Beberpa Kejanggalan dalam "Mimpi untuk Dresden"

>> Tuesday, March 6, 2007

Ketika membaca cerpen karya F Dewi Ria Utari berjudul Mimipi untuk Dresden yang dimuat di Kompas (4/3) lalu, ada beberapa kejanggalan yang saya temukan. Otomatis, kejanggalan-kejanggalan itu membuat saya kesulitan untuk menikmati cerpen tersebut secara keseluruhan. Melalui tulisan ini, saya akan coba menguraikan beberapa kejanggalan yang saya temui saat melakukan pembacaan terhadap Mimipi untuk Dresden.

Cerpen karya Dewi ini sebenarnya dimulai dengan sebuah pembukaan yang mantap: Buku kecil bersampul kertas krep warna ungu pucat. Ada tiga nama tertulis di dalamnya. Urutan pertama yang akan kutemui dalam waktu seperempat jam. Kubuka kembali buku di genggamanku. Ingin kupastikan namanya tak tertukar dengan nama lainnya. Ryan, 27 tahun.

Gaya bahasa yang dicerminkan dalam paragraf pembuka ini, bagi saya, adalah gaya bahasa yang matang. Tidak over dosis mengeksplorasi ke-puitis-an namun juga tidak datar-datar saja. Ini adalah gaya bahasa yang bagus buat sebuah prosa sastra. Sebab gaya bahasa prosa dituntut berada di tengah-tengah antara gaya bahasa puisi yang penuh metafora dengan gaya bahasa jurnalistik yang “terang-benderang”.

Namun kematangan gaya bahasa yang saya temukan di awal cerpen ini segera terkacaukan ketika saya mulai membaca beberapa paragraf selanjutnya. Kejanggalan-kejanggalan mulai terjadi dan menyisakan pertanyaan-pertanyaan yang sebenarnya tidak perlu. Si tokoh “aku” yang sebelumnya hendak bertemu dengan Ryan (seperti dinyatakan dalam paragraf pembuka), ternyata malah bertemu sosok yang lain. Sosok itulah yang bernama Dresden. Ia muncul begitu saja di depan tokoh “aku” dan tiba-tiba saja mampu mengenali si “aku”. Ini adalah kejanggalan pertama.

Kejanggalan kedua adalah kata-kata Dresden yang terkesan “tidak wajar” untuk sebuah kata-kata kepada orang yang baru dikenalnya. Simak kata-kata yang diucapkan Dresden setelah ia mengenalkan diri dan berbasa-basi sebentar: “Indah karena dalam keadaan hidup, manusia tidak akan bisa memperlihatkan kepasrahan dan ketelanjangan yang mutlak. Dalam keadaan mati, entah terpaksa atau tidak, manusia memperlihatkan pose-pose yang tidak akan bisa dilakukan kehidupan.”

Kata-kata itu memang wajar dalam sebuah bahasa tulis apalagi dalam teks sastra. Tapi dalam percakapan sehari-hari, apalagi ketika bertemu dengan orang yang baru dikenalnya, bukankah kata-kata itu terasa hiperbolis atau terkesan ingin dianggap sebagai kata-kata yang keluar dari orang yang “sok berfilsafat”? Memang, kejanggalan ini sedikit “terobati” dengan adanya kata-kata si “aku” (“Aku hanya merasa kamu berusaha membuatku tertarik. Dan itu sedikit memuakkan.”) yang mengesankan bahwa kalimat yang keluar dari mulut Dresden tadi berlebihan.

Tapi ternyata di akhir cerita, pernyataan si “aku” berubah: “Aku menggigil karena tubuhku merasakan keindahan yang kaukatakan waktu itu.” Jadi, kesimpulan saya, kata-kata Dresden yang hiperbolis itu memang dianggap “sah” oleh pengarang untuk ditampilkan sebagai dialog antara dua orang yang belum terlalu saling kenal. Di sini, adegan dialog yang seharusnya “wajar”, ditampilkan dalam suasana yang terlalu puitis dan jauh dari gambaran dialog sehari-hari.

Dari kejanggalan kedua inilah, kejanggalan-kejanggalan yang lain terus bermunculan. Kejanggalan ketiga adalah tak adanya penjelasan yang cukup tentang siapa si Dresden dan apa hubungannya dengan Ryan, orang yang sebenarnya ingin ditemui si “aku”. Penjelasan yang bisa ditemukan segera hanyalah sebuah kalimat pendek yang keluar dari mulut Dresden: “No... aku Dresden. Ryan tak bisa datang. Ia harus pergi ke Ohio siang ini.” Dialog di beberapa paragraf selanjutnya juga hanya mengesankan Dresden dan Ryan adalah orang yang saling kenal namun tetap tak jelas hubungannya (apakah pasangan gay, sahabat dekat, teman kos, atau rekan kerja).

Tentu penjelasan ini tak cukup untuk tahu siapa Dresden sebenarnya dan apa hubungannya dengan Ryan. Bahkan hubungan antara kemunculan Dresden dan ketidakhadiran Ryan sebenarnya tidak cukup terang. Apakah Dresden diutus Ryan untuk menemui si “aku” untuk mengabari ketidakhadiran Ryan? Lalu, kalau memang begitu, kenapa si “aku” malah harus mengobrol lebih lanjut dan berlama-lama dengan Dresden? Mengapa mereka malah pindah ke ruangan yang lebih nyaman untuk mengobrol sesuatu hal yang kurang ada hubungannya dengan tujuan si “aku” menemui Ryan? Bukankah si “aku” sendiri (seperti disebut di awal cerita) punya tiga nama yang tertulis di buku catatannya (untuk ditemui)? Kejanggalan ini tak bisa terjawab tuntas sampai akhir cerpen.

Dan si penulis agaknya memilih meninggalkan Ryan dan mengambil Dresden dan si “aku” sebagai sentral peristiwa. Tapi perubahan yang tiba-tiba ini juga menyisakan beberapa kejanggalan. Simak kalimat ini: “Kamu pasti heran kenapa aku seperti ini,” cetus Dresden pelan seolah ia masih berada dalam dimensi yang berbeda dengan tubuhnya yang saat ini duduk di sebelahku.

Pertanyaan saya: apa yang membuat si “aku” berkesimpulan bahwa Dresden masih berada “dalam dimensi yang berbeda dengan tubuhnya yang saat ini duduk di sebelahku”? Apakah hanya karena Dresden berkata, “Kamu pasti heran kenapa aku seperti ini”? Atau, karena Dresden mengucap perkataan itu dengan “pelan”? Di paragraf sebelumnya, si “aku” memang berkata: Ia tampak berbeda. Tidak secara fisik. Lebih sebagai ekspresi. Tapi bagi saya, tetap saja penjelasan itu tak cukup dijadikan alasan buat si “aku” mengambil kesimpulan bahwa Dresden masih ada “dalam dimensi yang berbeda dengan tubuhnya yang saat ini duduk di sebelahku”.

Kejanggalan selanjutnya adalah munculnya beberapa peristiwa yang sebenarnya kurang bisa dicari keterkaitannya dengan inti cerita. Peristiwa itu misalnya adalah peristiwa di mana si “aku” memberikan CD yang berisi lagu-lagu tertentu kepada Dresden. Apakah lagu-lagu itu dimaksudkan menyampaikan pesan-pesan tertentu? Atau peristiwa pemberian lagu itu hanya sebagai “pengesahan” supaya teks-teks lagu—yang terdapat dalam CD yang diberikan si “aku” pada Dresden—itu bisa dimunculkan dalam cerita, supaya menambah efek tertentu?

Peristiwa lain yang keterkaitannya sangat longgar dengan bangunan cerita secara keseluruhan, adalah ketika si “aku” memakan roti berselai kacang yang dimasukkan ke dalam susu. Peristiwa ini bahkan dilukiskan secara detail tapi tanpa maksud yang jelas kenapa dilukiskan harus secara detail. Juga, peristiwa di mana si “aku” mandi di kamar mandi dan sempat memandangi noda rokok di perutnya. Tak ada penjelasan kenapa noda itu muncul. Juga tak jelas apa kaitan penyebutan noda itu dengan keseluruhan cerita. Keinginan si “aku” agar Dresden menciumnya tepat di bagian yang terkena noda rokok itu juga tak mendapat arti penting.

Demikian, secara singkat saya mencoba mengurai beberapa hal yang bagi saya merupakan kejanggalan dalam Mimpi untuk Dresden. Meski menemui kejanggalan dalam membacanya, tapi saya tak lantas ingin memberi cap “buruk” pada cerpen ini. Gaya cerita Dewi mengalir lancar (meski dalam logikanya ada banyak kejanggalan). Penceritaan yang mengambil sudut pandang orang pertama dengan plot maju tanpa kilas balik membuat cerpen ini tidak berputar-putar dan tokoh utamanya terasa dekat. Munculnya kejutan-kejutan kecil dalam cerita (meskipun kadang kurang bisa dimengerti) juga menambah kekuatan cerpen ini.

Sukoharjo, 6 Maret 2007
Haris Firdaus

1 comments:

lisa July 19, 2008 at 8:28:00 PM GMT+8  

Buat saya,ini adalah salah satu cerpen bgs fav saya. Bhsny yg metafor dan satir,malah buat nilai plus.noda rokok d perut 'AKU' saya asumsikan kr self mutilation,bs jd si aku memiliki gangguan kpribadian :-), Bipolar persönality disorder misalnya. Menurut saya,biar saja alur bias,tokh ini bukn naskah sinetron lokal yg bth pnjelasan btele2 dan g penting. :-)
Salam,
Tanoetirta@gmail.com

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP