Joglo 3, Logika, dan "Kebebasan" dalam Sastra

>> Friday, March 23, 2007

Kamis, (22/3) kemarin Antologi Cerpen Joglo 3 akhirnya terbit. Antologi yang diprakarsai oleh Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) Solo itu merupakan edisi ketiga setelah penerbitan Joglo 1 dan Joglo 2. Penerbitan Joglo sendiri merupakan sebuah penerbitan yang dilakukan secara rutin oleh TBJT guna mendokumentasikan cerpen serta menampung gairah menulis para penulis di Solo. Selain Joglo yang memuat cerpen, TBJT juga menerbitklan Pendhapa sebagai dokumentasi puisi. Februari lalu, Pendhapa 3 juga baru saja terbit dengan karya dari 13 penyair dari Solo, Yogya, dan Semarang.

Joglo 3 sendiri memuat 10 cerpen dari beberapa penulis dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang sudah berpengalaman menulis dan tulisannya pernah mampir di beberapa media, namun ada pula yang baru pertama kali menulis cerpen. Yang jelas, Joglo 3 memang dimaksudkan sebagai wadah bagi para penulis pemula yang ingin menerbitkan karyanya. Secara berkelakar, banyak dikatakan bahwa Joglo 3 bisa jadi merupakan tempat atau wahana bagi cerpen-cerpen yang ditolak oleh media.

Tentu saja tak adil memberi cap semacam itu. Apalagi mengatakan cerpen di Joglo tidak lebih berkualitas dibanding dengan cerpen yang ada di media. Kalau mau serius melakukan pembandingan, maka studi yang baik harus lebih dulu dilakukan.

Gairah menulis para penulis yang baru memulai prosesnya seringkali mati karena penolakan media. Mereka yang berkehendak jadi penulis namun beberapa kali mengalami penolakan bisa jadi akan menyerah. Dengan penerbitan semacam Joglo inilah sebenarnya alat untuk memotivasi para penulis untuk terus berproses bisa ditemukan.

Ketika launching kemarin, ada beberapa hal menarik dari Joglo 3 yang patut dicatat dan mungkin diperdebatkan. Hal ini terutama terkait dengan lontaran Riyanta, Redaktur Solo Pos yang didaulat sebagai pembedah karya di Joglo 3. Riyanta memermasalahkan ”logika dan rasa dalam karya” di Joglo 3. Bagi Riyanta, ketika pembaca menikmati sebuah cerpen, maka ada dua hal itulah yang akan menjadi pokok utama untuk menilai sebuah cerpen.

Riyanta dengan baik menunjukkan beberapa petikan dari cerpen di Joglo 3 yang logikanya kurang baik. Seperti kalimat seperti ini: Kulihat tumpukan pakaian emak yang dulu pernah dipakainya saat menyusuiku...(Cerpen Puisi Buat Emak) Kalimat ini, bagi Riyanta, mengandung keanehan: bagaimana mungkin seorang bayi yang masih disusui bisa mengingat pakaian apa yang dikenakan ibunya saat menyusui?

Hal seperti ini memang sepele. Dan bagi pembaca yang membaca sekilas, sulit menemukan kejanggalan itu. Tapi bagi yang melakukan pembacaan secara mendalam, kejanggalan macam ini akan mengganggu. Kejanggalan semacam ini juga terdapat dalam kalimat: ”Kata dokter, salah satu urat di kepala ayah pecah,” (Cerpen Matinya Seorang Atheis). Kata-kata ”urat” menganung kejanggalan, sebab yang biasanya pecah bukanlah urat tapi pembulu darah. Kecermatan semacam ini, meski kecil, sebenarnya penting bagi mereka yang ingin menulis secara ”sempurna”.

Pendapat Riyanta tentang logika, mendapat tanggapan dan gugatan dari Sungkowo, seorang tamu asal Palembang. Dengan retorika khas yang sering terdengar dalam forum-forum sastra atau seni, Sungkowo kemudian bertanya, “Bukankah dalam fiksi cerita-cerita menjadi bebas dan tidak perlu logika? Kenapa tidak menyerahkan pembaca untuk menilai sendiri karya-karya itu?” Apa yang tersirat dari ucapan tamu asal Palembang itu sebenarnya sebuah pendapat bahwa sastra itu bebas mengembangkan imajinasinya sendiri, dan tidak perlu terikat pada logika. Tapi, benarkah demikian?

Gugatan semacam ini adalah gugatan yang ”khas”: membebaskan sastra untuk menjadi ”apa saja” sehingga (mungkin) kritik terhadap karya sastra akan dianggap sebagai sesuatu yang tidak perlu. ”Biarlah para penulis menulis sesuai imajinasinya!” kata-kata itu seringkali terdengar, tapi pertanyaannya: apakah dengan begitu kelemahan dalam karya sastra juga bisa ditolerir karena ”kelemahan” itu sendiri merupakan bagian dari ”imajinasi” dalam karya itu? Apakah karena kebebasannya, maka sebuah kelemahan dalam karya harus dimaklumi?

Bagi saya, jawabannya tidak. Meskipun, penilaian tentang kelemahan sebuah karya bisa saja digugat balik dan dinilai ulang, bila dianggap tidak maksimal. Namun yang juga perlu diingat: penilaian ulang atas penilaian sebuah karya harus dilakukan dengan sebuah argumentasi dan pembuktian yang jelas dan bukan sekedar dengan “retorika”.

Apa yang terjadi dalam launcing Joglo 3 kemarin tidak demikian. Riyanta yang menilai bahwa ada beberapa logika yang kurang tertata dalam beberapa cerpen telah membuktikan ketidaklogisan yang ia maksud. Ia pun, tentu saja, sudah membeberkan bagaimana logika sangat memengaruhi pembacaan atas sebuah karya. Namun, pendapat Riyanta ini dibantah. Dan masalahnya, bantahan yang dikeluarkan itu merupakan bantahan yang sebenarnya tanpa argumentasi, kecuali argumentasi “klasik” yang saya sebut tadi: bebaskan imajinasi para penulis!(Dan biarkan mereka menulis sesuatu yang tidak logis?)

Medy Loekito pernah mengritik Ayu Utami ketika Ayu melakukan ketidakcermatan dalam menulis tentang bagaimana tanaman kantung semar menangkap mangsanya. Kalau mengikuti logika “kebebasan sastra”, maka ya terserah Ayu dong menulis bagaimana kantung semar itu menangkap mangsa. Kalau pendapat yang demikian ini benar, maka Langit Kresna Hariadi sebenarnya tidak perlu menyesal ketika ia melakukan beberapa ketidakcermatan saat menulis Novel Gajah Mada seri pertama. Tapi, nyatanya Langit pernah berkata dengan jantan dan mengakui kesalahnnya menyebut beberapa kejadian dalam sejarah Majaphit yang tidak tepat tahun kejadinnya.

Dalam dunia penulisan fiksi, memang ada bagian-bagian yang bisa dikembangkan secara bebas dan tanpa batas. Tapi karena fiksi pada akhirnya juga mengambil bahan dari dunia nyata, maka ada bagian-bagian tertentu dari karya fiksi yang harus “tunduk” pada logika atau fakta-fakta tertentu dalam dunia senyatanya. Hal ini terutama akan nampak dalam karya sastra berbahan bauku sejarah. Penulisan fiksi sejarah tentu saja tak perlu mengikuti alur sejarah yang ada secara rinci. Tapi, bila alur besar sejarah yang telah diketahui umum dilanggar, maka karya itu menjadi “tidak sempurna”.

Misalnya, kita bebas menulis bagaimana perasaan Ken Arok ketika ia jatuh cinta pada Ken Dedes. Saat menulis hal itu, imajinasi kita bisa kia bebaskan sebebas-bebasnya. Tapi, bila kita menulis tentang Ken Arok yang harus bertarung dengan Joko Tingkir untuk memerebutkan Ken Dedes, apakah itu bisa diterima?

Sukoharjo, 23 Maret 2007
Haris Firdaus

4 comments:

Anonymous March 27, 2007 at 8:36:00 PM GMT+8  

oeoeoeoeoeoeoe!
Ris, aku punya situs yg oketa bgt! (OK, Banget!) di situs ini, ada link buat ngedapetin e-book gratis!!!!!
bayangin buku gratis!!!!!!!!
log on:

gufron.wordpress.com

tinggal klik linknya trus download e book yang kamu suka!!!!!
cuma hampir sebagian besar pake bahasa indonesia
tinggal pinter2 aja nyarinya
satu hal lagi buku2 itu semua ada pada file kompresi, jadi perlu program winzip atau sejenis untuk ngebuka filenya
slamat mencoba

Anonymous March 27, 2007 at 8:38:00 PM GMT+8  

eh maksudku pake bahasa inggris! sori :P
tdy

Arifin June 21, 2013 at 4:31:00 PM GMT+8  

Menurut saya (Arifin, Penulis Cerpen "PUISI BUAT EMAK") kata-kata yg dimaksud oleh mas Riyanta itu masih tergolong logis dan masuk logika. Karena informasi mengenai "baju emak" bisa didapat dari keterangan/informasi ayahnya,yang dalam cerita ini masih hidup bersama anaknya (si tokoh utama). Jadi bisa saja sang ayah pernah memberitahukan sembari menunjukkan tumpukan pakaian tersebut, dan berkata kpd si anak bahwa "baju itu adalah baju emaknya yg dulu dipakainya saat menyusui sang anak"..

Anonymous June 23, 2013 at 3:20:00 PM GMT+8  

makanya kalau mau bedah sastra ya harus orang yang ahli sastra...wajarlah kalo komentar riyanta kayak gitu. poin yang aku dapat disini adalah:
1. seorang redaktur tentunya akan menggunakan logika sebagai pembaca dalam membaca suatu tulisan. kira-kira layak tidak dibaca? masuk logika nggak di pikiran pembaca?
2. bagi yang dikritik....ya terima ajalah. toh, juga baru pemula. jangan dengan dalih "Biarlah para penulis menulis sesuai imajinasinya!" seakan-akan jadi anti kritik. dikritik dikit...ngambek...biarin aja. toh, suatu karya yang dilempar ke masyakarat tetap ada yang suka dan yang tidak. dengan demikian, sebagai penulis yang baru, sebaiknya juga memahami selera masyarakat.

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP