Kita Tidak di Kurusetra

>> Thursday, December 7, 2006

Di Kurusetra, saat Bharatayudha, tidak ada yang namanya “abu-abu”. Di lapangan nan tandus itu yang ada hanya dua buah kutub yang saling bertentangan: hitam dan putih, kebenaran dan kejahatan. Barisan manusia yang ada di sana saat itu, berdiri dalam ruang yang saling bertentangan dan berhadapan. Meski mereka adalah manusia, namun mereka adalah tipe manusia yang sudah “jadi”, “utuh”, atau bahkan “mandeg”. Citra atau kisah tentang mereka adalah sesuatu yang sudah final atau jadi. Mereka tidak sedang dalam posisi “menjadi” atau “berproses”. Mereka adalah manusia yang telah selesai mencari jati diri dan menemukan makna hidup. Dan dalam perspektif manusia macam mereka, “benar” dan “salah” adalah sesuatu yang telah jelas dan paripurna. Kebenaran, untuk orang-orang di Kurusetra saat itu, mungkin semacam sesuatu yang abadi, tanpa perkembangan, dan sudah berhenti.

Dan ketika kebenaran telah jelas dan final, maka usaha apapun untuk meraihnya juga turut menjadi terang. Tiap usaha atas nama kebenaran yang telah final, adalah sah dan diperbolehkan. Meski untuk itu terkadang membutuhakan ongkos kemausiaan yang besar. Termasuk perang. Di Mahabrata, perang dilakukan atas nama kebenaran dan keadilan yang sudah final. Meski telah diperkirakan juga oleh dua pihak yang melakukan perang bahwa perang akan menimbulkan banyak korban kemanusiaan, namun kebenaran tetap mesti ditegakkan, apapun ongkosnya. Tapi tentunya Bharatayudha berbeda dengan model perang sekarang. Ia merupakan sebuah perang yang “beradab” atau lebih tepat disebut sebagai perang yang “ksatria”, tidak pengecut.

Maka ketika Arjuna mutung terhadap perang dengan meletakkan busurnya di tanah dan berlutut, Krisna, Sang Titisan Dewa, menasehatinya.”Hari ini, di sini, mereka bukan lagi saudaramu”, kata Krisna menghapus keraguan Arjuna. Bagi Krisna, Si Maha Tahu itu, menghindari Bharatayudha berarti melarikan diri dari sebuah tugas besar: amar ma’ruf nahi munkar. Dan menghindari tugas besar itu, bagi seorang ksatria, adalah sesuatu yang tabu. Karena itulah Krisna menyuruh Arjuna bangkit, mengambil kembali busurnya dan menaiki kembali kereta perangnya. Perang pun akhirnya dimulai. Sebuah perjuangan menegakkan kebenaran dan keadilan yang final.

Mahabarata, seperti kebanyakan kisah kepahlawanan lain adalah sebuah penggambaran tentang kehidupan yang “ideal”. Ia mengandaikan sesuatu yang jelas dalam hidup ini. Tidak ada sesuatu yang “abu-abu”, yang ada hanya dua warna:”hitam” dan “putih. Manusia, dalam penggambaran Mahabarata, adalah seorang yang telah “selesai”. Ia diandaikan bukan sebagai oraang yang terus-menerus mencari dan bertanya, tapi sebagai orang yang telah bisa menjawab dan memberi petuah. Jawaban dan petuah itupun bukan merupakan sebuah jawaban atau petuah yang dipenuhi keragu-raguan dan ke-relatif-an, seperti layaknya manusia. Tapi jawaban dan petuah-petuah itu adalah sesuatu yang sudah dijamin kebenarannya. Tidak ada ke-relatif-an dari sana. Apalagi kemudian ada sosok Krisna, seorang yang dipercaya sebagai titisan dewa, sehingga apapun perkataannya maka pastilah sebuah, atau mengandung, kebenaran.

Karena itulah dalam Mahabarata kebenaran dan kesalahan sudah menjadi sesuatu yang jelas dan “selesai”. Tidak mungkin ada perkembangan lebih lanjut dari kategori semacam itu. Sebaliknya, di luar Mahabarata, kebenaran dan kesalahan adalah sesuatu yang terkadang sulit dipisahkan. Batas antara keduanya terkadang sangat tipis, kabur, dan tidak kelihatan. Dunia ini tidak hanya terdiri dari kategori “benar” dan “salah”. Dunia ini juga tidak hanya berisi dua warna saja: hitam atau putih. Dunia ini penuh warna: merah, kuning, hijau, dan abu-abu. Dunia ini tidak se-simple dalam Mahabarata.

Manusia, dalam dunia nyata, juga bukanlah seperti para ksatria dan musuhnya dalam Mahabarata. Manusia di dunia ini, lebih mirip seorang yang sebenarnya terus-terusan “mencari” dan “bertanya”. Mereka bukanlah sesuatu yang dengan mudahnya bisa “menjawab” dan “memberi petuah”. Dan konsekuensinya, manusia terkadang sulit memisahkan apa iu “benar” dan apa itu “salah”. Manusia dengan segala ke-relatif-annya, tidak mungkin mengkategorikan dirinya dan orang lain sekitarnya di zona “hitam” atau “putih” secara jernih. Apa yang bagi seorang merupakan “putih” bisa jadi berarti “hitam” bagi orang yang lain. Manusia, tidak seperti ksatria dalam Mahabarata, seringkali berada dalam “abu-abu”. Di sana berkecamuk segala hasrat manusiawi: keraguan, kebimbangan, dan ketidakpastian. Di sana tidak ada yang mutlak. Kepastian telah meninggalkan manusia. Dan kebimbangan dan keraguanlah yang tinggal. Mencengkeram manusia denga kuatnya tanpa manusia mampu melepaskan dirnya sendiri.

Mungkin karena kenisbian itulah manusia tidak seharusnya menggunakan kekuatan atau kekuasaan untuk memaksakan “putihnya” kepada orang lain. Tidak pula seharusnya parade senjata dan tukang pukul digelar untuk itu. Apa yang menjadi “putih orang lain” tidak boleh kita ubah menjadi “hitam”. Biarlah “warna” mereka tetap seperti sedia kala. Tidak perlu kita ubah dengan kekuatan senjata dan usaha yang mengorbankan kemanusiaan. Semua usaha untuk mencapai yang relatif dengan kemanusiaan sebagai korbannya, hanyalah sebuah kenaifan yang dipenuhi semangat.

Sayangnya, kenaifan semacam itu justru ditumbuhsuburkan. Dengan ideologi, agama, tradisi, atau bahkan pengetahuan ilmiah. Perangkat-perangkat itu dijadikan sebuah pembenaran atas kenaifan manusia. Mereka dijadikan semacam “Krisna” bagi para “Arjuna” yang sedang menempuh keraguan. Ketika mereka hadir, maka keraguan dihapuskan. Busur dan panah kembali diangkat dan kereta perang mulai dijalankan. Perang dimulai dengan sebuah kenaifan dan selesai dengan memakan korban kemanusiaan.

Manusia saat ini, tidak sedang berada di Kurusetra. Dan tambah lagi, dunia ini juga bukan Mahabarata. Tidak ada diantara kita yang berhak menjadi Krisna, yang berhak memvonis salah atau benar, kesia-siaan atau produktif. Perang-perang di Palestina, Afganistan, atau Indonesia, juga bukan Bharatayudha yang dilaksanakan dengan penuh kejujuran dan sederet aturan. Kenaifan macam itu sudah seharusnya dihentikan. Busur dan panah harusnya kita letakkan. Dan kita, seperti Arjuna saat itu berlutut di dataran keraguan yang maha luas. Usaha mencapai yang relatif harusnya merupakan sebuah usaha yang lebih beradab: diskusi dan dialog. Perang, dan segala kenaifan yang dilegitimasi oleh “Krisna” harus kita tinggalkan. Karena kita tidak sedang berada di Kurusetra. Dan tidak ada Krisna di samping kita.

Haris Firdaus
Kentingan, 14 Nopember 2005

1 comments:

adhe cinta May 20, 2008 at 11:07:00 PM GMT+8  

setuju mas. thanks buat pencerahannya

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP