Kloset

>> Wednesday, January 10, 2007

Haruskah kita memperlakukan hidup seperti buang air: menyiram semua yang kita “keluarkan” dengan tuntas, tanpa menyisakan apa-apa? Kalau iya, maka hidup yang seperti itu adalah sebuah hidup di atas kloset: sepi tapi bebas, sendirian tapi merdeka. Karena keterpencilannya, dan jauhnya ia dari jangkauan orang lain, kita bebas melakukan apapun di atas kloset. Kita bisa “mengenang, tersenyum, atau menangis”. Semua proses itu bisa kita lakukan tanpa perlu malu, sebab seperti sudah disebut, hidup dalam kloset adalah sebuah hidup yang sendirian tapi merdeka.

Lalu, seperti dalam puisi Rieke Dyah Pitaloka, kita bisa menyiram semua yang telah lewat sembari “bersiap menerima makanan baru yang lebih baik dari kemarin”. Agaknya Rieke adalah seorang yang ingin tegak memandang ke depan, tanpa tergoda buat menengok ke belakang. Kata-kata “siram” dalam sajaknya, Renungan Kloset, bisa juga diartikan sebagai “hapus”, atau malah “buang”. Dan Rieke menggunakan kata “semua” setelah kata “siram”. Artinya, Rieke ingin “menghapus” atau malah “membuang” semua yang telah lewat dalam hidup.

Dalam bait awal Renungan Kloset, sikap Rieke yang “menyiram semua” ini nampak lebih kentara. Perhatikan bait-bait ini:
Ada baiknya,
tak mencatat hidup
dalam lembarlembar buku harian


Buku harian adalah simbol sebuah “prasasti”, sebuah pahatan yang dalam arti tertentu bisa membalikkan kita ke masa lalu. Mencatat di buku harian berarti memulai sebuah hidup di mana pada saat tertentu kita sangat mungkin tertarik kembali ke masa lalu. Meski ada jarak yang jauh antara waktu menulis sebuah catatan dan waktu membacanya kembali, tapi catatan itu tetap punya efek. Memang, efek paling besar dari membaca catatan di buku harian yang telah lalu adalah “ingat”. Toh tak mungkin kita bisa kembali ke masa lalu secara fisik.

Tapi di situlah letak keberatan Rieke. Kita bisa “mengingat” tapi tak bisa “mengalami” lagi:
Suatu masa,
jika membacanya lagi
manis, membuat kita ingin kembali
pahit, membuat duka tak bisa lupa


Bait ini menjelaskan pada kita kenapa Rieke keberatan dengan buku harian. Rieke menggunakan kata “ingin” di depan kata “kembali”. Artinya, kita tak pernah bisa kembali ke masa lalu meski kenangan indah yang kita baca di catatan yang kita tulis membuat kita “ingin kembali”. Tentu penolakan ini didasari sebuah asumsi bahwa “ingin kembali” tapi tidak bisa adalah sebuah hal yang “menyakitkan”. Secara gampangan, memang seperti itu. Sebuah keinginan yang tidak terpenuhi, mungkin membuat kita kecewa. Demikian dengan kenangan pahit yang bila kita baca kembali membuat “duka tak bisa lupa”.

Intinya, kenangan apapun yang kita baca, pasti membuat kita seperti mengalami semacam “siksaan”. Kita mungkin kecewa membaca sebuah masa indah kita di masa lalu karena masa itu telah lewat dan kita tak bisa mengulanginya. Kalau kenangan indah membuat “siksaan” pada kita karena kita tak pernah bisa “mengulangnya”, kenangan buruk memberi “siksaan” pada kita begitu kita membacanya.

Sama-sama memberi “siksaan”, Rieke memilih tak mencatat keduanya. Yang baik atau buruk toh tak berakibat baik pada kita. Jadi, merenunglah di atas kloset, jangan di buku harian, kata Rieke. Tapi sajak Rieke mengasumsikan buku harian sebagai sebuah ruang pribadi yang tak tersentuh subyek lain. Ketika buku harian memang menjadi ruang yang sepenuhnya tak bisa disentuh orang lain, maka fungsi buku harian memang “hanya” menimbulkan kenangan. Tapi lain halnya bila buku harian itu adalah sebuah “jembatan” antara pemilik dan pihak lain. Ia akan berfungsi sebagai “pahatan yang mengenang” pemiliknya.

Sejarah pernah berkata demikian. Kita mengenal dua buku harian yang telah jadi fenomenal: yang satu milik Soe Hok Gie, yang lain milik Ahmad Wahib. Keduanya kita tahu, mati dalam umur yang belum beranjak tua. Dan tak ada niatan keduanya, saya kira, buat mempublikasikan buku harian mereka ke khalayak luas. Tapi jejak pemikiran dan refleksi yang terekam di buku harian itu, ternyata menggemparkan orang. Hok Gie dengan idealismenya yang humanis, dan Wahib dengan liberalisasi Islam-nya yang kontroversial.

Lalu kita tahu, banyak yang bisa kita petik dari catatan-catatan pribadi keduanya. Kalau saja keduanya merenung di atas kloset, maka saya bayangkan kita tak akan pernah mengenal mereka berdua. Atau setidaknya, kita telah melupakan mereka sejak lama. Jadi, pilih mana: buku harian atau kloset?

Sukoharjo, 10 Januari 2007
Haris Firdaus

2 comments:

Anonymous January 25, 2007 at 5:02:00 PM GMT+8  

kloset, tempat buat semedi skaligus cari inspirasi...
aq memilih keduanya, ya kloset ya diary. luckily tiap hari aq masi rajin bikin report of the day ataw what's new today..buat sdikit bikin lega ati sklaigus ngringanin beban dalam diri dan juga mrenung cari ilham di kloset juga tentunya.
banyak hal positif yg q dapat dari keduanya. salah satunya blajar utk ngungkapin pendapat/menghargai diri lebih, bljar mnulis. siapa tau bisa bikin blog jug ky kamu.huehue..
-azzah pecintah sepedah-

haris February 17, 2007 at 9:54:00 AM GMT+8  

tahnks azzah. kloset dan diary mungkin memang bisa hidup berdampingan. ha2

Post a Comment

  © Blogger template Wild Birds by Ourblogtemplates.com 2008

Back to TOP