Layang-layang

>> Wednesday, July 9, 2008


Dulu pernah kau belikan aku sebuah layang-layang
pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak
tapi hanya sejenak.
(Sajak “Layang-layang” Joko Pinurbo)

Beberapa hari ini, tiap kali pulang ke rumah kala sore hari, saya hampir selalu bertemu dengan anak-anak yang bermain layang-layang. Saya selalu takjub dengan mereka: anak-anak itu, dan selalu berpikir bagaimana mereka tahu bahwa sekarang lah musim bermain layang-layang. Ya, di beberapa kampung yang lain—setidaknya di Solo dan sekitarnya—hari-hari ini memang musimnya bermain layang-layang. Tiap sore, di lapangan yang masih tersisa, akan bisa kita temui anak-anak, remaja, atau kadang orang tua yang “ngulukke layangan”.

Melihat fenomena itu, saya selalu bertanya: bagaimana mereka—para pemain layang-layang itu—bisa sama-sama memutuskan bahwa saat inilah waktu yang tepat untuk bermain layang-layang? Bagaimanakah sebuah mainan tradisional yang terus terdesak seperti layang-layang bisa memiliki siklus permaian tersendiri tiap tahun? Ada yang memberi tahu saya: layang-layang memang memiliki siklus sendiri untuk dimainkan, tatkala musim kemarau datang dan angin banyak berhembus.

Tapi, bagaimana “kesepakatan” macam ini terbentuk? Bagaimana sebuah “tradisi” macam ini bertahan? Sebagai seorang yang tak menghabiskan waktu masa kecilnya dengan bermain layang-layang, pertanyaan-pertanyaan itu selalu timbul di benak saya. Tapi pertanyaan-pertanyaan macam itu mungkin tak akan bisa saya jawab. Yang bisa saya lakukan di sini, mungkin, hanya memandang layang-layang secara metaforis.
***

Bagi saya, memainkan layang-layang terlihat seperti sebuah “laku berharap”. Sebuah harapan, adalah sesuatu yang bisa kita terbangkan sangat tinggi, tapi di ketinggian ia mungkin saja akan terkena banyak cobaan: angin keras yang membuat harapan itu goyah, atau pohon yang membuat tali ikat harapan itu putus.

Kesenangan memainkan layang-layang, sama seperti sebuah laku berharap, oleh karena itu adalah kesenangan yang fana. Kita memang akan menemukan keasyikan saat melihat layang-layang itu terbang, melampaui pohon dan tiang listrik, serta seperti sedang ada di tengah-tengah awan. Melihat sebuah layang-layang di tengah awan, ada sebentuk kelegaan, sebuah kesenangan yang mungkin saja tak terkatakan. Tapi di sana, selalu ada semacam kewaspadaan: dari angin yang kencang, dari pohon, atau dari layang-layang orang lain yang datang melabrak kita.

Kesenangan yang fana itu, saya temukan pula dalam puisi Joko Pinurbo, “Layang-layang”:

Dulu pernah kau belikan aku sebuah layang-layang
pada hari ulang tahun.
Aku pun bersorak sebagai kanak-kanak
tapi hanya sejenak.

Bait singkat dari Jokpin itu amat sederhana tapi sekaligus tepat sasaran: membacanya kita akan langsung merasakan betapa singkatnya sebuah kebahagiaan, betapa singkatnya sorak sebagai kanak-kanak itu. Ya, kebahagiaan yang ditimbulkan karena layang-layang, memang kebanyakan singkat. Kenapa? Jokpin menjawab di bait selanjutnya:

Sebab layang-layang itu kemudian hilang,
entah ke mana ia terbang
Seperti aku pun tak pernah tahu kapan kau hilang
dan kembali kutemu.
Lehermu masing hangat meskipun selalu dikikis waktu.


Seperti yang kemudian bisa Anda tebak, kebahagiaan jadi fana ketika layang-layang itu kemudian hilang, entah ke mana. Ada sesuatu yang harus diakui di sini: menyandarkan kebahagiaan pada layang-layang adalah sesuatu yang buruk. Sebab, bagaimanapun, layang-layang bukan sebuah sandaran yang baik. Layang-layang, justru merupakan antonim yang sempurna dari sandaran: ia tak pernah tetap, selalu bergoyang, tak bisa memberi kepastian apa-apa.

Alih-alih memberi sandaran, layang-layang adalah sesuatu yang menolak adanya sandaran. Ia tak menyukai kepastian, ia menyukai terbang dan satu-satunya cinta yang diharapkannya adalah cinta dari angin. Maka, “aku lirik” dalam puisi Jokpin adalah sosok yang akan kecewa dan mungkin saja akan selamanya kecewa. Ketika “kau” yang dinantikannya itu adalah sosok yang secara metaforis ia gambarkan sebagai “layang-layang”, maka sebenarnya ia mesti memulai proses untuk menerima bahwa “kau” itu sangat mungkin tak akan kembali. Sebab, bukankah layang-layang juga seringkali tak kembali?

Sekarang umur pun tak pernah lagi dirayakan
selain dibasahkuyupkan di bawah hujan.
Tapi kutemukan juga layang-layang itu di sebuah dahan
meskipun tanpa benang dan tinggal robekan.
Aku ingin berteduh di bawah pohon yang rindang.


Bait terakhir Jokpin itu hanya menegaskan kemungkinan bahwa layang-layang tak akan pulang makin besar. Ia mungkin saja hanya bisa ditemukan, itupun dalam bentuk “tinggal robekan” dan “tanpa benang”.

Sukoharjo, 9 Juli 2008
Haris Firdaus

2 comments:

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP