boleh saja berpisah dengannya—lama atau sebentar—tapi suatu saat kita yakin akan menemuinya kembali: mungkin saja ia yang kembali datang pada kita atau justru kita yang mendatanginya sambil tergopoh-gopoh. Di situlah, sebuah puisi akan jadi subversi.

Masalahnya, tak semua puisi—atau fiksi—selamanya menjadi subversi. Kadangkala, ia justru menjadi sekadar “repetisi” dari dunia yang kita diami sehari-hari. Ya, tidak semua puisi yang kita jumpai akan memberi kita subversi: sebagian hanya mendedahkan kata-kata yang “belum jadi”, sebagian lainnya sibuk memberitahu sesuatu yang sudah kita dengar ribuan kali melalui berita, sinetron, kitab suci, kuis, atau iklan. Puisi dalam dua jenis itu sudah tentu akan jadi sesuatu yang justru menambah kebosanan kita.

Ya, di Indonesia hari ini—sebuah zaman ketika seseorang bisa memaki presiden tanpa harus takut masuk bui—saya sangat sering mengajukan pertanyaan: masihkah kita membutuhkan puisi-puisi bernada “protes”, misalnya? Bukankah Indonesia hari ini adalah sebuah negara yang hidup dari protes ke protes? Bukankah di jalanan atau tempat tidur, di kantor atau kamar mandi, kita masih bisa dan justru terus-terusan disuguhi protes? Masihkah puisi-puisi yang mendedahkan realisme protes sosial secara lugu perlu ditulis—kecuali mungkin sebagai latihan awal-mula saja?

Kita memang tidak bisa melupakan Taufiq Ismail, WS Rendra, atau Wiji Thukul. Mereka dan sejumlah penyair lain memang sosok penyair yang melahirkan sejumlah puisi bernada “protes” yang bisa dianggap sebagai sesuatu yang amat berarti bagi kita, bukan hanya sebagai pribadi tapi juga sebagai sebuah “bangsa”. Majalah Tempo—dalam edisi khusus 100 tahun Kebangkitan Nasional—bahkan menyebut ketiganya sebagai penyair yang berhasil menghasilkan puisi sebagai “roh gerakan” (kebangsaan?). Tempo bahkan hanya menyebut lima penyair beserta buku puisinya dalam edisi khusus itu: selain ketiganya, ada Chairil Anwar dan Agam Wispi.

Tapi Taufiq, Rendra, dan Thukul hidup dalam suasana yang berbeda amat jauh dengan kita. Taufiq ada dalam pusaran perlawanan terhadap orde lama: puisi-puisinya dalam “Tirani dan Benteng” adalah manifestasi dari “janji untuk bertindak” yang didorong oleh sejumlah demonstrasi. Rendra dan Thukul ada dalam era orde baru yang amat anti terhadap segala hal yang subversif. Maka, sajak-sajak pamflet Rendra dan kata-kata Wiji Thukul—“Hanya ada satu kata: lawan!”—menjadi sesuatu yang amat berarti kala itu karena tak banyak yang berani memproduksinya.

Sebuah sajak protes, bagi sebuah pemerintahan yang tak membolehkan kritik, bisa menjadi sesuatu yang amat “menakutkan” karena ia bisa membuat orang ramai tahu ada suara berbeda yang masih hidup. “Kewaspadaan” pemerintahan totaliter terhadap sajak protes, saya kira, sama dengan “kewaspadaan” sebuah pemerintahan berbasis agama terhadap pornografi atau ketelanjangan. Sajak protes, sama seperti ketelanjangan, bisa menjadi sesuatu yang subversif ketika ia ditempatkan dalam konteks yang tepat. Tapi keduanya hanya akan menjadi lucu ketika hidup dalam suasana yang tak mendukung.

Pada masyarakat yang dipenuhi protes, sajak protes hanya akan terdengar sebentar lalu dilupakan, atau malah lebih sering tak terdengar sama sekali. Ia tak akan menjadi subversi, tak akan menjadi sesuatu yang membuat kita lebih “waras”. Membaca sajak-sajak macam itu, mengambil kata-kata Sapardi, barangkali tak akan membuat kita berada dalam perjalanan “ulang-alik” antara yang nyata dengan yang imajiner. Membaca sajak-sajak yang demikian, mungkin kita justru akan diam di tempat atau segera merasa bosan dan kemudian cepat lupa bahwa kita pernah membacanya.

Sukoharjo, 24 Juli 2008
Haris Firdaus

7 comments:

gus July 27, 2008 at 5:47:00 PM GMT+8  

rasanya baru kemarin kita merdeka, jadi inget puisinya mustofa bisri lagi. kesemrawutan tatakelola negara membuat org menjadi tukang protes smua ya kang....

Tukang Nggunem July 27, 2008 at 8:29:00 PM GMT+8  

Walah otak saya kejang2 baca tulisan sampeyan...hehehe....pokoknya saya sepaham aja deh ma sampeyan, nggolek aman wae...hahahaha...

arip July 28, 2008 at 11:02:00 PM GMT+8  

mungkin ada benarnya jika ada yang bilang kita hidup dinegri preman

haris July 29, 2008 at 10:18:00 AM GMT+8  

To: gus
kesemrawutan itu yang bikin kita gampang marah, protes di mana2, dll. melelahkan hidup di negeri macam ini...

To: tukang nggunem
ha2. ojo kejang sik, mas.

To:arip
bukan sepenuhnya negeri preman kok.

poetryheart July 30, 2008 at 4:25:00 PM GMT+8  

kalo utk poltik jaman ini, apa puisi dan penyair yg cocok Ris? apa puisinya jok pin, dan jeda-jeda sajak di Kompas minggu itu, (puit

haris July 31, 2008 at 10:54:00 AM GMT+8  

to: puitri

puisi yang bisa jadi subversi atas dunia sehari2 kita, mbak. detailkan sendiri. he2

Anonymous December 24, 2008 at 12:24:00 PM GMT+8  

kalo saya berani cuma nulis puisi kamar aja. bukannya takut dituduh subversi dan masuk bui. tapi takut dikawain redaktur atau penerbit, he-he-he.

salam,
masmpep.wordpress.com

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP