Sakit Rumah

>> Monday, July 16, 2007




Saya tak tahu apa terjemahan yang pas untuk frasa “home sick”. Saya kira, kalau diterjemahkan secara lugas, tentu tak pas: masak sih ada “sakit rumah”? Ah, sebagian kita mungkin tahu bahwa “home sick” adalah sebuah frasa untuk menggambarkan gejala “kangen rumah” oleh seseorang yang biasanya sedang berada di tempat yang jauh dari rumah. Tentu, bukan saja si rumah yang dikangeni. Mereka yang penghuni rumah juga masuk jadi bagian dari alasan kenapa orang bisa mengalami “kangen rumah”.

Kebiasaan berkumpul dengan keluarga, serta kebiasaan untuk “dekat” dan mencurahkan isi hati pada mereka adalah alasan yang biasanya membuat seseorang “home sick”. Ya, kalau seseorang tak pernah merasakan nyaman di rumah, mana bisa ia kangen sama rumahnya? Kenyamanan adalah sebuah perasaan yang mahal, atau bahkan mungkin tak bakal bisa dibeli. Ia muncul dalam sebuah kondisi yang kadang kita juga tak paham kenapa. Barangkali intensitas berinteraksi dan lamanya kita mengenal suatu lingkungan akan memengaruhi kenyamanan kita di suatu lingkungan.

Terkadang, ketika kita berada di sebuah lingkungan baru, kenyamanan belum bisa timbul seketika. Butuh proses yang lama, usaha yang tak mudah, atau waktu yang panjang buat kita bisa merasa nyaman. Seringkali kita merasa salah tingkah, kesepian, sendiri, atau tak punya orang yang mengerti. Pada saat itu, kita kemudian akan mengenang lingkungan kita dulu, di mana kita merasa nyaman. Kalau kita merasa nyaman saat ada di rumah dan ada di tengah keluarga, maka besar kemungkinan kita akan merasakan “home sick”.

Saya tak tahu, adakah ini gejala psikologi. Tapi memilah perasaan manusia dalam gejala-gejala berdasar disiplin ilmu, bukan suatu yang merupakan kesukaan saya. Selain karena tak mampu, tentu ada sebuah penyederhanaan ketika kita berusaha memilah-milah perasaan itu.

Lalu, kenapa semua pembicaraan ini dilakukan? Tak lain dan tak bukan karena seorang kawan. Ya, seorang kawan yang selalu mengatakan pada saya bahwa dirinya menderita “home sick”. Kawan saya itu kini sedang ada di Yogyakarta, selama sekitar dua bulan. Keluarganya, ada di Sukoharjo, sebuah kabupaten dekat Solo. Iya sih, Sukoharjo dan Yogya bukan dua kota yang berjarak jauh. Barangkali sekitar 70 km lebih sedikit. Tapi kawan saya itu beberapa kali mengatakan pada saya bahwa ia menderita “home sick”. Ia kangen dan mungkin ingin berada di rumah.

Selama dua minggu awal di Yogya, tiap minggu kawan saya itu “terpaksa” pulang ke Sukoharjo untuk mengobati “sakit” nya itu. Meski untuk pulang, kata dia, ia harus rela merogoh kocek karena ia mesti naik kereta api, dilanjutkan dengan bus, juga harus membayar penitipan motornya di Stasiun Tugu. Tapi tentu saja, semua biaya tadi adalah biaya yang sah dan bisa dianggap murah bila “sakit” nya benar-benar terobati.

Cuma sayang, kawan saya tak pernah benar-benar menjelaskan kenapa ia bisa menderita “home sick”. Ia hanya sering mengatakan, “Lagi home sick”, tanpa menyebut alasan. Mungkin karena suasana rumahnya yang nyaman, atau karena hubungannya yang terlampau dekat dengan keluarga. Di rumah, saya tak tahu apa saja yang ia lakukan. Adakah ia akan seharian di rumah, ngobrol dengan anggota keluarganya, bercanda dengan kakaknya, atau sekedar “mencium” bau rumahnya. Proses pengobatan “home sick”, barangkali itulah yang masih jadi misteri. Bagaimana seseorang bisa sembuh?

Apakah begitu dia menginjakkan kaki di rumah, ia akan langsung terobati? Apakah ia butuh berlama-lama berdiam di rumah, menikmati suasana rumahnya, atau harus menangis-nangis di depan keluarganya dulu? Saya kira kawan saya tak melakukan yang terakhir. Ia mungkin berdiam dan berusaha menikmati suasana rumahnya, sekedar ngobrol dengan kakak, ibu, atau bapaknya. Lalu esoknya, ia akan kembali lagi ke Yogya. Kembali menjalani suasana yang jauh dari rumah, jauh dari keluarga.

Ah, barangkali fenomena “home sick” menunjukkan tiap orang perlu sebuah “rumah”. Bukan hanya dalam arti fisik, tapi juga sebagai sebuah teritori yang mampu menaungi perasaannya. Ya, bukankah pada akhirnya kita butuh menenangkan perasaan kita sendiri? Bukankah pada akhirnya seseorang perlu sebuah keyakinan bahwa dirinya “baik-baik saja”?

Dan penenangan diri itu bisa dilakukan dengan cara pulang ke rumah. Kawan saya telah melakukan itu, dan ia tenang. Ah, semoga saya juga menemukan ketenangan itu. Dengan cara lain, sebab saat ini saya belum bisa pulang ke rumah.

Semarang, 16 Juli 2007
Haris Firdaus

6 comments:

Raida July 17, 2007 at 1:19:00 AM GMT+8  

menurut daku pribadi se..salah satu faktor utama terjadinya home sick karna mereka belum sepenuhnya menerima keberadaan di tempat barunya.

pa lagi anak2 kost, di rumah kebiasaan serba ada n pas sendiri kudu nyiapin apa2 sendiri, tuk mengobatinya bisa dengan beberapa cara semisal nyari kegiatan baru ato pacar di tempat yg baru wakakkaka...

CempLuk July 17, 2007 at 1:22:00 PM GMT+8  

home sick ma wajar..gmana kita entah jadi anak kuliah, kerja, atau apalah kemudian berpisah di ujung nan jauh..kan jadi kangen dan kangen itu wajar kan ..

haris July 17, 2007 at 7:32:00 PM GMT+8  

wah, pendapat raida boleh juga. cari pacar di tempat baru. ha2. tapi pertanyaannya: siapa yang mau? ha2

Anonymous July 18, 2007 at 1:38:00 AM GMT+8  

pasti rumah adalah tempat yang paling nyaman buat yang sering homesick.., penghuninya, makannya, suasananya,...dst,..dst... tulisan yang bagus. terus berkarya yah.

Bakhrian syah July 18, 2007 at 10:12:00 AM GMT+8  

numpang komentar ya... dan salam kenal...

Menurut ilmu psikologi... kepindahan seseorang ke suatu tempat yang baru memang mengakibatkan stress... malah masuk dalam kategori major... disamakan dengan perceraian dan perkawinan pula... (????)..

Obatnya sih menurutku adalah waktu... dan mencoba menikmati tempat yang baru... dengan segala kelebihan dan kekurangannya... obat yang terbaik memang pulang ke "rumah".. ini kalo yang kost... atau temporary movement...

haris July 18, 2007 at 3:53:00 PM GMT+8  

wah beneran mas bahrian? bs dikategorikan sbg stres major? hiii menngerikan ni. salam kenal pula.

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP