Menulis Itu....

>> Monday, May 14, 2007




Seorang kawan, dalam sebuah diskusi beberapa waktu lalu, mengulang sebuah keyakinan lama tentang teks dan perlawanan: teks adalah alat perlawanan paling ampuh. Masih belum cukup, ia menambah lagi: kata-kata itu lebih ampuh dari pada senjata. Ah, keyakinan macam ini sudah banyak kita dengar. Barangkali Napoleon Bonaparte akan dikutip pula: “Saya lebih takut pada seorang wartawan ketimbang seribu pasukan.”

Dalam kalimat-kalimat itu, teks dan kata-kata hadir sebagai sesuatu yang hebat, besar, dan heroik. Di Indonesia, Wiji Thukul kerap dijadikan contoh. Penyair satu ini, kerap ditafsir dengan satu kata saja dari puisinya: Lawan! Padahal bagi Hasan Asphani, seorang penyair dan wartawan, penafsiran terhadap Thukul yang seperti itu adalah penafsiran yang datang dari “seorang pembaca yang malas”. Wiji Thukul tak sesederhana itu. Tapi benar kata-kata dalam puisi Thukul kerap dijadikan acuan tentang betapa hebatnya kata-kata. Ketakutan penguasa terhadap puisi-puisi Thukul dijadikan bukti betapa teks adalah alat perlawanan paling ampuh yang pernah ada.

Di Meksiko, ada yang pernah meyakini hal yang sama. Subcomandante Insurgente Marcos, namanya. Ia seorang pemimpin gerakan pemberontakan. Tapi uniknya, Marcos tak menggunakan senjata dalam artian senapan atau bom. Tapi ia menggunakan kata-kata untuk menyeru pada dunia tentang perjuangan yang ia lakukan. Konon, ketika pertama kali bergabung dengan para pemberontak di Meksiko Tenggara, Marcos tak membawa senjata, tapi membawa buku. Tapi buku yang ia bawa juga bukan buku Marx atau Engels, tapi buku-buku sastra.

Hadirnya Marcos dan Thukul barangkali dijadikan sandaran bahwa teks adalah alat perlawanan yang “paling ampuh”, seperti diungkap kawan saya. Tapi, benarkah demikian? Kawan saya itu sungguh yakin akan “tuah” dari kata-kata dan sempat memberi contoh tentang orang-orang yang dipenjara karena tulisannya. Tapi bagi saya, tidak setiap teks adalah suatu “senjata”. Saya takut, keyakinan bahwa teks adalah “alat perlawanan paling ampuh” sebenarnya cuma pencerminan dari rasa narsis sebagian penulis. Dan rasa narsis ini pada akhirnya membawa sebuah keyakinan bahwa menulis adalah suatu pekerjaan besar yang hebat, sangat berjasa terhadap masyarakat, atau bahkan heroik.

Akhir-akhir ini saya sering sebal terhadap pendapat macam begitu. Kenapa menulis harus hadir sebagai sesuatu yang “besar”, atau “heroik”? Kenapa menulis tak dianggap sama saja dengan aktivitas makan, minum, atau buang air? Bagi mereka yang berhasrat ingin jadi penulis hebat dan jempolan, apakah mendengung-dengungkan keyakinan bahwa “teks adalah alat perjuangan paling ampuh” akan mengantarnya menjadi penulis yang benar-benar hebat? Bukankah “kampanye” macam itu adalah pencerminan betapa ia ingin dihargai? Atau keyakinan macam itu membuat kita yang pernah menulis atau sering menulis di media massa merasa menjadi seseorang yang telah hebat dan berjasa? Bagi saya, menulis punya banyak sisi dan punya banyak wajah. Tak selalu heroik, dan bisa jadi malah sangat biasa atau terlalu biasa, meski tak selalu pula begitu.

Seorang kawan pernah bertanya pada saya: “Kenapa kamu menulis?” Saya jawab: “Karena saya menyukainya.” Tapi kawan saya tak percaya. Sebab, ternyata ia sudah punya dua pilihan jawaban atas pertanyaannya sendiri: Pertama, karena tanggung jawab sosial. Kedua, karena ingin terkenal. Pilihan jawaban kawan saya itu ada di dua kutub yang saling berlawanan: mereka yang menulis karena tanggung jawab sosial adalah mereka yang benar dan hebat, dan mereka yang menulis karena ingin terkenal adalah mereka yang “terkutuk”. Saya heran, kenapa alasan “suka” tidak boleh ada ketika kita menulis.

Suatu kali, seorang kawan lain mengajak kawannya untuk melihat blog saya. Komentar dari kawannya kawan saya itu pendek: “Temanmu itu kurang kerjaan.” Yang dimaksud kurang kerjaan itu saya karena saya membangun blog dan menuliskan uneg-uneg di sana. Mendengar komentar macam begitu, saya tersenyum. Barangkali benar bahwa saya menulis karena saya memang kurang kerjaan. Tapi juga karena saya menikmati tiap huruf yang saya ketikkan dengan keyboards ke komputer saya lalu saya posting ke blog. Saya menikmatinya meski tak banyak yang berkunjung ke blog saya dan tak banyak pula yang memberi komentar. Yang penting bagi saya adalah: menulis dan menulis.

Saya akui, banyak penulis hebat dan pada akhirnya teks mereka menjadi alat perlawanan atau perjuangan yang ampuh. Tapi, sebagian besar dari mereka, mungkin tak meniatkan diri untuk melawan ketika menulis. Thukul mengaku tak hendak melawna siapapun. Ia cuma menuliskan pengalaman sehari-harinya. Faktor ketakutan penguasa terhadap tiap tindakan yang dianggap bisa mengancam kedudukan mereka juga menambah daya heroik sajak-sajak Thukul. Di iklim politik sekarang, orang yang mengulang apa yang dituliskan Thukul tak akan dianggap sedang “mealawan”.

Kalaupun ada yang perlu dilawan ketika menulis, barangkali itu adalah diri kita sendiri, seperti dilakukan Samuel Mulia. Penulis mode dan gaya hidup itu bagi saya adalah penulis yang teks-teksnya mengandung “kedalaman”. Entahlah, saya justru menikmati tulisan-tulisannya yang dipenuhi dengan hal-hal “duniawi” sebagai sesuatu yang “rohani”.

Justru saya agak risih dan seringkali bingung terhadap tulisan Gede Prama, “pakar kebahagiaan hidup” itu. Samuel membanting “harga dirinya” ketika menulis dan memosisikan diri sebagai orang yang tak banyak tahu dan bahkan hampir selalu pernah melakukan kesalahan dalam tiap hal. Kalau dicermati, tulisan Samuel dilihat dari segi tema tak terlalu istimewa. Tapi dari cara dia bertutur, cara dia memarodikan dirinya sendiri, saya tahu Samuel adalah penulis yang berbeda.

Lalu Gede Prama? Ah, “pakar kebahagiaan hidup” itu terlampau yakin dan terlalu sering memosisikan diri sebagai “orang yang maha tahu”.

O ya, kembali ke kawan saya yang saya ceritakan di awal. Dalam diskusi kemarin, ia juga mengutip kata-kata Ahmad Tohari: “Seharusnya presiden di negeri ini adalah seorang sastrawan. “ Kawan saya mengutip itu untuk membuktikan betapa “penting dan hebatnya” para sastrawan (yang merupakan bagian dari para penulis). Beberapa kawan lain tersenyum dan ngakak terhadap kata-kata itu. Tapi saya tersenyum kecut. Ah, siapa yang keterlaluan sebenarnya? Kawan saya, atau Ahmad Tohari?

Sukoharjo, 14 Mei 2007
Haris Firdaus

1 comments:

Roy Thaniago April 23, 2008 at 1:58:00 PM GMT+8  

Membaca narasi Anda ini, saya melihat kejujuran. Kepolosan. Bukan lagi kebanggaan artifisial atas satu kata: menulis.

Ya, seringkali setiap penulis selalu mengagung-agungkan dirinya sebagai juru selamat. Menilai pekerjaan mereka adlaah yg terhebat.

Namun, bukankah sama dgn pernyataan tukang becak yg mengatakan genjotan/goesan kakinya adalah senjata?

Mas, anda menguarinya dgn jujur. Tanpa malu-malu. Saya dapet pelajaran hari ini.

Salam knal!

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP