Ponari dan Ronald Reagan

>> Thursday, February 12, 2009


Irasionalitas selalu hadir bahkan di masa orang bisa merekayasa manusia buatan secara rasional.

Teater irasionalitas dalam skala besar baru saja dipentaskan masyarakat kita. Berawal dari kisah ajaib seorang bocah asal Jombang yang mengaku menemukan sebuah batu di atas kepalanya beberapa saat setelah ia disambar petir, teater anti-nalar itu pun berkembang menjadi horor yang kadang menakutkan.

Kita menyaksikan ribuan orang berduyun datang dan antre dengan sabar ke rumah Muhammad Ponari, sang bocah usia 10 tahun yang diklaim menjadi dukun secara amat mendadak itu. Dari surat kabar cetak maupun online, kita tahu bahwa rentetan kendaraan yang menuju rumah sang dukun bahkan sudah sepanjang tiga kilometer. Para pasien yang datang dari penjuru Indonesia itu rela menunggu berjam-jam, atau bahkan dalam hitungan hari, hanya untuk menerima penyembuhan dari Ponari.

Dan, apa yang saya maksud sebagai “penyembuhan” itu, kita paham, hanyalah sebuah proses di mana sang bocah mencelupkan batu ajaibnya ke dalam gelas berisi air yang dibawa sendiri oleh para pesakitan itu—lucunya, sembari “menyembuhkan” pasien-pasiennya, Ponari masih sempat bermain games via handphone di tangannya.

Air yang telah dicelup batu berwarna kuning keemasan itulah yang diklaim menjadi obat mujarab bagi segala penyakit. Konon, pada mula batu itu ditemukan, Ponari telah menguji coba khasiatnya pada saudaranya yang sedang sakit. Dan, ini berdasar omongan yang belum diverifikasi, batu itu memang berkhasiat. Maka beredar luaslah kabar soal batu ajaib itu. Akibatnya kita kemudian paham: Ponari jadi fenomena yang kontroversial karena praktik pengobatannya itu telah menyebabkan empat nyawa melayang—kebanyakan korban kelelahan saat mengantre.

Setelah sempat dibuka-tutup beberapa kali, praktek pengobatan Ponari akhirnya benar-benar gulung tikar beberapa hari lampau. Di portal berita Detik.Com, sedang berlangsung diskusi hangat soal pro kontra penutupan pengobatan Ponari. Banyak yang mendukung penutupan itu, tapi tak sedikit yang mengeluhkan. Seandainya, praktek pengobatan itu tak “mengakibatkan” nyawa melayang, barangkali tak ada yang benar-benar perlu dikhawatirkan. Masalahnya, mereka yang mengantre ternyata kadang susah dikendalikan sehingga musibah jadi sesuatu yang tak terhindarkan.

Dalam sejarah peradaban kita, pola pikir dan praktek irasionalitas adalah kawan yang amat setia: ia hadir sejak amat lama dan terus bertahan hingga kini. Yang memeluknya bukan hanya orang-orang yang dalam anggapan awam kita sering disebut sebagai “tradisional”. Faktanya, mereka yang ada di negara paling maju dalam persoalan teknologi pun, kadang tak luput dari terkaman irasionalitas yang seringkali membuat terpingkal.

Salah satu praktek irasionalitas yang paling menggelikan adalah yang menimpa Ronald Reagan tatkala dia memimpin negara paling adidaya di dunia: Amerika Serikat. Dalam bukunya berjudul For the Records, Donald Regan, kepala staf Gedung Putih era Reagan, mengisahkan bagaimana irasionalitas itu memenuhi aktivitas sehari-hari sang presiden.

Menurut Donald, hampir setiap pergerakan dan keputusan besar yang diambil oleh Amerika Serikat semasa Reagan selalu dikonsultasikan dengan seorang perempuan yang “melihat horoskop untuk memastikan bahwa semua planet terletak di posisi yang menguntungkan untuk mendukung keberhasilan keputusan tersebut”. Perempuan yang disebut Donald itu, pastilah semacam peramal yang dianggap bisa menentukan mana “hari baik” dan mana “hari buruk”.

Orang utama yang berada di balik praktek konsultasi semacam ini adalah Nancy Reagan, sang ibu negara. Donald menyebut, Nancy memiliki kepercayaan yang amat besar terhadap paranormal asal California itu. Tiap kali ada agenda kegiatan atau keputusan, Nancy selalu menelepon sang paranormal, kemudian mengulang hasil konsultasinya pada Donald. Sebagai kepala staf Gedung Putih, Donald harus memerhatikan hasil konsultasi irasional ini untuk menyusun berbagai jadwal.

“Meski saya belum pernah bertemu muka dengan peramal itu, ia menjadi fakta yang demikian khusus bagi kerja-kerja saya, dan dalam urusan-urusan negara yang tertinggi,” demikian kata Donald. Bahkan, menurut Donald, ia menyimpan satu kalender yang diberi kode berwarna: hari “baik” dengan warna hijau, hari “buruk” dengan warna merah, dan hari “yang tidak jelas”. Kalender ini digunakan secara mutlak sebagai pegangan untuk menjadwalkan perjalanan Ronald Reagan. Kapan Reagan harus pidato juga disusun jadwalnya berdasar kalender berwarna ini. Bahkan negosiasi dengan pemerintah asing juga mesti diseleksi berdasarkan “kalender sakral” tersebut.

Saat Reagan berunding dengan Gorbachev, misalnya, sang peramal melalui astrologinyalah yang berperan menentukan jadwalnya. Rundingan keduanya berjalan baik meskipun pertemuan dua ibu negara adidaya itu tak berlangsung dengan amat mulus karena satu alasan: hari lahir Raisa Gorbachev, ibu negara Uni Soviet kala itu, ternyata tak diketahui oleh Nancy Reagan sehingga Nancy tak bisa berkonsultasi dengan peramalnya!

Kisah karikatural Reagan menjadi bukti bahwa presiden di negara paling maju sekalipun ternyata punya kemungkinan terhinggapi kepercayaan irasional. Jika seorang presiden yang memimpin negara dengan fasilitas lengkap dan prima saja bisa menjadi irasional, apalagi mereka yang ditimpa cobaan sakit plus ketiadaan biaya untuk berobat. Dengan tumpukan beban semacam ini, pola pikir yang anti-nalar kadang bisa “dimaklumi”.

Bagi banyak orang, Ponari barangkali menjadi semacam messiah yang membuat harapan mereka kembali timbul. Dengan kondisi seperti ini, tak heran banyak sekali manusia yang siap antre dengan ngotot demi air yang dicelupi batu ajaib itu. Meski barangkali kita tak pernah sepakat dengan mereka, agaknya tak adil juga jika mereka mesti dihakimi dengan “nilai-nilai” yang kita anut. Bagaimanapun, para pasien yang antre itu hanyalah orang-orang yang menuruti perasaan dan hendak menggapai harapan mereka kembali yang sudah hampir pupus.

Jadi, terima saja: teater irasionalitas skala besar itu memang milik masyarakat kita.

Sukoharjo, 12 Februari 2009
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

25 comments:

Senoaji February 13, 2009 at 1:18:00 AM GMT+8  

setuju kalo praktek itu ditutup, terus apa gak sekolah tu ponari, kalopun dia kepanjangan tangan Tuhan. Dia jug abrhak mendapatkan hak nya untuk mengenyam pendidikan. Dan bermain layaknya anak2 yang lain.

tukang Nggunem February 13, 2009 at 12:19:00 PM GMT+8  

Saya pernah baca soal peramal yang jadi jujugan ronald reagan itu, dan sialnya tetep aja saya gak inget namanya...sopo ya, sesok nek kelingan tak kandani.... menurut artikel bersambung yang saya baca itu, sang peramal tersebut emang bener2 bisa melihat masa depan, yo semacam mama lauren kuwi lah...

Kalo untuk soal Ponari, masyarakat Indonesia, terutama suku jawa, memang masih sangat kental percaya hal-hal yang irasional semacam itu. Ditambah lagi mahalnya biaya untuk berobat ke dokter juga makin memperparah keadaan.

tukyman February 13, 2009 at 4:37:00 PM GMT+8  

ikut ninggalin jejak & numpang ini itu
biarpun hanya 5 menit sejenak :)

s H a February 14, 2009 at 12:57:00 AM GMT+8  

Hal kaya gitu memang nggak bisa dihindari ya. Mungkin saja orang yang benar2 bisa sembuh karena pengobatan tersebut sebenarnya mendapat kekuatan untuk sembuh dari pikiran positif yang datang dari rasa percaya bahwa dia pasti sembuh dengan hal2 irasional tersebut. Tapi kalau saya, malah kasihan dengan si Ponari. Anak sekecil itu harus mengemban tanggung jawab yang sedemikian besar hingga merenggut hak masa kecilnya. Well, seperti kata uncle Ben dalam Spidey 1, "With great power comes great responsibility."

sawali tuhusetya February 14, 2009 at 1:02:00 AM GMT+8  

sungguh pemandangan yang tragis dan memilukan, mas harus, ketika ratusan, bahkan ribuan orang berduyun memburu ponari, si "bocah sakti" itu. fenomena ponari makin jelas menunjukkan kalau pemerintah kita selama ini gagal memberikan layanan dan jaminana kesehatan yang layak bagi warganya

sayurs February 14, 2009 at 3:31:00 AM GMT+8  

sembuh baru isu, mati sudah pasti..
btw, Ponari, il phenomenon :D

achmad sholeh February 14, 2009 at 8:01:00 AM GMT+8  

semoga kemampuan yang dimiliki bisa bermanfaat bagi orang lain

boykesn February 14, 2009 at 9:24:00 AM GMT+8  

penyembuhan Ponari dan horoskop-nya Reagan sama sama irasional, pertanyaannya kenapa masih saja ada? Bukankah itu sebuah bukti akan menjadi rasional ?

Anonymous February 14, 2009 at 9:41:00 PM GMT+8  

Saya membaca sebuah blog yang menuliskan seperti ini : "Selasa lalu, Ponari jatuh sakit. Ia terserang demam setelah kecapekan mencelupkan batu yang dipegangnya dalam botol air sebagai media penyembuhan. Anehnya, dia justru tak memanfaatkan batu ajaib itu untuk mengobati dirinya sendiri. Keluarga Ponari membawanya ke meja praktek dokter di rumah sakit. Paradoks, eh?" (heni)

Dony Alfan February 15, 2009 at 6:13:00 AM GMT+8  

Wah, harusnya Mbah Hadi bisa jadi penasehatnya Ronald Reagan tuh!
Edan tenan jaman saiki

ressay February 15, 2009 at 7:55:00 PM GMT+8  

Tuh anak dapet duit banyak banget.

Andy MSE February 16, 2009 at 4:03:00 AM GMT+8  

nggak mesti yang irasional nggak benar lho...
harus diteliti lebih lanjut tuh!

masmpep February 16, 2009 at 10:38:00 AM GMT+8  

ponari memang menarik. banyak hal yang perlu dicatat. ponari menjadi populer, diperebutkan banyak 'saudaranya'. tetangga ponari merasa terganggu. polisi semakin bijak (kasus zakat maut, pelaksananya jadi tersangka. ini ponari sudah tewas 4 jiwa, polisi gak berbuat apa-apa). pemerintah gerah karena dituding tidak menjamin kesehatan warganya. ikatan dokter merasa diintimidasi oleh realitas. seorang dukun di banyuwangi klaim punya batu petir juga. entah sampai kapan ponari jadi berita....

@heni:
lucu juga. kasusnya seperti dukun-dukun pengganda duit. kalau dia bisa menggandakan duit, mengapa tak digandakan sendiri. ya tak?

Balisugar February 16, 2009 at 6:48:00 PM GMT+8  

Sekarang anak kecil itu ada dimana ? aku jarang nonton TV apa dia pindah rumah atau masih tetap disitu ?

unksenna February 16, 2009 at 10:10:00 PM GMT+8  

mungkin ini juga pertanda pemerintah tidak berhasil menyediakan sarana berobat untuk rakyat dg harga terjangkau.

duniaidealku February 17, 2009 at 9:27:00 AM GMT+8  

kita saja yang kurang ilmu dan wawasan apalagi pengalaman untuk mengerti hal-hal begitu,

so, sisakan 10 % dari total rasio kita untuk menampung hal-hal yang irasional seperti itu.

and then, enjoy our life :)

r1d0aja February 20, 2009 at 11:59:00 PM GMT+8  

keknya sekarang dah skolah lagi dech ponarinya,,, ;D

ato aku yg comment telat yak?? :-?

yoan February 21, 2009 at 12:21:00 PM GMT+8  

ponari... ponari...
sampe saya nggak punya tipi en gak pernah baca koran bisa tau 'kehebatan'nya karna banyak sekali orang yang *entah sadar entah ngga* mempromosikan kemanjuran pengobatan ponari...

owh well, toh kebudayaan kita dibangun di atas banyak dongeng, mitos dan banyak hal irasional lainnya...

so just face it,
sebagaimanapun kita 'mengaku' modern, kita masih menyisakan tuang untuk hal2 yang gak bisa di terima akal sehat.

ardisragen February 22, 2009 at 9:11:00 AM GMT+8  

setuju kalo ditutup.. mudah2an kedepannya keadaan akan membaik.. dan semua pihak dapat mengambil hikmahnya..

terutama tuk pengobatan modern di Indonesia.. agar lebih dapat mengoptimalkan pelayanannya...

semangat untuk kesehatan Indonesia

Lovely Dee February 26, 2009 at 1:03:00 PM GMT+8  

Emang fenomenal.. Tapi kita mesti hati-hati. Kita harus tetap berkeyakinan, semuanya atas izin Tuhan.. Btw, saya juga posting ttg ponari lho...

ciwir March 8, 2009 at 4:53:00 PM GMT+8  

ponari memang fenomenal...
batu petirnya itu apakah sama dengan batu petirnya milik ken arok dulu ya???
kok nggak dibikin keris aja ya???

afie March 11, 2009 at 9:30:00 PM GMT+8  

di negara kita tercinta itu, yang namanya orang pintar adalah orang yang dapet wangsit/batu petir/jimat/dst...bukan org yang sekolah dan belajar bener2....hm...

Ari May 12, 2010 at 11:27:00 AM GMT+8  

saya juga setuju praktek pengaobatan ponari ditutup.

apri May 12, 2010 at 4:18:00 PM GMT+8  

Ponari anak ajaib
tapai prakteknya harus ditutup!

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP