Yogya, Puisi, dan Lain Sebagainya (1)

>> Friday, August 17, 2007



Pagi itu, sekitar jam delapan kurang sepuluh menit, akhirnya saya tiba di Taman Budaya Yogyakarta (TBY). Lega, begitulah saya mengucap dalam hati. Setelah menempuh jarak Solo-Yogya sepanjang hampir 70 kilometer dengan sepeda motor, akhirnya saya bisa menemukan tempat itu. Tentu bukan suatu yang benar-benar istimewa sebenarnya, tapi tetap saja hal itu membersitkan sedikit kegembiraan.

Suasana di depan TBY masih sepi. Hanya ada beberapa lelaki yang agaknya biasa tidur di depan TBY. Sebagian mereka sudah bangun. Sebagian lain masih meringkuk di bawah sebuah pohon. Beberapa saat kemudian, saya lihat salah seorang dari mereka membeli nasi bungkus dan teh dalam wadah plastik. Kemudian, menggunakan tangan yang dilapisi plastik bening, ia mulai memakan nasi yang berlauk entah apa. Saya menggumam, “Oh, beginilah mereka hidup.”

Sambil menunggu kawan saya, saya duduk di depan TBY dan mengeluarkan sebuah buku: semacam jurnal yang diterbitkan oleh sebuah organisasi pergerakan mahasiswa di Solo. Saya baca satu tulisan yang sebenarnya ringan, namun justru dibuat rumit oleh gaya bahasa yang barangkali sengaja dibikin “indah” atau “ilmiah”. Jurnal itu mungkin bentuk kegagapan pada budaya tulis sebenarnya. Tapi, tak apa, toh segalanya selalu dimulai dengan kegagapan.

Lama saya menunggu kawan saya (yang dalam tulisan ini akan saya beri inisial “kaw”). Sebagian besar tulisan dalam jurnal tadi sudah saya sikat. Sebuah tulisan tentang perubahan sosial (duh “besarnya” frasa itu), sebuah tulisan tentang kader Muhammadiyah yang “subversif”, sebuah tulisan tentang kesalehan pribadi yang tak berkorelasi dengan kesalehan sosial, sudah saya habiskan. Cuma, kawan saya itu belum datang juga (kelak, ia mohon maaf kok atas kedatangannya yang lama).

Lalu saya mencoba memperhatikan sekeliling. Di samping TBY adalah kompleks toko buku yang terkenal di Yogya. Saya tak tahu nama resminya, tapi orang biasa menyebut dengan “Shoping”. Di median jalan di depan TBY, di mana terdapat kursi-kursi, beberapa orang bergerombol. Lelaki dan perempuan setengah tua. Belum mandi, berpakaian kusut, dan rambut yang belum disentuh ujung sisir. Mereka ngborol dengan topik yang entah, sambil sesekali mengambil biskuit dari kaleng yang ada di depan mereka, lalu mengunyahnya. Saya bayangkan biskuit cokelat itu masuk ke mulut mereka, bersentuhan dengan lidah mereka yang merah, dan dikremus oleh gigi-gigi kuning yang belum tersentuh sikat dan pasta gigi. Tapi, saya segera buyarkan bayangan itu.

Kaw belum juga datang. Saya memperhatikan sebuah spanduk yang terbentang di atas gerbang masuk TBY. Ada dua acara dalam satu spanduk. Pertama, diskusi menelusuri sejarah puisi di Yogya. Kedua, musikalisasi dan baca puisi. Yang pertama menghadirkan Cak Nun, Faruk HT, dan Suminto A Sayuti. Yang kedua, menghadirkan penyair yang jadi idola saya: Joko Pinurbo. Beserta Dina Oktavia (penyair muda ini juga menarik minat saya), Bakdi Soemanto, Abidah El Khaliqei, dan beberapa pengisi lain.

Yang pertama dilaksanakan hari itu (hari yang menjadi setting cerita ini), yang kedua esok malamnya. Saya hanya akan hadir pada acara pertama. Meski tahu bahwa sebenarnya sayang melewatkan Jokpin membaca “celana-celananya”, tapi apa boleh buat. Esok harinya, saya dibikin iri oleh sms dari kaw yang menyaksikan musikalisasi puisi itu. Katanya, Jokpin benar-benar hebat membaca “celana” miliknya. Tapi keirian saya reda setelah ia berkata dalam sms yang lebih kemudian: “Aku ngrekam Jokpin baca puisi. Kapan2 kita nonton.” Dan di rumah, sambil menonton film Van Helsing, saya berteriak tak terlalu keras: “Horeee!”
***

Pada awalnya, ruang seminar di TBY tak banyak didatangi orang. Cuma beberapa yang hadir. Saya dan kaw (yang akhirnya datang lalu mengucap: “Ah, jadi juga kamu ke Yogya!” sambil tertawa lebar) memilih duduk di kursi agak depan. Menanti acara restropeksi puisi itu dimulai. Pembukaan pun dilakukan. Oleh seorang perempuan berseragam batik. Mungkin dia PNS. Lalu, setelah sambutan, acara diskors, untuk mengambil minum dan makanan kecil.

Saya dan kaw sama-sama tersenyum: horee ada makanan! Setelah mengambil makanan kecil dengan porsi yang kata kaw seperti “anak kos”, saya kembali duduk di ruangan. Khidmat menanti acara mulai. Berturut-turut setelah itu, Cak Nun datang dan naik ke kursi pembicara. Indra Tranggono yang jadi moderator juga menyusul bersama Suminto A Sayuti. Faruk HT belum datang.

Lalu, diskusi dimulai dengan paparan dari Indra. Saya menyukai gaya bicara Indra yang tenang, mantap, namun berisi. Belakangan, saya tahu pria agak gemuk dan keriting ini ternyata pembawa acara budaya di Jogja TV. “Pantas saya merasa pernah melihat ia sebelumnya,” bisik saya pada kaw.

Diskusi mulai dari Cak Nun yang (seharusnya) berbicara soal kondisi perpuisian Yogya tahun 70-an tapi ngelantur sampai menyinggung polemik Taufik Ismail dan Hudan Hidayat. Cak Nun tentu saja tetap bicara soal wadah itu: Persada Study Klub (PSK), sebuah wadah kumpul-kumpul penyair yang melegenda di Yogya dan bahkan di Indonesia. Dari PSK, atas asuhan penyair Umbu Landu Pangranggi (saya tak tahu apa saya benar mengeja nama penyair ini), lahir nama-nama Emha Ainun Najib, Linus Suryadi, Iman Budi, dll. Kelak ketika Umbu pindah ke Bali, ia juga melahirkan Raudal Tanjung Banua yang pagi itu duduk di kursi paling depan dalam diskusi itu.

Saya tahu Cak Nun beromantisme dengan masa lalu. Apa yang saya kagumi dari Cak Nun adalah pendapatnya bahwa bersastra bukan sekedar aktivitas berkarya dan melakukan pencapaian estetis tertentu, tapi juga sebuah aktivitas yang penuh nilai kemanusiaan. Ya, di tahun 70-an, kata Cak Nun, para penyair di Yogya memiliki ikatan persaudaraan yang kuat. Mereka memang kadang berseteru dalam pendapat atau dalam hal lain (seperti rebutan pacar), tapi mereka tetap bersaudara. Ikatan mereka kuat karena rasa kemanusiaan yang besar.

Lalu, Cak Nun bercerita soal tudingan bahwa dirinya berselisih dengan Linus. Duh, saya lihat betapa sedihnya pimpinan Kiyai Kanjeng itu ketika menceritakan soal tudingan itu. Sebabnya, ia bukan hanya tak pernah berselisih dengan penulis “Pengakuan Pariyem” itu, tapi justru mereka sudah sangat karib bagai saudara. “Saat Linus sakit, sayalah yang disuruh Pak Kayam (Umar Kayam) untuk merawatnya,” kata Emha. Maka, “Tak usahlah ada Emha, tak usahlah ada Linus, yang penting ada kemanusiaan,” katanya lagi.

Saya terhenyak, dan terharu. Betapa kondisi sastra tahun 70-an di Yogya memang penuh hal-hal indah dan romantis, bukan hanya dalam karya-karya yang hadir, tapi juga dalam hubungan sosial antar penulisnya. Hari itu, para pembicara justru tak banyak bicara soal pencapaian estetis apa yang telah digapai para penyair Yogya tahun 70-an, tapi mereka bernostalgia dengan pengalaman masa lalu, tentang bagaimana hubungan antar sastrawan dibangun, tentang kelakuan masing-masing, dan tentang hal-hal personal yang begitu indah sehingga hampir-hampir tampak sebagai “mitos”.

Sukoharjo, 17 Agustus 2007
Haris Firdaus

1 comments:

Anonymous September 25, 2008 at 3:25:00 PM GMT+8  

(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
(Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan, HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan.

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik), lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil).

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy of Definition, yaitu logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya, bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru.

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP