Saut Kecil Bicara dengan Saya

>> Sunday, November 25, 2007




Kalau Anda pernah bertemu Saut Situmorang, mendengar ia bicara, atau membaca esai-esainya, barangkali Anda akan beranggapan bahwa dia adalah seorang yang—meski intelektual—keras dan bahkan cenderung kasar. Tubuhnya yang besar, rambutnya yang panjang disongket, serta suaranya yang besar, membuat “kesangaran” Saut makin lengkap. Anting-anting di kupingnya juga makin menambah kesan itu.

Saut Situmorang memang seorang sastrawan yang doyan berdebat dan melakukan provokasi. Bersama beberapa kawannya, ia mendirikan Jurnal Boemipoetra dan memimpin perlawanan terhadap Komunitas Utan Kayu-nya Goenawan Mohamad. Mungkin karena kegemarannya berdebat dan lalu “menghujat” lawannya itulah Saut menyebut dirinya sendiri sebagai “jerawat” dalam Sastra Indonesia.

Ketika bertemu Saut pada Pembukaan Rumah Sastra, Solo, beberapa waktu lalu, saya juga memperoleh kesan “sangar” itu. Meski dalam kondisi informal Saut adalah seorang yang suka bercanda, dan “pandai bernyanyi”, tapi “sangar” tetap jadi bagian yang integral dengan dirinya. Ketika ia mengisi diskusi dalam acara di Rumah Sastra, meski tak dengan berapi-api seperti biasanya, ia tetap menampakkan sikapnya yang “keras” dan alot. Ia tetap banyak menyerang sana-sini, dan tak sependapat dengan banyak hal.

Saya sudah beberapa kali melihat Saut bicara dalam diskusi dan sudah banyak membaca esainya. Maka, “kesangaran”-nya bukan “hal baru” bagi saya. Yang justru mengejutkan adalah melihat Saut membaca puisi. Dalam acara di Rumah Sastra kemarin, Saut memang membacakan beberapa puisinya di malam hari setelah sorenya ia menjadi pembicara diskusi. Diiringi petikan gitar, di tengah suasana malam yang agak hening, Saut membaca puisi-puisinya dengan ekspresi dan nada yang biasa saja, tapi bagi saya mampu menimbulkan suasana asyik.

Puisi-puisi Saut meruapkan bau kekhusuyukan sekaligus main-main. Ironi, kesedihan, kadang bercampur dengan segarnya kata-kata dan humor yang muncul dari diksi yang dipilih Saut. Kalau saya tak salah ingat, Saut membaca tiga puisinya. Satu puisi tentang cinta, satu puisi tentang persoalan sosial, dan satu puisi tentang Tuhan. Saya sudah hampir lupa semua puisi itu kecuali satu puisi berjudul “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”. Sebuah puisi tentang anak kecil yang bertanya-tanya tentang Tuhan dan pelbagai hal di sekelilingnya. Sialnya, saya belum punya buku puisi Saut yang judulnya sama dengan puisi itu. Jadi, beberapa hari kemudian saya harus mencari di internet versi lengkap puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”.

Untunglah, saya akhirnya bisa menemukan puisi itu, membacanya kembali, dan tahu kenapa saya terpesona oleh pembacaan Saut atasnya dalam acara di Rumah Sastra. Secara tekstual, puisi itu memang cukup kuat. Maka, pembacaan Saut pun menjadi istimewa. Keistimewaan itu juga terutama-tama karena melihat Saut membaca puisi adalah melihat sisi lain penyair itu. Ya, Saut yang sangar saat berdiskusi atau menulis esai, ternyata tetap saja seorang penyair yang lembut dan penuh penghayatan ketika membaca puisi. Ya, Saut yang dijuluki “provokator” itu ternyata tetap punya “sisi lembut”. Sisi lembut itulah yang benar-benar saya temukan ketika ia membaca puisi.

Bagi saya, sangat berbeda melihat Saut bicara dalam diskusi dengan melihat Saut membaca puisi. Hal ini tentu saja berlainan dengan Afrizal Malna, misalnya. Afrizal, bagi saya, tak terlampau menampakkan perbedaan yang jauh ketika membaca puisi dan memberi uraian saat diskusi. Tetap saja “aneh” dalam pilihan katanya, begitulah Afrizal, baik ketika membaca puisinya—yang memang “aneh” secara diksi”—ataupun ketika menjadi pembicara diskusi.

F Rahardi pernah menyebut puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” sebagai puisi yang “kekanak-kanakan”. Ia membandingkan puisi itu dengan puisi Sapardi Djoko Damono berjudul “Perahu Kertas”. Kesimpulan F Rahardi: “Perahu Kertas” lebih unggul karena puisi itu mampu mengambil jarak dari dunia anak-anak. Saya tak tahu apakah F Rahardi berkesimpulan sebaliknya: “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” tak mampu mengambil jarak dari dunia anak-anak. Yang jelas F Rahardi memang berkata bahwa secara umum Saut kurang melakukan eksplorasi terhadap hal-hal yang ia angkat dalam Kumpulan Puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan”.

Meski begitu, puisi Saut tadi tetap sesuatu yang istimewa buat saya. Barangkali, membayangkan ada anak kecil berkulit kuning langsat sedang menatap langit dan membayangkan di atas langit sana Tuhan sedang berpesta dan air cucian dari pesta itulah yang kemudian menjadi hujan, tetap saja bayangan yang menarik. Menikmati baris-baris puisi itu membuat saya ingat bahwa ada peluang lain yang bisa dieksplorasi dalam penulisan puisi.

Sebelum mengkhiri tulisan ini, saya kutip puisi “Saut Kecil Bicara dengan Tuhan” secara lengkap:

bocah laki laki itu
duduk sendiri
di tanah kering
di belakang rumah

diangkatnya wajahnya
yang kuning langsat
ke langit
yang kebiru biruan

matanya yang hitam
tak terpejam
asyik mengikuti gumpalan gumpalan awan
yang dihembus angin pelan pelan

dia tahu tuhan tinggal di situ
di langit biru di balik awan awan itu
karena begitulah kata Ibu
tiap kali dia bertanya ingin tahu

bocah kecil itu
masih terus memandangi langit biru
matanya yang hitam
masih terus tak terpejam

tapi dia tak mengerti
kenapa kadang kadang turun hujan ke bumi
membuat becek jalan di depan rumah
membuat dia tak boleh main di luar rumah

kalau di atas ada langit
apakah yang ada di bawah tanah ini
bocah kecil itu bertanya tanya dalam hati

mungkin di bawah tanah ini
sama seperti di atas sini, serunya dalam hati
ada pohon ada rumah rumah
ada tanah lapang di mana orang
main layang layang
dan tentu mereka mengira
di atas sini tinggal tuhan mereka!

dia mulai tersenyum
dia tahu sekarang kenapa kadang kadang turun hujan
tentu saja hujan turun dari langit
karena di atas sana tuhan sedang pesta
dan air hujan itu
tentu air yang dipakai mencuci piring gelas
sehabis pesta
sama seperti Ibu waktu cuci piring gelas
dan airnya hilang masuk ke dalam tanah

senyumnya makin lebar sekarang
dibayangkanNya anak anak mandi hujan
di bawah sana!



Saya tak tahu, apakah setelah membaca puisi ini Anda akan berpendapat bahwa puisi ini memang puisi anak-anak yang terjerat dalam dunia yang “kekanakan”. Tapi bagi saya, puisi ini tidak meruapkan aroma “kekanakan”. Membacanya, saya seperti merasa diajak berbincang tentang Tuhan oleh Saut kecil. Dan perbincangan itu, adalah perbincangan yang tak terlalu berat memang, tapi bukan berarti tak menimbulkan perenungan. Perbincangan itu, juga meruapkan humor yang menimbulkan senyum, sekaligus menimbulkan semacam “kepuasan” karena menemukan “kata-kata yang segar”.

Sukoharjo, 23 Nopember 2007
Haris Firdaus

1 comments:

Roy Thaniago January 11, 2008 at 10:55:00 PM GMT+8  

Mas, saya suka pembahasan Anda soal Saut.. Walau saya tidak mengenal Saut, tapi berbagai kontroversi yg dibuatnya menyeret saya ke blog Anda ini..

Salam kenal,

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP