“Dari Sebuah Museum Den Haag” dan Moral yang Tak Suci

>> Wednesday, October 24, 2007



Seandainya saja Bangsa Indonesia adalah sebuah bangsa yang ditakdirkan lebih dulu menjadi maju dari pada bangsa-bangsa di Eropa, adakah ia tak melakukan ekspansi-kolonialisme seperti yang dilakukan Bangsa-bangsa Eropa pada kita? Kita tentu tak tahu jawabannya secara persis sebab sejarah dan hidup bukan dibentuk terutama oleh kata “seandainya” atau “kira-kira”.

Tapi, sekali lagi, seandainya takdir di atas benar dan kita kemudian menjadi sebuah bangsa yang menjajah bangsa lainnya, akan kita beri gelar apa orang-orang yang berasal dari bangsa kita yang berhasil menaklukkan bangsa-bangsa lainnya itu? Pahlawan, ataukah pejahat paling kejam yang melanggar hak asasi manusia? Kita lagi-lagi tak tahu secara persis. Tapi barangkali saja kita akan memberi gelar mereka sebagai “pahlawan”, bukan “pecundang”.

Sebab penilaian moral pada suatu tokoh atau tindakan pada dasarnya dibentuk oleh sebuah pemahaman yang berasal dari sejarah. Dan dalam pemahaman yang dipengaruhi sejarah itu, kepentingan bangsa sendiri tentu saja diletakkan pada posisi moral yang secara ideal benar dan baik. Maka, ekspansi kekuasaan yang dilakukan oleh suatu bangsa bisa dibenarkan secara moral oleh bangsa itu walaupun bagi bangsa lainnya ekspansi yang demikian adalah sebuah kolonialisme.

Kita melihat hal ini terjadi pada apa yang dilakukan Amerika Serikat pada Irak, Afghanistan, dan beberapa bulan terakhir ini pada Iran dan Korea Utara. Betapa nilai moral adalah sesuatu yang sebenarnya berada dalam proses sejarah yang tak mungkin diisolasi secara suci dari berbagai kemunafikan dan kepentingan sendiri.

Saya kira, pemahaman yang demikian ini yang tak ada pada Soni Farid Maulana ketika dengan gagah dan sedikit patriotik ia menulis sebuah sajak berjudul “Dari Sebuah Museum Den Haag”. Sajak yang dibuat tahun 1999 itu adalah semacam kegeraman, yang sayang sekali, bersifat dangkal. Dangkal karena ia menyangka bahwa moral adalah sesuatu yang bisa terus berada dalam kondisi “universal” dan oleh karenanya selalu ada pihak yang “salah” dan “benar” secara universal pula.

Inilah dua bait awal yang ditulis Soni:

mengapa aku menggigil tiba-tiba
membaca sejumlah nama
yang mereka sebut pahlawan?

dari celah rangkaian huruf biografi mereka
ada kental air mata, dan amis darah
nenek moyangku, yang mereka bantai
di sebuah pesisir dan bukit pasir


Saya kira maksud Soni jelas: hendak menunjukkan bahwa mereka yang disebut sebagai pahlawan oleh orang-orang Belanda adalah mereka yang juga menjadi pembantai bangsa kita. Soni hendak mempertegas jarak antara kita sebagai bangsa yang dijajah, dan mereka sebagai pihak penjajah. Sejak bait pertama, agaknya penyair itu sudah memendam kegeraman yang disimbolkan dengan frasa “menggigil tiba-tiba”. Ia seakan tertelan kemarahan pada bangsa lain karena noda sejarah lampau yang bahkan sebenarnya hanya ia dapati jejaknya dari file sejarah. Dan marah pada mereka yang oleh orang Belanda disebut sebagai “pahlawan” juga berarti setia dan iba pada bangsa sendiri. Demikianlah, batas makin tegas.

Bait kedua adalah semacam penjelasan maksud dari kemarahan yang “tiba-tiba” itu. Pilihan kata Soni makin menguatkan bahwa penyair ini berada dalam pilihan moral yang sudah pasti dan tak lagi dalam kondisi tegang. Ia agaknya sudah selesai jadi pencari dan memilih duduk nyaman dalam posisi yang sebenarnya tak baik bagi seorang seniman. Kata “air mata” yang “kental” dan “amis darah” adalah kata-kata yang khas pada sajak-sajak pamflet perlawanan yang marah pada satu pihak seraya iba pada diri sendiri. Sajak-sajak itu, saya kira, bukan sebuah sajak yang istimewa kecuali sebagai propaganda kecintaan pada diri sendiri. Kata “bantai” dalam bait ini adalah kata yang menyimbolkan pihak mereka sebagai pihak yang biadab, dan tak bermoral. Dan secara tak langsung, ia hendak mengatakan bahwa kita yang “dibantai” adalah kita yang “bermoral” dan “baik” sehingga patut dibela dengan kata dan semangat yang menggebu-gebu.

Di dua bait terakhir sajak itu, Soni makin tegas memilah:

gadis-gadis remaja, kekayaan alam,
dan hasil bumi; mereka embat juga. “Perampok?
tidak, mereka adalah pahlawan bagi bangsa
dan negeri kami!” katanya, sambil tak bosan-bosannya.

bercerita bahwa bangsanya adalah bangsa yang ramah
tidak seperti ular lemah? Padahal sekali ular itu mematuk;
maut rekah di tubuhku. Kubur-kubur berlayar ke arahku


Membaca bait ketiga kita tahu bahwa Soni hendak menambah daftar “dosa” mereka yang bukan kita sekaligus menambah alasan kenapa kita berhak “marah”. Pelukisan betapa bejatnya mereka yang “mengembat gadis-gadis remaja, kekayaan alam, dan hasil bumi” itu disandingkan dengan “kenaifan bodoh” dari anak turun para “pendosa” itu yang berpendapat bahwa “para pendosa” itu adalah “pahlawan”.

Lengkap sudah. Soni bukan hanya membejat-membejatkan para tokoh yang dulu benar-benar menjajah bangsa kita tapi hendak pula menyerang anak turun mereka. Di sini, Soni agaknya kebablasan. Kemarahan dan rasa ibanya agaknya membuat ia lupa bahwa semua yang dilihatnya di dalam sebuah museum tadi adalah semua yang tak suci dari sejarah dan kekuasaan. Soni lupa bahwa pemahaman akan moral hampir selalu ditentukan oleh pemahaman akan sejarah. Saya kira, pada titik ini, Soni menyajikan sebuah refleksi yang dangkal.

Dengan mengatakan bahwa saya tak setuju dengan Soni, saya tak hendak mengambil kesimpulan bahwa kekejaman Belanda pada kita patut kita lupakan begitu saja. Saya juga tak hendak mengatakan bahwa kita tak perlu bersimpati pada nenek moyang kita yang dulu dengan kejam dijajah Belanda. Tapi soalnya ada dua. Pertama, keinginan membela bangsa sendiri, saya kira, tak harus membuat kita jadi berpikir secara dangkal. Kedua, mengingatkan soal kekejaman Belanda, bagi saya, bukan terutama-tama tugas sajak. Sajak, sebagai sebuah ekspresi estetis, seharusnya mampu melahirkan sesuatu yang lebih dari “propaganda” dan ungkapan patriotik yang bombastis tapi banal.

Sukoharjo, 24 Oktober 2007
Haris Firdaus

1 comments:

-Filantropy- October 25, 2007 at 3:21:00 AM GMT+8  

Kurasa mungkin juga begitu, mas Haris... Mungkin perlu banyak lagi saya menelaah dan belajar dari karya2 sampean ini. Selain imajinatif, juga sugestif.
Benar kata mas HAH, "Pembacaan, dan penafsiaran yang cerdas." Dan, kukira juga begitu.

--
Salam kreatifitas

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP