Shakespeare di Solo

>> Saturday, February 17, 2007

Tanggal 14 Februari kemarin, Shakespeare hadir di Solo. Tentu saja, tidak dalam wujud fisiknya. Tapi dalam sebuah lakon karyanya yang berjudul The Tempest yang kemungkinan dikarang tahun 1610 atau 1611. Berbekal naskah yang telah dialihbahasakan oleh Trisno Sumardjo, pertunjukan yang digelar di Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) itu mampu menyedot banyak penonton.

Yang unik dari pertunjukan ini adalah para pendukungnya. Sutradaranya adalah seorang Amerika yang sedang belajar tari di Institut Seni Indonesia (ISI) Solo bernama John Lim. Beberapa orang pendukungnya berasal dari beragam kultur yang berbeda pula. Ada dari Aceh, Padang, Bangka, Jakarta, Yogyakarta, Jakarta, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Bahkan The Tempest juga melibatkan mahasiswa dari Australia, Thailand, dan Serbia.

The Tempest, dalam pertunjukan ini, hadir dalam alur yang sebenarnya sederhana. Kisahnya tentang seorang penyihir yang bernama Prospero yang dibuang oleh saudaranya sendiri, Antonio, ke sebuah pulau terpencil. Selama 12 tahun lamanya, Prospero tinggal di pulau itu bersama anaknya, Miranda. Pembuangan itu sendiri dilatarbelakangi oleh perebutan kekuasaan dari Prospero oleh Antonio. Di pulau itu, Miranda dan ibunya bertemu dengan peri bernama Ariel dan makhluk setengah manusia setengah binatang bernama Caliban. Keduanyalah yang sering diperintah oleh Prospero untuk melakukan berbagai hal.

Sementara itu, Antonio yang mengabdi pada Ratu Napoli, suatu hari melewati pulau itu dengan kapal bersama rombongan Ratu Napoli. Badai yang besar membuat kapal mereka karam dan mereka terpaksa singgah di pulau itu. Maka rombongan itu pun singgah dan terpecah menjadi beberapa kelompok. Ratu Napoli beserta Gonzalo (penasehatnya), Sebastian (saudara Ratu), Antonio dan Fransisca (bangsawan) berada dalam satu kelompok. Selama perjalanan di pulau itu, Ratu Napoli tak henti-hentinya menangisi putranya, Ferdinand yang disangkanya telah mati. Suatu saat, dalam sebuah kesempatan, Antonio dan Sebastian berusaha membunuh ratu dan Gonzalo untuk merebut kekuasaan. Tapi usaha itu kandas karena campur tangan Ariel meski usaha itu tak diketahui oleh Ratu dan Gonzalo.

Padahal, Ferdinand sendiri masih hidup dan malah menyangka ibunya yang telah mati. Ia bertemu dengan Miranda dan kemudian jatuh cinta padanya. Awalnya, Prospero tak menyukai hubungan itu. Ferdinand disuruhnya menjadi budaknya dengan mengerjakan pekerjaan kasar sehari-hari. Tapi pada suatu hari—ini yang agak janggal juga dalam lakon ini—tiba-tiba Prospero berbalik menyetujui hubungan mereka berdua. Bahkan ia menyuruh para pembantunya untuk menyajikan pertunjukkan yang menghibur buat mereka berdua.

Di rombongan lain, Trinculo (badut kerajaan) dan Stephano (seorang pemabuk) bertemu dengan Caliban. Caliban menyangka mereka berdua adalah dewa dan memujanya habis-habisan. Ia bahkan menyangka keduanya dapat mengalahkan Prospero. Maka, ketiganya kemudian menyusun sebuah rencana untuk membunuh penyihir itu. Namun usaha mereka bertiga gagal di tengah jalan.

The Tempest berjalan dalam tiga plot yang berbeda yang kemudian bertemu pada titik tertentu. Rumah Prospero lah yang akhirnya menjadi tempat pertemuan seluruh rombongan kapal yang terpisah itu. Ending yang bahagia terjadi: ratu dan rombongan bertemu dengan Ferdinand yang telah menikah dengan Miranda; usaha Caliban berkhianat membunuh Prospero gagal; perebutan kekuasaan oleh Sebastain dan Antonio juga gagal; dan akhirnya Prospero memaafkan Antonio dan Caliban serta Trinculo dan Stepahno.

Tapi agaknya ending bahagia yang seperti ini belum cukup. Masih ditambah dengan sebuah adegan yang tiba-tiba dan sebenarnya “tidak terlalu berguna”. Adegan di mana seorang pegawai Ratu Napoli datang dan mengabarkan bahwa kapal yang mereka tumpangi yang semula bocor tiba-tiba menjadi baik kembali sehingga semua orang dalam lakon itu bisa kembali ke Napoli dan merayakan pernikahan Ferdinand dan Miranda. Benar-benar sebuah akhir yang “terlalu bahagia”. Dilihat dari akhir yang seperti ini, lakon ini memang nyaris mirip dongeng klasik yang mengandalkan akhir yang bahagia dan penuh hikmah sebagai salah satu komponen penarik dalam keseluruhan cerita.

Tapi karena alur yang demikian, cerita ini jadi miskin konflik. Beberapa konflik memang sempat dibangun tapi semua konflik itu tidak ada yang menjadi besar dan membuat cerita itu menjadi “mengguncangkan”. Konflik-konflik yang ada adalah konflik klasik seputar perebutan kekuasaan, percintaan, dan pengkhianatan yang kesemuanya tidak berusaha untuk “diledakkan”. Dalam titik yang hampir bersamaan, semua konflik itu berhenti dan berakhir dalam sebuah penggal yang bahagia.

Untunglah, bangunan cerita yang sederhana dan miskin konflik ini tertolong oleh beberapa hal yang membuat pertunjukan ini menjadi menarik dan “estetis”. Tokoh Ariel yang diperankan oleh dua orang sekaligus—seorang laki-laki dan perempuan—adalah tokoh yang paling menarik buat disimak. Koreografi yang dimainkan keduanya sungguh memikat dan pemakaian bahasa Inggris dan Thailand sebagai bahasa yang mengantar dialog Ariel adalah kelebihan yang membuat lakon terasa “beda”. Koreografi yang cantik dan makin menambah kaya lakon ini juga diperagakan oleh Caliban yang kelihatannya diperankan oleh orang yang memang secara khusus mendalami tari.

Selain itu, yang bisa juga dianggap kelebihan—atau malah kekurangan—dari pertunjukkan ini adalah kostum yang “tidak kompak”. Hampir semua aktor laki-laki seperti Ferdinand, Sebastian, dan Antonio menggunakan pakaian ala Jawa dengan dada terbuka dan bawahan kain yang dililitkan beserta aksesoris khas budaya Jawa. Tapi, tokoh perempuan justru memakai busana yang berasal dari “luar”. Miranda tampil sebagai perempuan dengan model rambut mirip para bangsawan Inggris jaman lampau: keriting membentuk rol dan berwarna putih. Ratu Napoli tampil dengan busana yang saya tak tahu khas budaya mana tapi jelas tak bisa diidentifikasi sebagai “Indonesia” atau “nusantara”. Sementara Prospero tampil ala penyihir yang ada dalam film-film pop dengan ramput panjang kusut, jubah kebesaran yang panjang dan berwarna gelap, serta tongkatnya.

Agaknya, John Lim memang hendak menjadikan budaya-budaya para pendukungnya bertemu dalam sebuah pertunjukkan. Tapi saya sendiri tak terlampau yakin apakah kostum yang “tidak kompak” itu berperan penting dalam keseluruhan cerita atau hanya aksesori yang berusaha membawa “paham multikultur” ke atas pentas tanpa terkait langsung dengan bangunan narasi yang ada. Kalau kemungkinan kedua yang terjadi, maka John Lim menempatkan sesuatu yang “di luar pertunjukkan” ke dalam sebuah pertunjukkan tapi tidak mampu memadukannya.

Sukoharjo, 16 Februari 2007
Haris Firdaus

2 comments:

Anonymous May 24, 2013 at 2:39:00 AM GMT+8  

Very descriptive article, I loved that bit.
Will there be a part 2?

Here is my web blog new cellulite treatment

Anonymous June 2, 2013 at 5:07:00 AM GMT+8  

Dawson rosacea specialist

Here is my page ... Little York rosacea specialist

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP