Kesadaran yang Pecah

>> Monday, March 24, 2008




Di alam yang modern ini, bisakah waktu dihentikan, minimal dalam taraf kesadaran? Orang ramai akan menjawab: tidak. Atau, minimal, mustahil dilakukan. Tapi di sebuah sesi pelatihan olah ragawi yang saya ikuti, ada alternatif yang ingin bicara secara lain.

Manusia, kata orang yang melatih saya itu, bisa ada dalam kondisi yang sunyi, sekaligus amat lambat. Dengan cara memusatkan kesadaran pada tiap hal yang hendak dilakukan, sambil menyadari tiap tarikan sekaligus hembusan nafas, manusia bisa membentuk semacam lingkaran energi yang meng-upgrade tingkat kesadarannya sampai taraf tertentu. Di situ, manusia menjadi amat lambat.

Sebab, ketika sebuah kesadaran meningkat, maka hampir tiap gerak kita akan jadi sebuah laku yang dihayati. Ketika hampir tiap potensi kita untuk mengenali lingkungan menjadi sebuah kenyataan, manusia akan jadi sosok yang tak mungkin melakukan pengabaian-pengabaian.


Di situlah waktu berhenti, walaupun hanya dalam taraf kesadaran. Manusia modern yang sibuk, dengan waktu yang makin terasa cepat berlalu, adalah manusia yang melakukan banyak pengabaian. Ia, karena beban yang makin tambah, dan tingkat perbincangan serta komunikasi yang makin sesak, akhirnya menjelma jadi seorang yang mau tak mau harus melakukan banyak pengabaian.

Manusia modern yang tak mau ketinggalan—dalam segala hal—akhirnya memang mesti berlari. Tapi berlari hampir selalu berarti meninggalkan sesuatu di sebuah tempat. Itu artinya, ada yang diabaikan. Di situlah sebenarnya prioritas menjadi.

Proritas. Itu salah satu ciri jaman yang sibuk. Ketika kebutuhan manusia makin banyak, mutlak diperlukan sebuah usaha rasional guna mengatasi semua itu. Peningkatan informasi, perluasan pergaulan, semuanya menimbulkan sebuah kesadaran yang pecah. Lalu prioritas timbul. Bukan untuk mengutuhkan kesadaran itu menjadi sesuatu yang bulat dan penuh, tapi untuk mencegah ledakan yang menghancurkan kesadaran menjadi berkeping-keping.

Meditasi dan laku spiritual juga hendak membentuk kesadaran yang lebih utuh. Tentu saja bukan dengan membuat prioritas—seperti kehendak manusia modern—tapi dengan memusatkan kesadaran pada titik tertentu. Sampai di sini, kelihatannya meditasi tak jauh beda dengan usaha manusia di jaman sibuk: keduanya terlihat sama-sama melakukan pengabaian.

Tapi soalnya berbeda. Dalam artinya yang paling hakiki, barangkali, meditasi justru tak melakukan pengabaian sama sekali. Sebab, pada taraf yang paling tinggi, meditasi membuat kesadaran manusia menjadi sesuatu yang utuh, dan sama sekali tak pecah. Meditasi, pada asasinya, bukan gerak mengutuhkan kembali, tapi penegasan kesadaran yang memang dari sononya utuh.

Cuma, hal yang demikian hampir jadi mustahil sekarang. Saya dan Anda—para manusia di jaman sibuk—barangkali tak akan bisa sampai ke arah sana. Bagi kita, meditasi tetap sebuah upaya mengutuhkan kesadaran. Dengan kata yang lebih populis: meditasi adalah “pelatihan” memusatkan konsentrasi.

Dan paradoks pun terjadi. Manusia-manusia sibuk—Saya dan Anda—barangkali berpikir meditasi bisa menambah bekal kita menghadapi pergulatan hidup yang serba cepat. Dengan berlatih memusatkan kesadaran, Saya dan Anda sebenarnya tak berurusan dengan pencapaian-pencapaian. Pusat kesadaran yang kita tuju, sebenarnya cuma demi tujuan praktis.

Dalam waktu yang serba cepat, konsentrasi dan kesadaran memang jadi pecahan-pecahan. Kalau pecahan itu menjadi terlampau banyak, manusia bisa jadi akan kalah. Maka, agar pecahan itu tak terus mengalami retakan-retakan, mutlak dibutuhkan sebuah upaya agar kesadaran dan konsentrasi menjadi tak pecah berkeping-keping. Meditasi memungkinkan itu. Lalu banyak manusia mencobanya.

Tapi saya sangsi meditasi bisa sepenuhnya bisa diambil alih dunia modern. Paling tidak, secara logika keduanya berbeda. Jaman sibuk membutuhkan sesuatu yang instan, sesuatu yang tak terlampau bertele-tele. Tapi meditasi dan pemusatan kesadaran? Keduanya jelas sesuatu yang “bertele-tele”.

Bayangkan, seorang yang duduk selama berjam-jam, dengan hanya melakukan tarikan dan hembusan nafas sambil memusatkan pikiran, apakah itu bukan sesuatu yang “bertele-tele” di jaman ini? Akan banyak yang menjawab: iya. Tapi ada pula yang masih yakin dan coba-coba bermeditasi meski tahu bahwa kontaminasi hidup sibuk sudah mendarah-daging.

Di sini, upaya memusatkan kesadaran akan jadi terasa amat sulit. Saya mengalami itu. Ketika coba-coba melakukan meditasi, saya hampir selalu gagal. Kelebatan pikiran-pikiran selalu timbul tiap kali kesadaran diarahkan pada satu titik. Ketika kelebatan-kelebatan itu hendak saya undurkan, mereka memang menghilang. Tapi cuma sejenak.

Barangkali ada problem kebiasaan dan teknis memang. Tapi ada hal lain yang sekiranya lebih penting: barangkali memang ada semacam “kutukan” bagi manusia yang sudah dialiri waktu sibuk. “Kutukan” itu adalah kesadaran yang pecah, dan akan selamanya pecah. Di satu momen, ia memang bisa utuh. Tapi, malangnya, cuma sebentar.

Sukoharjo, 23 Maret 2008
Haris Firdaus

8 comments:

zen March 24, 2008 at 10:33:00 PM GMT+8  

orang-orang maca james joyce jago bener memainkan "arus kesadaran" dalam diri si tokoh sehingga kejadian beberapa detik bisa terasa berlangsung jauh begitu lama. katanya sih teknik macam ini disebut "stream of consciousness"

haris March 25, 2008 at 11:50:00 AM GMT+8  

di dunia nyata, bung zen, bagaimana sebenarnya arus kesadaran manusia bermain? adakah ia sesuatu yg otonom? adakah ia bs dikontrol?

lintang lanang March 25, 2008 at 12:28:00 PM GMT+8  

menurut saya sih bisa dikontrol mas.. cuma memang butuh latihan terus menerus.. dan mungkin bagi masing2 orang 'rasa' & 'nilai'nya berbeda.. jadi memang agak2 sulit mendeskripsikannya...

Okky P. Madasari March 25, 2008 at 9:18:00 PM GMT+8  

hihi..aku selalu suka diskusi tentang waktu..aku orang yang percaya waktu bisa dipercepat, diperlambat, dan dihentikan. cek ya : http://madasari.blogspot.com/2007/12/perhentian-waktu.html

haris March 26, 2008 at 3:25:00 PM GMT+8  

to: lintang lanang. tapi di dunia modern bung, sulit utk benar2 mengendalikan kesadaran itu. banyak hal yg membuat kesadaran itu jadi pecah!

haris March 26, 2008 at 3:26:00 PM GMT+8  

to: okky. sapardi pernah mengatakan bahwa yg fana itu waktu dan kita (manusia) abadi. agaknya sapardi jg sm dengan anda: suka mendiskusikan waktu.

lintang lanang March 27, 2008 at 1:42:00 PM GMT+8  

betul mas.. memang sulit.
tapi sesuatu yang 'sulit' bukan berarti 'tidak bisa' kan?

haris March 28, 2008 at 9:45:00 AM GMT+8  

barangkali demikian, mas lintang

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP