Acang dan Obet

>> Sunday, December 3, 2006

Tiga gadis cilik berdiri di depan mikrofon yang tergeletak di lantai. Beberapa saat kemudian, mereka mengambil mikrofon yang ada di depan mereka masing-masing. Lalu sebuah lagu diperdengarkan. Bukan lagu istimewa. Sebuah lagu anak-anak dari Jawa Tengah. Judulnya: Lir-Ilir. Dengan suara yang pas-pasan pula, lagu itu mengalir diiringi tabuhan alat musik yang dipukul dengan batang lidi. Tetabuhan itu juga sederhana. Kadang malah terdengar kacau. Pendeknya, bukan sebuah pentas musik yang terlampau istimewa.

Saya saksikan pentas sederhana itu di komplek Taman Hiburan rakyat (THR) Sriwedari, Solo. Di sebuah bangunan sederhana berbentuk joglo, pentas itu digelar dan hanya sedikit penonton yang datang. Beberapa di antaranya tampak serius. Ada yang membawa kamera dengan lensa yang berlapis-lapis. Ada pula seorang bule perempuan yang sibuk jeprat-jepret dari berbagai sudut. Tapi ada pula yang tampak biasa saja. Menikmati pentas itu tanpa konsentrasi sama sekali. Atau malah sebagian yang lain tak hendak menyaksikan pentas itu malah. Sore itu hujan dan joglo itu jadi salah satu tempat ideal buat berlindung dari hujan.

Pentas itu digelar sebagai bagian dari Festival Bonraja, sebuah festival kebudayaan yang berupaya mengembalikan THR Sriwedari sebagai ruang publik kultural masyarakat Solo. Selain pentas anak-anak itu, ada pula pentas teater, berbagai atraksi seni, pameran kerajinan, dan pameran seni rupa. Dilihat dari kelas Festival Bonraja, apa menariknya anak-anak yang bernyanyi dengan suara yang sedikit sumbang dan diiringi tetabuhan yang kadang dipaksa berirama itu?

Anak-anak itu, mungkin, menandakan semangat. Semangat bangkit dan bernyanyi setelah dilanda musibah, mungkin itu yang ingin disampaikan lewat pentas nyanyi anak-anak itu. Anak-anak yang jadi penampil sore itu adalah mereka yang jadi korban gempa di Gantiwarno, Klaten pada 27 Mei lalu. Dengan membawa serta mereka yang jadi korban ke sebuah pentas, maka sebuah semangat keberanian ingin ditunjukkan. Bahwa bencana alam tak akan pernah bisa menghapus senyum anak-anak selamanya. Juga semangat mereka buat bermain-main atau dalam Bahasa Jawa disebut dolanan. Mungkin karena itulah lagu-lagu yang dibawakan oleh anak-anak itu disebut sebagai lagu dolanan, sebuah jenis lagu yang dinyanyikan buat bermain-main.

Main-main, itulah semangat anak-anak di mana pun. Dan mungkin juga, kapan pun. Bagaimana tidak. Sebuah laporan jurnalistik Mardiyani Chamim, Wartawan Tempo, yang dimuat di majalah itu pada Nopember 2003 menunjukkan bahwa anak-anak justru memanfaatkan teror dan konflik yang pernah mereka alami sebagai sebuah permainan. Dengan indah, Mardiyani menulis tentang Noval, bocah sembilan tahun asal Kampung Olas, Pulau Seram Barat, Maluku Tenggara. Kita tahu, Maluku adalah ladang konflik “berbau” agama pada beberapa tahun sebelum 2003.

Tapi beberapa saat setelah konflik yang juga terjadi di depan anak-anak itu, Noval dan teman-temannya kembali bermain. “Kalian jadi Acang, beta jadi Obet,” ucap Noval seperti ditulis Mardiyani. Orang yang pernah mengalami konflik di Maluku di depan mata mereka, pasti paham apa arti “Acang” dan apa pula itu “Obet”. Acang berasal dari kata Hasan dan menjadi semacam “kata sandi” bagi warga muslim saat di Maluku terjadi konflik. Sedang Obet berasal dari Robert yang merupakan penanda warga Kristen. Konon tiap orang yang tak dikenal memasuki satu kampung di Maluku saat konflik dahulu, ia pasti akan ditanya,”Acang atau Obet?” Kalau ia “salah jawab”, ia akan langsung dilibas.

Menengok riwayat tentang “Acang” dan “Obet”, maka kita bisa mengambil kesimpulan dua kata itu adalah kata yang “penuh darah” atau setidaknya menjadi kata yang tak perlu dikenang. Tapi anak-anak mengabadikannya dalam permainan.

Kalian jadi Acang, beta jadi Obet

Setelah mengucapkan kata itu dengan tanpa beban, Noval dan kawan-kawannya kemudian pura-pura berkelahi. Tentu saja mereka ingin meniru adegan perkelahian antara “Acang” dan “Obet” yang dulu pernah mereka lihat dari jarak dekat.

Ketika membaca tulisan Mardiyani, Membebat Luka di Maluku, saya terkejut. Ada sesuatu yang ganjil agaknya. Bagaimana mungkin adegan kekerasan yang terjadi di depan anak-anak, oleh anak-anak itu sendiri diubah menjadi permainan yang mengasyikkan, tanpa trauma, tanpa rasa takut. Bagaimana mungkin aroma kekejaman dalam adegan saling bunuh itu diubah menjadi aroma persahabatan yang penuh canda tawa dalam sebuah permainan?

Mungkin karena anak-anak adalah makhluk yang luar biasa. Trauma bisa saja hinggap ke mereka. Tapi cerita dari Mardiyani seakan membuktikan bahwa permainan akan tetap ada meski konflik dan kekerasan belum lama berselang. Ah, anak-anak, makhluk seperti apakah mereka?

Haris Firdaus
Sukoharjo, 2 Desember 2006

1 comments:

mumu December 4, 2006 at 4:23:00 PM GMT+8  

wah, jd kangen ama solo, ama sriwedari. gedung wayang orang itu masih ada yg ngunjungin gak ya? sebagian masa kecilku tertinggal di sana

btw, thx udah berkunjung ke blog-ku. wah, kita satu almamater. salam ya buat pak mursito huehuehue

keep in touch

salam,
mumu

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP