Aku Selalu Menyukai Suasana Stasiun

>> Thursday, January 31, 2008



“Aku selalu menyukai suasana stasiun,” katamu saat di sebuah sore menjelang petang kita duduk di bangku di Stasiun Tugu, Yogayakarta. Tapi kau tak pernah menjelaskan pada saya: suasana stasiun seperti apa yang kau sukai itu. Saat itu, hujan turun deras, sebagian tubuh kita basah karenanya, dan kita sedang menanti kereta buat pulang setelah melakukan perjalanan yang menguras keringat.

Stasiun adalah sebuah tempat yang berkait erat dengan interaksi sosial: di sana kita bertemu dengan orang-orang asing yang datang dan hendak pergi ke tempat yang tak kita tahu, tapi sekaligus di sana, terkadang, kita melepas orang-orang yang kita cintai buat pergi, untuk sementara, atau untuk selamanya.

Stasiun adalah sebuah tempat transisi, barangkali. Di sana kita cuma ada buat menuju tempat lain. Di stasiun, kita selalu datang dengan sebuah perencanaan yang ganjil: kita datang ke tempat itu justru untuk pergi ke tempat lain.

Stasiun juga tempat bersatu padunya dua kontradiksi: keasingan sekaligus kenangan. Keasingan datang menyergap kita ketika kita bertemu orang-orang dengan banyak latar sosial dan budaya, dan sama sekali asing buat kita. Tapi stasiun juga menambatkan sebuah kenangan tersendiri: ia mengingatkan kita pada kampung asal yang intim, atau justru memprovokasi kita pada tempat-tempat yang jauh.

Keasingan, sekaligus keintiman itu mengingatkan saya pada puisi Sapardi Djoko Damono:

“Siapakah namamu?” Barangkali aku setengah tertidur waktu kau tanyakan itu lagi. Bangku-bangku yang separo kosong, beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan dari jendela: siluet di atas dasar hitam. Aku tak pernah menjawabmu, bahkan ketika kau tanyakan jam berapa saat kematianku, sebab kau toh tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga.

Bukan kebetulan kalau puisi yang baris pertamanya saya kutip penuh di atas berjudul “Dalam Kereta Bawah Tanah, Chicago”. Kereta, sebagai sambungan dari stasiun, memang juga mendedahkan suasana yang kontradiktis itu: keasingan dan keintiman.

Lihat, bagaimana Sapardi melukis keduanya dengan sangat baik: pertanyaan yang berbisik tentang nama dan kematian adalah simbol keintiman. Tapi hal-hal lain dalam baris di atas sepenuhnya menandaskan keasingan: bangku-bangku yang separo kosong, beberapa wajah yang seperti mata tombak, dan siluet di atas dasar hitam yang dilihat dari jendela. Dua narasi tentang keintiman dan percakapan yang dekat dipadupadankan dengan keasingan dari benda-benda sekeliling yang tak akrab dengan “si aku lirik”.

Keasingan dan keintiman itu, seperti tarik-menarik. Dan akhirnya kita tahu: keasingan yang menang karena si penanya tadi ternyata “tak pernah ada tatkala aku sepenuhnya terjaga.” Artinya, pertanyaan tadi, ternyata semacam “bisikan gaib”, semacam ilusi, atau timbul karena kenangan. Di sebuah kereta bawah tanah di negeri yang jauh, “aku lirik” akhirnya menyadari bahwa ia hanya menemui keasingan. Keintiman yang ia rasakan, cuma sebuah perasaan gaib yang tak nyata.

Baiklah, hari ini kita namakan saja ia ketakutan, atau apa sajalah. Di saat lain barangkali ia menjadi milik seorang pahlawan, atau seorang budak, atau pak guru yang mengajar anak-anak bernyanyi—tetapi manakah yang lebih deras denyuntnya, jantung manusia atau arloji (yang biasa menghitung nafas kita), ketika seorang membayangkan sepucuk pistol teracu ke arahnya? Atau tak usah saja kita namakan apa-apa; kau pun sibuk mengulang-ulang pertanyaan yang itu-itu juga, sementara aku hanya separo terjaga.

Kalau tadi dialog hanya berjalan satu arah, kini “aku lirik” telah ikut nimbrung dalam obrolan itu. Ia memang hanya menggumam, melafalkan semacam senandika, tapi soliluqui tadi pun sebenarnya adalah sebuah “tanggapan”, sebuah balas dari percakapan. Meski ia tentu melantur, bicara dengan sedikit panjang, tapi senandika yang digumamkan “aku lirik” adalah penanda keintiman yang makin jauh. Tapi lagi-lagi di akhir, senandika itu terputus, dan keasingan seperti kembali meruyak karena kesadaran si “aku lirik” ternyata hanya “separo”.

Keasingan dan keintiman, itukah yang membuatmu menyukai suasana stasiun? Saya tak tahu. Tapi saya juga menyukai suasana stasiun, dengan satu catatan: kau duduk di samping saya.

Sukoharjo, 30 Januari 2008
Haris Firdaus

3 comments:

puitri February 2, 2008 at 5:03:00 PM GMT+8  

itulah yg penting Ris: tergantung siapa disamping kita kan. setasiun bagiku juga sangat unik, sebab bangunan tua yang indah peninggalan jaman BElanda menimbulkan kesan magis. banyak sejarah sudah tertumpah disitu. sepasang kekasih yg berperang dll. aku juga setasiun, aku lebih banyak sendiri di setasiun.. (besrsambung, tetst dulu ini bisa sent ndak?

puitrihati February 2, 2008 at 5:21:00 PM GMT+8  

maksudku tadi sepasang kekasih yang berpisah..., kisah perpisahan yg ditinggal perang. aku pernah dari solo ke yogya di setasiun tugu. sampai setasiun telp seseorang dari wartel (waktu itu blm ada hp), orang itu yang sangat istimewa waktu itu tidak ada. akupun pulang lagi kesolo dg kereta berikutnya. lalu terulang lagi , tapi aku sempat menunggu, waktu itu ada anak laki-laki kecil yang menyemir sepatuku, di setasiun TUgu, sekarang sdh nggak ada. hatiku yang sedah patah, jadi terhibur sedikit oleh anak kecil penyemir sepatu itu, dan sepatuku kembali bersinar. (wah iya, bikin puisi ah).. yah kenangan itu tak kan terulang. aku hampir sellau sendiri di setasiun. tapi aku selalu berjumpa dengan org yang kukenal, atau tak kenal jadi kenal. di setsiun gambir aku pernah ketemu org yang baru kukenal (gadis berjilbab, waktu itu jarang orang pakai jilbab), dia menunggu kekasihnya, aku sendirian, lalu kita kenalan, aku ingat, ia mentraktirku kentucy fried cikhen. kalo aku lagi fit pada dasarnya aku orang yang mudah ketemu teman baru. (menyenangkan kalau diingat). kelihatannya ada seribu satu kisah di setasiun. aku pernah sdh samapai dalam kereta, tapi kereta belum berangkat. tiba2 ada sms bahwa dokter yg mau kutemui batal krn ada acara nmendadak, ya sdh krn tdk ada yg akan kukerjakan di yk, aku pun turun lagi dari kereta yg hampir berangkat. tiketpun angus. dulu aku naik prameks masih 1500 perak. keretanya blm bagus gitu, msh pakai gerbong klas ekonomi yg solo-jkt itu. aku ingat waktu itu aku berlai-lari setelah turun dari bus jalur 4 bersama beberapa mahasiswa . kereta prameks yang baru meninggalkan setsiun sampai maliboro menghentikan keretanya karena melihat kami berlari -lari, wakh asyik sekali men, skg nggak mungkin itu terulang.
pernah juga dari setasiun purwosari kereta yang mau berangkat dihentikan oleh tukang sapu setasiun yang gundul itu, k karena aku berlari-lari mengejar kereta. kmarin aku naik kereta tdk ketemu dia, akhir2 ini aku jarang ketemu pak tua gundul tukang sapu setasiun purwosari aduh.. tulisanmu tg setasiun, membangkitkan berjuta kenanganku di setasiun. yanh aku akan menuliskan ny adalam cerpen atau novel...:) thanks tulisanmu ya RIs..btw latar belakang setasiun romantis lho jika difoto utk bakal pre wedding, aiih

haris February 3, 2008 at 5:41:00 PM GMT+8  

terima kasih, mbak atas komentarnya yangpanjang. aku jarang pergi dg kereta, mbak. jadi pengalaman di stasiun dg orang yg kita sayang itu bener2 beda, gak tahu lah. ada semacam suasana magis begitu. ternyata pengalaman mu banyak mbak. ayo al tunggu cerpen ato novel aja, mbak! kapan km aktifin lagi blog-mu?

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP