Laki-laki, Novel, dan Gerakan Mahasiswa

>> Sunday, January 27, 2008



Seorang kawan mengirimkan sebuah draft novel karyanya pada saya. Calon novel sulung kawan saya itu, berjudul “Laki-laki Pada Sebuah Hujan”, bercerita tentang gerakan mahasiswa. Gerakan mahasiswa? Ya, tema ini barangkali termasuk jarang hadir dalam novel Indonesia terutama yang kontemporer. Ashadi Siregar, melalui beberapa novelnya yang dianggap “populer”, pernah mengangkat seluk beluk dunia kemahasiswaan yang penuh liku-liku. Salah satunya yang paling terkenal, tentu saja “Cintaku di Kampus Biru”.

Tapi beda dengan karya Ashadi, dan juga Marga T yang memberi penekanan pada soal cinta, “Laki-laki Pada Sebuah Hujan” adalah “murni” soal gerakan mahasiswa. Di seluruh novel itu akan kita temui cerita-cerita “heroik” tentang bagaimana anak-anak muda yang punya kesempatan kuliah itu ternyata memiliki kegelisahan yang luar biasa besar. Mereka merasa tak puas dengan kondisi negara, dan pemerintahan yang korup, juga banyak hal buruk lain di negara mereka.

Lalu mereka berkumpul, berdiskusi, dan seperti yang kemudian kita tahu jawabnya, mereka berdemonstrasi, melakukan protes jalanan, bentrok dengan aparat, diadili, menderita depresi, sebagian dari mereka menyerah, sebagian lainnya tetap saja berjuang. Cerita-cerita macam itu, sudah banyak kita dengar memang, tapi bukan berarti tak layak buat diceritakan kembali. Ada kenangan yang akan bangkit, atau trenyuh saat membaca cerita-cerita heroik anak muda.

Termasuk, saat membaca “Laki-laki Pada Sebuah Hujan”. Kadang saya ikut larut dalam ketegangan saat para tokoh dalam novel itu sedang melakukan setting aksi, saat mereka meloloskan diri dari aparat, atau ketika kemudian demosntrasi yang mereka gelar ternyata berakhir bentrok. Saat mereka harus berbaring di jalan, menghadang aparat yang datang, tapi toh akhirnya mereka mesti menerima tendangan dari kaki-kaki aparat yang berlapiskan sepatu tebal nan berat.

Gambar-gambar tentang demonstrasi saat menurunkan orde baru—yang hanya saya lihat dari televisi—seperti berkelabatan kembali. Perjuangan para mahasiswa memang layak untuk dikenang. Dan, bagi kawan saya yang mantan aktivis mahasiswa itu, cara mengenang adalah dengan menuliskan kisah mereka dalam sebuah novel.

Dalam novel yang cerita utamanya mengalir di sekitar tokoh utama bernama Satryo itu, terlukis tentang bagaimana lika-liku perjuangan gerakan mahasiswa di Solo dalam ikut menumbangkan orde baru. Di kota yang terkenal dengan kerusuhannya itu, gerakan mahasiswa—saat protes terhadap Soeharto berkecamuk akhir 90-an—memang mengalami peningkatan aktivitas gerakan, termasuk yang radikal.

Novel itu melukis bagaimana Satryo harus terlibat dalam konstelasi gerakan mahasiswa di sekelilingnya, beserta seluruh resikonya. Ketika kemudian ia menyadari tak dapat menanggung resiko lebih jauh, Satryo akhirnya mundur, memilih melanjutkan kuliah setelah sebelumnya menandatangani surat pernyataan tak akan terlibat dalam gerakan politik. Ia kemudian lulus, bekerja pada sebuah perusahaan, melanjutkan hidup yang biasa.

Cerita besar novel itu memang hanya soal Satryo dan pilihannya untuk mundur dari gerakan mahasiswa yang membuat kawan-kawannya sempat berkonflik dengannya. Diselingi cerita cinta, novel itu mengalir lancar, dengan detail suasana dan kelengkapan data yang menyiratkan betapa penulisnya adalah manusia yang rajin mengumpulkan kepingan data yang berserak di mana-mana. Detail tentang nama-nama gerakan, detail tentang pelukisan beberapa tempat di Solo, adalah keunggulan novel ini.

Namun detail itu juga sekaligus mengandung resiko. Penulis yang berusaha menyajikan banyak cerita soal organisasi mahasiswa, terpaksa harus menyebut banyak nama dan memasukkan banyak tokoh dalam novel itu, yang sayangnya tak semua tergarap karakternya dengan baik. Beberapa tokoh datang silih berganti, beberapa tak sempat dideskripsikan lebih jauh. Bagi saya, terlalu banyak tokoh pendukung dalam novel itu.

Dan, yang membuat pembacaan saya terganggu adalah karena tokoh-tokoh itu muncul dalam bagian-bagian yang tak berurutan. Kadang di fragmen A si B muncul, lalu menghilang, lalu di fragmen Z muncul lagi. Saya tentu saja sudah lupa siapa si B itu, kecuali hanya mampu memberi penandaan hanya sebatas nama, tanpa karakter, tanpa atribut latar belakang.

Memang bercerita tentang gerakan mahasiswa adalah bercerita tentang sebuah laku kolektif. Penyebutan banyak nama, sebenarnya menyiratkan pendirian penulisnya bahwa perjuangan gerakan mahasiswa bukanlah perjuangan individu per individu, tapi perjuangan banyak manusia. Tapi, apabila tanpa penyiasatan tertentu yang dosisnya tepat, penyebutan banyak nama—yang otomatis membuat banyak tokoh yang harus terlibat dalam sebuah novel—akan membuat pembaca menjadi tidak fokus, menjadi tidak mampu berintim ria dengan tokoh novel itu.

Selain persoalan itu, persoalan lain yang saya temukan dalam novel itu adalah adanya bagian yang tak punya relevansi kuat dengan bagian lainnya. Bagian itu adalah bagian ketika penulis menceritakan tentang “krisis identitas” yang dialami Satryo. Satryo yang berasal dari leluhur Jawa itu besar di Lampung karena orang tuanya ikut transmigrasi. Dilihat dari garis darah, Satryo adalah orang Jawa. Tapi ia tak paham budaya Jawa sama sekali, sama halnya ia juga tak pernah paham betul budaya tempat ia dilahirkan dan besar.

Oleh orang Jawa, ia dianggap sebagai orang Lampung. Sebaliknya, oleh orang Lampung asli ia dianggap Jawa. Persoalan identitas ini—meski sebenarnya menarik dan harusnya dikembangkan lebih jauh agar ada kaitannya dengan cerita besar novel ini—bagi saya kurang terakit dengan cerita lain di novel tersebut.

Bagi saya, lebih baik persoalan identitas—yang sebenarnya potensial menjadi tema menarik itu—dikembangkan lebih jauh, lalu dikaitkan dengan garis besar novel yang berjalan, agar konflik dalam diri Satryo menjadi lebih kompleks, sekaligus tak terlihat dibuat-buat. Tapi, ini cuma kira-kira yang belum tentu tepat. Si penulis tentu saja punya kemungkinan lebih banyak tahu apa yang terbaik bagi karyanya.

Sukoharjo, 24 Januari 2008
Haris Firdaus

1 comments:

Anonymous December 20, 2008 at 11:32:00 AM GMT+8  

membaca blog ini membuat saya optimistis. generasi penerus H.B. Yassin sudah lahir. banyak dari kita yang membangun garis kepenulisan menjadi penyair, cerpenis, novelis, tapi tak banyak yang setia menjadi essais--kritik sastra.

saya mengikuti (sebagian) essai anda di SM. bernas. bertenaga.

o, ya. kira-kira novelnya layak terbit gak. di bukukatta misalnya (biar yang jadi penulis (buku) tak hanya anda, he-he-he).

salam,
masmpep.wordpress.com

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP