Rachel, Pahlawan, Imajinasi

>> Monday, November 24, 2008



Di tengah debat berkepanjangan tentang pahlawan yang terjadi akhir-akhir ini, saya teringat sebuah nama: Rachel Corrie.

Pada sebuah Ahad yang naas, Rachel Corrie menghembuskan nafas terakhirnya dalam umur yang amat muda: 23 tahun. Di Kota Rafah, Palestina, Corrie dilindas buldoser milik tentara Israel yang hendak menghancurkan sebuah rumah keluarga Palestina.

Hari itu, 16 Maret 2003, tentara Israel menyerbu Rafah, mencari orang-orang yang oleh mereka disebut sebagai “teroris”. Tembakan-tembakan dari senapan-senapan diletuskan, sementara itu, tank dan buldoser bergerak melakukan penghancuran rumah-rumah milik keluarga Palestina.

Para penduduk Rafah, tentu saja, tak tinggal diam. Mereka melawan, dengan senjata seadanya, entah dengan tujuan apa. Rachel ada di antara mereka. Saya bayangkan, hari itu, raut mukanya tampak tegang menyaksikan kekejaman yang sebenarnya berangsur jadi kelaziman di sebuah kota seperti Rafah itu.

Mengenakan jaket berwarna jingga terang, saya bayangkan Rachel tiba-tiba berlari menyongsong buldoser yang hendak meratakan sebuah rumah Palestina. Di hadapan mobil perusak, Rachel berlutut menyentuh lumpur. Ia hendak menghalangi buldoser itu. Barangkali, Rachel Corrie berpikir bahwa statusnya sebagai warga negara Amerika Serikat akan membuat sang pengendara mobil penghancur itu menghentikan tunggangannya. Bagaimanapun, AS adalah negara yang paling tak mungkin diabaikan Israel. Dan seharusnya, buldoser itu memang berhenti.

Tapi mobil berat itu jalan terus. Tubuh Rachel yang berlutut di depannya tak dihiraukan. Sang sopir juga abai terhadap teriakan para warga yang disuarakan lewat megafon. Dan rangka Rachel akhirnya remuk dilindas buldoser itu. Ia menghembuskan nafasnya yang pungkasan di Rumah Sakit Najar.

Rachel Corrie, seorang perempuan muda pemberani dari Olympia, sebuah kota di dekat Teluk Selatan Negara Bagian Washington, AS, akhirnya mati dilindas buldoser karena satu hal: membela rakyat Palestina yang ditindas habis Israel. Dalam umur yang amat belia, di saat pemudi seusianya menghabiskan waktu dengan pacaran dan berdansa, Rachel bergabung dengan International Solidarity Movement menuju Palestina untuk sebuah tujuan: menghentikan perang.

Itu tujuan yang mulia. Sangat. Dan dalam proses pencapaian tujuan mulianya itu, Rachel kemudian meninggal dunia. Ia mungkin salah perhitungan atau nekad. Tapi tetap ia seorang yang amat menggetarkan: perempuan muda yang meninggalkan negeri nyaman macam AS dan menuju sebuah “neraka perang” seperti Rafah, apa yang kurang heroik dari laku macam itu? Lantas dengan kenyataan macam itu, apakah lalu Rachel Corrie dianggap sebagai “pahlawan”?

Nyatanya tidak. Tatkala kematian Rachel Corrie tersebar, AS tak marah. Hampir tak ada kecaman terhadap Israel yang telah melakukan pembunuhan itu. Sejumlah surat melayang ke The New York Times. Pengirimnya: beberapa warga negara AS, rekan sebangsa Corrie. Tapi, mereka tak membela Rachel. Mereka justru menyalahkan Rachel dengan satu alasan: Rachel ada di pihak yang “salah”, yakni Palestina.

Dalam sebuah esainya, Goenawan Mohamad membuat pengandaian: jika saja Rachel mati karena letusan peluru milisi Palestina, hampir dipastikan, gelombang kemarahan akan meledak dari seantero AS. Tapi Rachel tak mati akibat peluru Palestina. Ia mati karena buldoser Israel dan justru seorang yang dianggap membela Palestina. Oleh karenanya, di luar dugaan kita, Rachel justru dianggap bersalah. Ia sama sekali bukan pahlawan. Ia pengkhianat yang memihak “teroris” atau “ekstrimis”.

Karenanya, kematiannya adalah sesuatu yang tak perlu ditangisi. Tak perlu dibesar-besarkan. Orang-orang akan segera melupakan namanya. Dan penindasan di Palestina terus berjalan. Mungkin dengan lebih ganas.
***

Lalu apa sebenarnya arti “pahlawan”?

Saya ingat sebuah puisi masyhur Toto Sudarto Bachtiar yang mendedahkan kepahlawanan dengan cara yang liris dan aneh. Pahlawan, dalam puisi bertajuk “Pahlawan Tak Dikenal” itu, datang dengan cara yang tak jelas, juga pergi dengan cara yang tak terlampau terang: sebuah kodrat yang tragis.

Dia tidak ingat bilamana dia datang
Kedua lengannya memeluk senapang
Dia tidak tahu untuk siapa dia datang
Kemudian dia terbaring, tapi tidak tidur sayang


Seorang pahlawan dalam stereotip kita adalah tokoh-tokoh yang amat tegas dan lurus perjuangannya. Mereka seharusnya paham untuk apa mereka berjuang, dan kenapa melakukan semua perjuangan itu. Lalu, bagaimana mungkin seseorang yang “tidak tahu untuk siapa dia datang”, bisa juga disebut sebagai “pahlawan”? Pasase puisi Toto seolah hanya menggambarkan keadaan sang pahlawan yang sekonyong telah terbaring, telah tiada, tanpa menggenapi keterangan yang paripurna tentang sosok itu.

Seorang yang tiba-tiba saja terbaring, tanpa tahu untuk siapa dia datang. Barangkali ini sebuah gambaran yang komikal tentang sosok pahlawan: mereka yang berjuang karena terseret keadaan, mereka yang dikelilingi perang tapi tak berusaha bersembunyi darinya. Mereka yang menghadapi perang dan tantangan dengan sebuah keberanian, walaupun, keberanian, atau apapun yang terkait dengannya, selalu tak mudah untuk dijelaskan.

Mereka yang terseret lalu berusaha berperan di dalam suatu perjuangan, tetap layak dihargai. Tetap layak untuk dikenang. Tapi bagaimana mungkin mereka yang tak dikenal bisa menjadi dikenang? Dan juga, bagaimana mereka akan jadi “pahlawan”, apalagi dalam pengertiannya yang formal?

Sampai di sini, kita melihat bahwa “pahlawan” dalam puisi Toto hanya sebentuk imajinasi, segugus bayangan tentang orang-orang yang telah berjuang demi kita, anak cucunya yang tak pernah mengetahui secara pasti siapa sebenarnya dia. Dalam kondisi ini, “pahlawan” bukan sebuah sosok konkret, ia sebentuk abstraksi tentang nilai-nilai, semacam konsep tentang tauladan. Karena tidak nyata, konsep itu, nilai-nilai dan tauladan itu, tak akan bisa cacat. Ia akan selamanya dianggap sebagai ideal justru karena kita tak pernah benar-benar mengenalnya.

Berkebalikan dengan konsepsi abstrak macam itu, memahlawankan manusia-manusia konkret selalu merupakan sesuatu yang tak mudah. Sebab, manusia-menusia itu selalu berada dalam tafsir, dalam interpretasi yang tak jarang dimuati kepentingan-kepentingan politik ekonomi yang tak mudah diurai. Itulah kenapa Rachel Corrie yang heroik itu tak pernah dianggap sebagai pahlawan di negaranya.

Sementara itu, seorang mantan presiden negara kita, yang jelas-jelas memberi kita sebuah warisan persoalan yang amat sulit diatasi, malah diusulkan jadi “pahlawan” oleh sebuah partai politik yang mengaku sebagai “partai dakwah”. Layakkah usul macam itu? Selalu tak mudah untuk menemukan jawab: justru karena kita paham betul, siapa dia, sosok yang disulkan jadi pahlawan itu.

Lagipula, memahlawankan manusia konkret selalu dihinggapi sebuah kepentingan: mengangkat seorang manusia biasa jadi pahlawan, pada dasarnya, bukan sesuatu yang dilakukan demi kepentingan “dia yang ada di sana”, tapi untuk “kita yang ada di sini”. Mereka yang mengangkat seseorang jadi pahlawan, adalah mereka yang selalu punya kepentingan, apapun wujudnya: sebuah materi, semacam citra tertentu, atau sebentuk rasa teduh sebagai manusia lemah yang membutuhkan tauladan mati yang tak berubah.

Sukoharjo, 23 November 2008
Haris Firdaus
gambar diambil dari sini

9 comments:

dangauilalang November 24, 2008 at 11:31:00 AM GMT+8  

ya, jaketnya jingga terang...

aku sampai berkeringat dingin waktu baca email dari teman soal rachel ini.

haris November 25, 2008 at 2:02:00 PM GMT+8  

to: dangauilalang

emang kisah rachel ini bener2 menggetarkan. sayang dia adalah pengkhianat bagi rekan sebangsanya. dasar Amerika!

Noel November 28, 2008 at 3:35:00 PM GMT+8  

ups, kisah bung haris ini mengingat saya pada polemik yang pernah terjadi sekira bulan juni-juli-agustus, di mana ada seorang pahlawan yang sudah dianggap hilang kini menyatakan dirinya sebagai supriyadi atawa andaryoko. Apa gunanya ia muncul sekarang?
Bukankah tak sedemikian penting jika dia mengaku-angku supriyadi daripada menceritakan kepada masyarakat apa yang pernah dialaminya sebagai seorang pelaku sejarah yang ingin mengungkapkan suatu fakta yang belum ketemu sama para sejarawan itu?
bung haris sepakat dengan pendapat saya?

Haris Firdaus November 28, 2008 at 10:49:00 PM GMT+8  

to: noel
memang yang lebih penting, dlm kasus andaryoko itu, adalah apa saja fakta sejarah yang terjadi di indonesia kala itu yang belum sempat diungkapkan oleh buku. bukan identitas pribadi supriyadi-nya. tapi ya itu tadi, kebanyakan kita selalu membutuhkan teladan, panutan, makanya banyak orang terus berlomba mendaku diri jadi tauladan, panutan....:)

Tukang Nggunem November 29, 2008 at 12:30:00 AM GMT+8  

Pahlawan dan Pengkhianat...sungguh dua hal yang sangat kontradiktif namun hanya dipisahkan oleh lapisan setipis kertas...

Dia menjadi Pahlawan bagi rakyat Palestina dan tentu saja bagi dirinya sendiri, namun di sisi lain dia berkhianat kepada bangsanya.

Sekarang terserah bagaimana kita akan memposisikan diri kita, apakah menganggap dia sebagai pahlawan atau pengkhianat?

Ngomong opo to aku mau...ndi bukumu cah bagus? hehehe...

dangauilalang November 29, 2008 at 9:21:00 AM GMT+8  

udah ada bukunya, haris..

Judul: Let Me Stand Alone (Biarkan Aku Berdiri Sendirian)
Judul Asli: Let Me Stand Alone (The Journals of Rachel Corrie)
Penulis Rachel Corrie
Pengantar: Goenawan Mohamad
Tebal: xiii+526 halaman
Cetakan: Pertama, Agustus 2008
Penerbit: Madia Publisher

"Mereka adalah kita. Kita adalah mereka."
Itu adalah salah satu bagian penting dari catatan harian Rachel Corrie yang mengekspresikan penulisnya sebagai pengusung plularisme universal, cinta damai dan menolak semua bentuk kekerasan di seluruh belahan dunia.

Rachel Corrie bukan seorang senator atau pesohor Hollywood seperti Paris Hilton--kendati usianya tak jauh beda--tetapi catatan harian, aktivitasnya, puisi serta sketsanya telah menerebos batas-batas negaranya yang rigid, rasis dan superior.

Rachel Corrie adalah martir kemanusian yang tewas mengenaskan pada usia 23 tahun setelah digilas buldoser Israel buatan Amerika Serikat. Rachel Corrie tewas saat berusaha menggagalkan penghancuran sebuah rumah milik warga Palestina, 16 Maret 2003.

Ruh dan semangat Rachel Corrie telah menembus belahan dunia khususnya Rusia dan Palestina. Saat menginjakan kakinya di Rusia pada 1995, sebagai relawan kemanusiaan International Solidarity Movement (ISM), Rachel mulai merasakan Amerika Serikat yang asing.

"Amerika tak mempesonaku lagi. Ia tak mampu memikatku lagi. Ia pudar dan terlipat di pinggiran pikiranku...."

Rachel Corrie lahir di Olympia, Washington, 10 April 1979. Sejak kelas lima sekolah dasar ia sudah meneliti tentang kemiskinan dan masuk ke dalam laporan UNICEF dalam World's Children 1989.

Pada saat SMA, ketika remaja lainnya tengah tidur pulas atau menarik mantelnya karena kedinginan, Rachel malah mengetuk hati setiap pengunjung supermarket untuk mendonasikan sebagian uang atau makanananya untuk orang miskin.

"Sekaleng makanan dari Anda, segudang manfaat bagi mereka yang kelaparan," kata Rachel kepada setiap pengunjung supermarket. (hal xxvii).

Mengenai sikap dan kepeduliannya terhadap kemanusiaan sangat terang benderang dan terlihat dalam catatan tanggal 15 Desember 1992 atau sekitar usia 13 tahun:

"Kuingin menjadi seorang artis atau penari. Kumau mengubah dunia. Ku tak ingin gunakan obat-obatan. Bisa saja kutenggak alkohol sebelum cukup usia, tapi aku tak pernah merencanakannya. Kupercaya, jati diri didapat melalui proses, bukan melaui narkoba."

Atau dalam tulisan tertanggal 9 Maret 1993, Rachel kembali menegaskan sikapnya untuk tidak hidup dalam hedonisme dunia yang tengah menjadi budaya mayoritas gadis seusianya.

"Ketika aku jadi perawan tua, kusudahi untuk tampil cantik menawan. Merias wajah, mengoleksi baju ketat agar tubuh seolah elok, takkan kulakukan. Ku akan anut aliran Nudisme."

Jiwa seniman dan kepenyairan yang dimiliki alumnus akademi seni ini semakin membuat tulisan dan sketsanya berjiwa, hidup dan humoris kendati ditulis dalam keadaan tegang suasana daerah pendudukan. Tulisan-tulisannya dikirim lewat surat elektronik (email) ke keluarganya dan beberapa di antaranya dimuat di media lokal.

Namun, tulisan-tulisan dan sketsanya baru membuat dunia tercengang ketika hampir seluruh catatan hariannya dimuat di harian Guardian Inggris, dengan tajuk "Rachel's War."

Catatan harian Rachel Corrie ini semakin menegaskan bahwa segala bentuk kekerasan bukan sebuah solusi dan malah akan menghancurkan peradaban dunia. Dunia tanpa kekerasan menjadi cita-citanya.

Tulisan-tulisan Rachel Corrie memberikan inspirasi bahwa usia muda bukan saatnya untuk hidup dalam hedonisme, narkoba dan menghabiskan duit untuk bersolek diri. Jati diri juga dapat diperoleh lewat kepedulian dan aksi nyata untuk menciptakan dunia yang damai dan bebas dari kemiskinan.

Rachel Corrie juga ingin menegaskan bahwa masalah Palestina bukan hanya masalah dan beban bangsa Palestina semata tetapi juga tanggung jawab dan empati dunia termasuk Amerika Serikat.[]

(KOMPAS, 27 Nov 2008)

Haris Firdaus November 29, 2008 at 12:30:00 PM GMT+8  

to: tukang gunem
disitulah letak tragedinya, mas. ketika apa yang kita lakukan dengan niat baik tak selalu disambut dg baikpula hanya karena prasangka berbau SARA. di situlah tragedi Rachel...

to: dangauilalang
ya, terima kasih infonya. semoga ini menjadi pelajaran bagi kita yang juga kadang diamuk kesumat berbau SARA seperti yang terjadi di Palestina.

Anonymous March 22, 2009 at 8:08:00 AM GMT+8  

di semarang bulum ada, hiks

Anonymous March 25, 2009 at 3:40:00 PM GMT+8  

pesen aja ke madia di 021-7986562

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP